Novel TranslationsAscending, Do Not DisturbAscending, Do Not Disturb Translation - Chapter 21

Ascending, Do Not Disturb Translation – Chapter 21 [INDONESIA]

- Advertisement -

Yue Xia Die Ying author Ascending, Do Not Disturb

Bab 21: Kong Hou Berkepala Burung Phoenix

Keesokan paginya, saat Wu Chuan pergi ke Puncak Qi Yue untuk menjemput Kong Hou pergi ke Aula Harta Pusaka, ia melihat Kong Hou telah khusus berdandan; bukan hanya ia mengenakan setelan rok yang cantik, bahkan rambutnya pun ditata dengan gaya Fei Xian Ji (53). Gurunya, Wang Tong, dan kedua murid langsung Puncak Qi Yue juga hadir di sana.

53. Model rambut yang seperti ini.

Mereka saling memberikan hormat, Wu Chuan melihat Kong Hou mengenakan sepasang sepatu brokat yang baru: “Shimei, penampilanmu…….”

Shixiong mengatakan bahwa di dalam Aula Harta Pusaka terdapat banyak senjata ajaib yang memiliki jiwa. Karena mereka memiliki jiwa, maka mereka memiliki pemikiran, memiliki pemikiran artinya mereka paham akan mana yang cantik dan mana yang jelek. Oleh karena itu aku berdandan sedikit, agar senjata-senjata ajaib itu lebih menghargaiku.” Menurut Kong Hou pemikirannya yang seperti ini cukup masuk akal, jangan sampai nanti dia masuk ke Aula Harta Pusaka dan tidak ada senjata ajaib yang cocok dengannya, pasti dia akan merasa malu sekali.

Mendengar perkataannya ini, Wu Chuan mengalihkan pandangannya ke arah Wang Tong dan dua muridnya yang lain, bagaimana sebenarnya ketiga orang ini biasanya mendidik shimei?

Kulit muka Wang Tong tebal, maka ia hanya berpura-pura tidak melihat tatapan mata Wu Chuan: “Muridku yang baik, tidak perlu khawatir, kamu pasti berhasil memilih senjata sukma ajaib tanpa kesulitan.”

Shishu, aku berangkat mengantar shimei.” Wu Chuan bertekad untuk memilih diam, dia tidak mau membuat marah Wang Tong shishu. Qing Yuan shishu yang dahulu itu membuat marah Wang Tong shishu, sampai sekarang pun masih sering dibalas hingga frustrasi oleh Wang Tong shishu.

“Pergilah.” Wang Tong meletakkan tangannya ke balik punggungnya, “Cheng Yi, Tan Feng, kalian ikutlah pergi menemani Kong Hou.”

“Baik, Guru.”

Kong Hou melihat ke arah kedua shixiong, lalu merasa dirinya sepertinya tidak lagi merasa cemas.

Bagi sekte Yunhua, Aula Harta Pusaka merupakan salah satu tempat yang penting. Ketiga Tetua di sekte ini tinggal di area seputar tempat ini. Jika ada orang jahat yang menerobos masuk ke susunan formasi besar di luar Aula Harta Pusaka, maka ketiga Tetua akan segera tahu.

Saat ada seorang murid di level Zhu Ji yang masuk untuk memilih senjata sukma ajaib, para ketiga Tetua juga akan hadir. Ini juga kali pertama bagi Kong Hou untuk bertemu dengan ketiga Tetua.

Tetua yang beberapa tahun belakangan ini tidak pernah kelihatan adalah seorang kultivator wanita berlevel Fen Shen. Meskipun rambutnya sudah memutih, namun wajahnya tidak menua, wajahnya yang cantik membuat Kong Hou tak mampu menahan diri untuk terus menatapnya.

“Salam hormat kepada Tetua Gu Yu, Tetua Shu Jiu, Tetua Qiu Shuang.” Wu Chuan membungkuk hormat kepada ketiga Tetua, “Junior membawa murid langsung dari Puncak Qi Yue bernama Kong Hou shimei untuk datang mendapatkan senjata ajaib.”

“Tidak perlu sungkan.” Tetua Gu Yu melihat ke arah Kong Hou yang berdiri di belakang Wu Chuan, lalu ia menganggukkan kepalanya dan berkata kepada Kong Hou, “Memasuki Aula Harta Pusaka, adalah untuk kamu memilih senjata ajaib dan juga untuk senjata ajaib memilihmu, semua ini adalah masalah nasib, tidak bisa dipaksakan.”

