Novel TranslationsAscending, Do Not DisturbAscending, Do Not Disturb Translation - Chapter 4

Ascending, Do Not Disturb Translation – Chapter 4 [INDONESIA]

Yue Xia Die Ying author Ascending, Do Not Disturb

Bab 4: Angpao Malam Tahun Baru

Para murid berjalan menuju Wang Tong dengan perasaan gelisah, dan mereka mendeteksi ada yang tidak biasa dengan pernapasan guru mereka. Sepertinya kini lebih tertahan, sehingga orang lain….. tidak bisa melihat level kekuatannya.

Kong Hou menoleh dan melihat dua orang pemuda dengan cemas menatap kepadanya. Ia pun lalu menyembuyikan daging kelinci di balik badannya sembari berhati-hati tidak berkata apapun kepada mereka. Dari waktu ke waktu, bintang-bintang di langit terus berpendar dan jatuh ke bawah, suasana saat ini menjadi tegang.

Melihat gadis kecil dalam dekapan Guru mereka, Cheng Yi dan Tan Feng tercengang. Tidak apalah Guru pergi menuju Dunia Fana untuk menghadapi Ujian Hatinya, tetapi mengapa beliau menculik seorang anak kecil? Cheng Yi lebih tua beberapa tahun dari Tan Feng, pemikirannya lebih tenang, dia melangkah maju dan memberi hormat: “Murid ini menyambut kepulangan Guru.”

“Dua muridku yang pintar sudah datang rupanya.” Melihat dua muridnya datang, Wang Tong membuang tulang di tangannya ke tanah. Lalu dia bangun dan meletakkan tangannya di balik punggungnya kemudian memandang ke arah dua orang saudara seperguruan itu, “Selama Guru tinggal pergi beberapa tahun ini, kalian telah membuat terobosan (TN: terobosan dalam berlatih ilmu). Sepertinya kalian tidak pernah bermalas-malasan, ini sangat bagus, sangat bagus.”

Kedua saudara seperguruan itu melihat ke arah tulang yang berserakan di tanah: “Kami tidak berani melupakan ajaran dari Guru.”

“Mmn.” Wang Tong menganggukkan kepalanya tanda puas, dia ingin mengusap-usap jenggotnya yang putih seperti salju tetapi teringat tangannya masih berminyak, oleh karena itu ia turunkan tangannya kembali. Cheng Yi mengeluarkan sapu tangan dan memberikannya kepada Wang Tong, namun Wang Tong hanya diam saja setelah menerima sapu tangan itu dan justru melihat ke arah Tan Feng sembari tersenyum.

Tan Feng merogoh-rogoh lengan bajunya, dan juga mengeluarkan sehelai sapu tangan.

Sebagai guru yang murah hati, Wang Tong tanpa ragu memberikan sehelai sapu tangan kepada Kong Hou. Ia menunggu sampai Kong Hou selesai mengelap tangannya sampai bersih, kemudian berkata: “Mereka berdua adalah kakak seperguruanmu. Shixiong (14) tertua bernama Cheng Yi, shixiong kedua bernama Tan Feng.”

14. 师兄 Shīxiōng adalah kakak seperguruan. Tapi istilah ‘kakak’ seringkali ditujukan untuk perempuan, sementara mereka adalah laki-laki. Jadi ke depannya, kita gunakan istilah ‘shixiong’ saja ya.

Mendengar ini, Kong Hou langsung berdiri tegak dan memberikan hormat kepada mereka berdua sesuai tata krama dengan saksama: “Kong Hou memberi hormat kepada kedua shixiong.” Diam-diam ia mengamati kedua shixiong ini dan memberikan penilaian. Shixiong tertua yang bernama Cheng Yi, orangnya berwajah tampan, terlihat dewasa dan tenang. Shixiong kedua yang bernama Tan Feng, kulitnya putih bersih, dan ketika tersenyum terlihat sangat ramah.

“Ini adalah murid yang Guru bawa dari Dunia Fana, namanya Kong Hou. Setelah kembali pulang nanti, Guru akan memilih hari yang baik untuk mengadakan upacara pelantikan murid, menandakan ia telah masuk ke dalam sekte kita.”

Cheng Yi dan Tan Feng merasa sedikit aneh melihat guru mereka membawa seorang gadis kecil dari Dunia Fana tanpa dipikir matang-matang. Tetapi berhadapan dengan wajah anak kecil tersebut, mereka tidak banyak pertanyaan, sebab mereka khawatir si anak kecil akan berpikir macam-macam. Cheng Yi berlutut di depannya, sehingga arah pandangnya sama rata dengan Kong Hou: “Halo shimei (15) kecil.”

15. 师妹 Shīmèi adalah panggilan untuk adik perempuan yang seperguruan. Ke depannya aku akan menggunakan istilah shimei, supaya sepadan dengan shixiong.

“Halo shixiong.” Kong Hou melepaskan genggamannya dari ujung baju Wang Tong, lalu menyipitkan matanya dan tersenyum kepada Cheng Yi.

“Aku tidak tahu shimei kecil akan datang hari ini, karena itu aku dan Tan Feng belum mempersiapkan hadiah pertemuan apa-apa, shimei kecil jangan marah ya.” Cheng Yi tampak seperti baru berusia 20an tahun, tetapi sebenarnya sudah berusia di atas seratus tahun. Terhadap makhluk kecil berusia muda yang imut menggemaskan, secara alami ia merasa suka.

“Tidak apa-apa.” Kong Hou meremas-remas kantong kosong yang diikatkan di pinggangnya, “Aku juga tidak mempersiapkan hadiah pertemuan apa-apa.”

“Aku dan shixiong tertuamu adalah orang-orang yang sudah berusia di atas 100 tahun, masa’ masih membutuhkan hadiah dari seorang anak kecil sepertimu?” Tan Feng membungkuk dan merentangkan kedua lengannya, “Malam ini sangat ramai, ayuk, shixiong kedua ajak kamu pergi berbelanja.”

Kong Hou berminat, namun kakinya tetap tegap berdiri, ia menoleh menatap Wang Tong.

“Pergilah.” Wang Tong mengangguk sembari tersenyum. Barulah Kong Hou dengan perlahan melangkah ke depan Tan Feng, kemudian ia diangkat oleh Tan Feng.

Kong Hou menutup wajahnya: “Shixiong kedua, sebentar lagi aku berumur 10 tahun.” Semenjak ia berusia 6 tahun, dia tidak pernah digendong siapapun lagi. Lalu keluarga Ji jatuh, dan dia sebagai putri dinasti sebelumnya yang dianggap tidak penting, terlebih lagi tidak bisa bermanja-manja. Pada perjamuan makan malam saat itu, karena emosinya terlalu bergejolak, dia tidak merasa kenapa-kenapa ketika Guru membopongnya. Tetapi sekarang setelah dia merasa tenang kembali, dia merasa sedikit malu.

“Mmn. Sebentar lagi usia ku 160 tahun, lebih tua 150 tahun darimu.” Tan Feng meilhat pedagang asongan menjual kue yang akhir-akhir ini banyak disukai semua anak kecil. Baru saja ia mengeluarkan batu spiritual untuk membelinya, Kong Hou malah menarik lengan bajunya, kemudian berbisik di telinganya: “Shixiong kedua, kata Guru, kue yang dijual di luar tidak bersih.”

“Tidak apa, kita beli dan cicip sedikit.” Tan Feng memberikan 5 batu spiritual kepada si pedagang lalu memberikan kotak-kotak kue itu ke dekapan Kong Hou, “Ayuk, dicoba.”

Guru bisa mengajak shimei kecil untuk makan daging kelinci panggang seharga 20 koin giok, mana mungkin menganggap kue yang seharga 3 batu spiritual sekotak tidak bersih. Jelas-jelas itu karena dia tidak punya uang di kantongnya, tapi malah membohongi anak kecil.

Kong Hou mendekap dua kotak kue dan menatap Tan Feng sembari tersenyum. Guru adalah orang yang baik, shixiong juga orang yang baik.

Dunia Kultivasi benar-benar indah.

Dari kejauhan Wang Tong melihat muridnya mengajak Kong Hou untuk membeli kue yang barusan saja tidak dia beli. Dia elus-elus hidungnya dengan merasa tidak nyaman.

“Bertahun-tahun lamanya Guru pergi ke Dunia Fana, aku dan Tan Feng sangat khawatir, apakah….” Ada yang Cheng Yi sedikit tidak berani untuk tanyakan. Sudah 400 tahun Guru terhenti kultivasinya di level Jin Dan (16). Kalau tahun ini tetap tidak bisa ditembus, maka Guru hanya memiliki masa hidup kurang dari 10 tahun.

16. 金丹 Jīn dān merupakan salah satu level dalam ilmu kultivasi Tao, sama seperti Yuan Ying, namun Yuan Ying adalah level yang lebih tinggi daripada Jin Dan.