“Senjata ajaib yang berada di dalam ada sangat banyak jumlahnya, dengan kelas yang tidak sama satu sama lain. Namun apapun kelas senjata ajaib itu, sekali kamu memilihnya kamu tidak boleh menyesal. Mulai saat itu ia adalah setengah dari ragamu, sekutumu yang paling setia. Jikalau kamu menolak senjata ajaibmu sendiri, sama saja seperti menolak jalan hidup diri sendiri.” Qiu Shuang melanjutkan perkataan Gu Yu, “Ingat baik-baik, yang paling baik adalah saling menerima satu sama lain.”

“Junior akan mengingat ini baik-baik, terimakasih Tetua sudah mengingatkan.” Kong Hou memberikan salam hormat formal kepada para Tetua.

“Bagus kalau kau mengingatnya.” Qiu Shuang mengibaskan lengan bajunya, seketika pintu Aula Harta Pusaka terbuka, di balik pintu terlihat gelap gulita. Tetua Qiu Shuang tersenyum kepada Kong Hou, “Masuklah, tidak perlu takut.”

“Terimakasih Tetua.”

Kong Hou menoleh untuk melihat ke arah ketiga shixiong, lalu dengan perlahan ia berjalan memasuki pintu Aula Harta Pusaka. Melangkahi ambang pintu yang tinggi, ia kembali melihat ke belakangnya; pintu besar sudah tidak kelihatan lagi. Tetapi ia segera tidak mempedulikan hal itu lagi karena di sini terdapat sangat banyak sekali senjata ajaib, dengan berbagai macam bentuk yang luar biasa aneh, membuat matanya kewalahan untuk melihat semuanya.

Di atas kepalanya terdapat senjata ajaib yang mengeluarkan berbagai macam cahaya terbang kesana kemari. Di atas rak-rak terdapat harta pusaka yang mengambil wujud jepit rambut, vas bunga, kuas tulis, kipas dan berbagai benda lain. Semua benda-benda ini memancarkan cahaya terang yang membuktikan jati diri asli mereka sebagai senjata ajaib.

Yang paling membuat Kong Hou terkejut adalah di lantai terdapat senjata ajaib berbentuk batu bata dan tongkat batu yang bentuknya sangat biasa ibarat mereka diambil sembarang dari pegunungan. Kalau memiliki senjata ajaib macam ini, jangan-jangan saat sedang bertarung kita merasa malu untuk mengeluarkannya? Pantas saja Tetua Qiu Shuang secara khusus mengatakan kita tidak boleh menolak senjata ajaib kita sendiri.

Saat ia melihat senjata ajaib yang mirip seperti pispot tertumpuk di sudut, ia mengelu-elus dahinya, sepertinya langkah pertama untuk menjadi seorang kultivator yang hebat adalah mempersiapkan mental untuk bisa menerima berbagai macam senjata ajaib yang aneh.

Sebuah seruling giok berwarna putih yang cantik terbang perlahan di depan mata Kong Hou, Kong Hou menyentuhnya namun di dalam hatinya ada yang mengatakan kepadanya benda ini bukanlah miliknya, meskipun ia sangat indah.

Dari luar Aula Harta Pusaka hanyalah sebuah bangunan, namun begitu masuk ke dalam barulah terlihat bahwa ia adalah sebuah ruang tersendiri, orang yang berada di dalamnya terisolasi dari semua kebisingan di luar.

Kong Hou duduk bersila, dan menutup kedua matanya. Dia mendengar begitu banyak suara, ada pedang yang mengeluarkan suara getaran, ada suara kendi labu yang sedang berguling, dan juga suara musik dari kecapi dan seruling.

Entah berapa lama waktu berlalu, ia mendengar suara yang murni dan lembut, seperti suara gelombang air bergetar, seperti kepingan salju yang melayang, seperti gemericik mata air yang mengalir. Suara ini, pernah ia dengar sebelumnya, terdengar familiar di telinga. Mengingat kembali masa lalunya, hatinya terasa rumit, begitu ia membuka matanya ia melihat sebuah alat musik berkepala burung Phoenix melayang di hadapannya. Ia julurkan tangannya perlahan untuk membelai senar-senar di atasnya.

Kong hou berkepala burung Phoenix.