Sebelum mencapai level Jin Dan, Guru adalah seorang kultivator berbakat yang langka dalam 500 tahun. Namun tidak ada yang menyangka, dia justru terbentur oleh kondisi hatinya. Konon katanya saat Guru belum menempuh jalan untuk berkultivasi, keluarganya berjualan lukisan gulali, bahkan pernah menerima pujian dari pejabat tingkat satu (17). Guru yang saat itu masih muda dan bodoh, pernah memiliki cita-cita tinggi, yaitu lukisan gulali yang dibuatnya akan disukai bahkan oleh orang-orang di istana.

17. 一品大员 Yīpǐn dà yuan pejabat tinggi, langsung di bawah kaisar.

Siapa yang mengira, sebagai kultivator yang telah hidup selama lebih dari 900 tahun, Ujian Hatinya justru adalah membuat lukisan gulali yang bahkan dipuji oleh keluarga kerajaan? Barang bagus apa yang tidak dimiliki keluarga kerajaan? Siapa yang akan mempedulikan apakah lukisan gulali yang dibuat oleh seorang lelaki tua bagus atau tidak?

Selama hampir 100 tahun, Wang Tong telah membuatkan lukisan gulali untuk banyak orang dan juga telah menerima banyak pujian, bahkan dari keluarga kerajaan dari dunia ini. Tetapi, dia tetap saja tidak bisa melewati Ujian Hatinya, karena orang-orang yang telah memujinya ini bukan memandang lukisan gulali yang dibuatnya, tetapi jati dirinya, level kultivasinya, statusnya maupun kemampuannya.

Tiada siapapun orang dari keluarga kerajaan yang murni memujinya karena lukisan gulalinya.

Kalau saja waktu bisa diputar kembali, Wang Tong akan menghajar dirinya sendiri; apa tidak bisa pintar sedikit, tidak bisa punya aspirasi sedikit? Bagaimana bisa terpikirkan dengan hanya mengandalkan lukisan gulali bisa mendapatkan pujian dari keluarga kerajaan, otak macam apa ini?

Namun cita-cita di masa kecil adalah pemikiran paling murni dalam permulaan hidup seseorang. Meskipun sangat banyak kultivator yang merasa pemikiran mereka di saat masih muda itu kekanak-kanakan dan konyol, tetapi jika mereka tidak bisa melewatinya, maka tidak akan bisa ada kemajuan.

Kultivator yang masih mengingat cita-citanya semasa muda seperti Wang Tong ini masih bisa dibilang bagus, ada beberapa kultivator lain yang telah lama melupakan aspirasi pertama mereka. Akibat malapetaka ini, mereka tersiksa terus sampai mati, dan masih juga tidak tahu apa sebenarnya ambisi mereka sewaktu masih kecil. Hal ini juga menyebabkan sangat banyak keluarga di Dunia Kultivasi yang sejak awal mewanti-wanti anak-anak mereka, jangan sampai sembarangan memiliki cita-cita, bisa jadi suatu hari nanti akan menyesal.

Dahulu pernah ada seorang tetua dari Sekte Pelatihan Hewan Buas Yu Shou (18), saat masih kecil beliau memiliki cita-cita konyol untuk ‘menikahi orang tercantik di dunia’. Pada akhirnya, ketika umurnya telah habis, jangankan orang tercantik di dunia, sama sekali tidak ada satupun orang cantik yang berminat padanya. Benar-benar suatu tragedi, yang mendengar cerita ini pasti sedih, dan yang melihatnya pasti menangis. Setelah beliau matipun, masih saja menjadi contoh negatif untuk pembelajaran bagi generasi muda dari berbagai sekte lain. Kecuali ada muncul tokoh lain yang lebih konyol lagi, dalam beberapa ribu tahun ke depan, beliau tak akan bisa menghilang dari daftar kisah aib.

18. 御兽 Yù shòu untuk ke depannya kita sebut sebagai sekte Yu Shou saja ya. Sebab ‘Sekte Pelatihan Hewan Buas’ terlalu panjang untuk diketik, dan juga ga keren haha.

Jika dibandingkan dengan tetua dari sekte Yu Shou, cita-cita agung Wang Tong sepertinya tidak terlalu konyol.

Mendengar murid tertua menanyakan pertanyaan yang agak canggung ini, Wang Tong menegakkan punggungnya: “Di Dunia Kultivasi, Guru dikenal sebagai salah satu dari sepuluh kultivator jenius, apalah artinya Ujian Hati kecil ini? Guru bukan saja telah berhasil melewati Ujian Hati, tetapi kultivasinya juga meningkat pesat. Guru telah menembus batas level Yuan Ying dan mencapai level Chu Qiao.”