Pada tubuh alat musik kong hou itu terukir sebuah burung Phoenix berwarna emas, burung Phoenix itu sendiri mengeluarkan cahaya dengan 5 sinar, sepasang matanya terlihat hidup, lurus menatap ke dalam hati Kong Hou. Saat tangannya menyentuh kepala burung Phoenix, seketika senjata ajaib ini berubah panjangnya menjadi setengah panjang lengannya, dan dengan tenang berbaring di atas tangan Kong Hou.

“Aku mendapatkan namaku dari sebuah alat musik kong hou berkepala burung Phoenix, tak disangka pada akhirnya aku mendapatkan senjata ajaib yang juga berupa sebuah kong hou berkepala burung Phoenix.”

Kong Hou mengusap ukiran burung Phoenix di atas senjata ajaib itu, lalu ia teringat akan masa lalu tentang bagaimana ayahanda kaisar nya yang tenggelam dalam kesenangan dan kenikmatannya akan alat-alat musik, hingga ia tidak mempedulikan permaisurinya, tidak mempedulikan dia dan juga tidak mempedulikan negara, tiba-tiba ia tertawa.

“Aku dan kong hou memang benar-benar berjodoh.” Kong Hou bangkit dari duduknya, ia genggam erat kong hou berkepala burung Phoenix, dan mendengar senarnya mengeluarkan suara yang berirama merdu di telinga, sepertinya ia sangat senang Kong Hou akan membawanya pergi.

Kong Hou memetik senarnya secara sembarang dan senar tersebut justru mengeluarkan aliran energi yang begitu kuat, senjata ajaib yang berada di sekeliling mereka semua menyingkir, mereka sepertinya khawatir aliran energi yang dikeluarkan oleh kong hou burung Phoenix bisa melukai mereka.

“Namaku Kong Hou, namamu juga Kong Hou, bagamaina nanti cara membedakannya?” Kong Hou meletakkan tangannya di atas senar untuk menghentikan getarannya, “Berikutnya aku akan memanggilmu ‘Feng Shou’(54).” Setelah ia mengatakan ini, ia tidak menunggu reaksi dari kong hou berkepala burung Phoenix, dan ia tepuk-tepuk pinggangnya, “Begitu sajalah.”

54. Berkepala burung Phoenix artinya yaitu 凤首 Fèng shǒu. Ketimbang dipanggil ‘Kepala Phoenix’, kayaknya gak banget deh ya -_-

Shixiong, kenapa shimei belum juga keluar?” Tan Feng menatap ke arah pintu besar Aula Harta Pusaka, hatinya merasa sedikit gelisah, dia sudah menunggu sehari semalam, mengapa masih belum ada pergerakan juga. Saat itu ketika dia pergi memilih senjata ajaibnya, bahkan tidak sampai 2 jam sudah selesai.

Baik Wu Chuan dan Cheng Yi berlatih ilmu pedang, pedang senjata sukma mereka semuanya mereka tempa sendiri, oleh karena itu mereka tidak perlu pergi ke Aula Harta Pusaka untuk memilih senjata sukma ajaib mereka. Mendengar keluhan Tan Feng, mereka berdua juga tentu menjadi khawatir, hanya saja karakter mereka lebih tenang dibandingkan Tan Feng sehingga tidak terlihat dari luar.

“Sudah keluar.”

“Shimei?!” Tan Feng berjalan beberapa langkah ke depan, dan melihat benda seperti burung Phoenix tetapi seperti alat musik harpa di tangan Kong Hou, dan langkahnya terhenti: “Kecapi?”

“Bukan, itu adalah alat musik kong hou.”

Tan Feng menoleh melihat ke arah Wu Chuan, shixiong apakah bodoh atau bagaimana, tentu saja dia tahu itu adalah shimei Kong Hou.

“Maksudku adalah senjata ajaib di tangan shimei.” Wu Chuan berkata dengan berwajah lurus, “Kong hou berkepala burung Phoenix (55).”

55. Seperti ini bentuknya

Di Dunia Kultivasi, semuanya yang berhubungan dengan naga dan burung phoenix, apalagi senjata ajaib yang memiliki kesadaran spiritual, membawa aura yang misterius.

Seseorang yang memiliki senjata sukma ajaib yang seperti ini, sepertinya tersentuh oleh suatu keberuntungan yang ajaib; antara dia memilki kehidupan yang cemerlang, atau memiliki kehidupan yang penuh dengan berbagai kesulitan.

 

The Dewi
The Dewi
"I am so clever that sometimes I don't understand a single word I'm saying"

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

error: Content is protected !!