“Benarkah?!” balas Cheng Yi girang.

“Tentu saja, Guru tidak pernah membual.” Wang Tong meluruskan punggungnya menjadi lebih tegap lagi.

“Selamat kepada Guru.” Cheng Yi sangat bergembira, “Hari sudah larut, bagaimana kalau kita pulang dulu untuk beristirahat, baru besok kita mendaftar ke sekte?”

“Tidak usah terburu-buru, besok Guru akan kembali ke sekte dengan megah, agar mereka-mereka yang memandang rendah perguruan kita, guru dan murid, bisa lihat.” Wang Tong menggoyangkan jubahnya, “Kakeknya masihlah kakeknya (19), sang jenius tetaplah sang jenius.”

19. 他爷爷还是他爷爷 Tā yéyé háishì tā yéyé arti harafiahnya memang kakeknya adalah kakeknya, tetapi dalam bahasa Cina, dengan memanggil diri sendiri sebagai kakek atau nenek seseorang maksudnya adalah merendahkan orang tersebut. Jadi maksud Wang Tong disini adalah untuk memperlihatkan diri sendiri tinggi, sementara orang yang menjadi ‘cucunya’ itu di bawah dia.

Cheng Yi sangat mengenal sifat Gurunya yang sangat ingin menjaga muka, maka jelas saja ia setuju: “Ucapan Guru benar.”

“Cheng Yi.” Wang Tong menggosok-gosok tangannya, “Bertahun-tahun ini Guru berada di Dunia Fana, sudah tidak tahu lagi saat ini pakaian yang seperti apa yang sedang populer, malam ini kamu mesti repot sedikit, bantu Guru untuk membuat persiapan.”

“Baik Guru.” Cheng Yi menoleh dan melihat ke arah sebelahnya, Kong Hou sedang berjongkok bersama Tan Feng. Dia sedang berusaha menangkap ikan kecil yang perutnya bisa bersinar dengan menggunakan jaring kecil terbuat dari kertas di pinggir jalan. “Yang membantu Guru melewati Ujian Hati, adalah shimei kecil ini?”

Guru membawa shimei kecil dari Dunia Fana meskipun tidak tahu bagaimana bakat kemampuannya, dan badannya dibalut aura naga keluarga kerajaan. Hanya saja aura ini sangat lemah, bagi yang kultivasinya belum sampai di level Xin Dong (20), ia tidak akan bisa mendeteksinya sama sekali.

20. 心动 Xīndòng adalah level kultivasi 1 tingkat di bawah Jin Dan.

Wang Tong mengikuti arah pandang Cheng Yi dan menganggukkan kepalanya.

Sebenarnya, bahkan dia sendiri merasa Ujian Hati kali ini tidak akan bisa dilewati. Dia menyembunyikan jati dirinya, dan ia merahasiakan kemampuannya. Hanya dengan mengandalkan identitasnya sebagai pelukis gulali, bahkan kesempatan untuk mendekati kaum bangsawan saja dia sama sekali tidak punya, apalagi untuk keluarga kerajaan memuji dia.

Dia berada di Dunia Fana selama delapan tahun penuh, tidak peduli panas ataupun hujan (21), ia tetap keluar untuk buka kios, demi mencari keberuntungan yang kecil kemungkinannya untuk muncul. Di saat ia putus asa itulah, Kong Hou muncul dan membantu untuk mencapai keinginannya.

21. 刮风下雨 Guā fēng xià yǔ arti sebenarnya adalah berangin atau hujan. Tapi dalam bahasa Indonesia, kata ‘hari panas atau hujan’ dirasa lebih pas, jadi aku pakai ini.

Sementara itu, Kong Hou sudah merobek 5 buah jaring kertas, saking marahnya, lemak bayi di mukanya berkumpul (TN: alias beliau cemberut). Mengapa di dunia yang memiliki kultivator, barang-barang dibuat sedemikian rapuhnya. Dia belum bisa berhasil memancing satu ekor ikanpun.

“Gadis kecil, maukah kamu membayar 1 batu spiritual untuk mencoba lagi?” Pemilik kios berkata sembari tersenyum, “Ikan jenis ini bisa bersinar di malam hari, jika ditaruh ke dalam gelas kristal, akan terlihat sangat cantik.”

“Tidak usah.” Kong Hou menggelengkan kepalanya, ia bangun dan berkata kepada Tan Feng yang masih berjongkok, “Shixiong kedua, ayuk pergi cari Guru.”

“Kenapa tidak mau mencoba lagi?” Tan Feng tahu banyak anak perempuan yang menyukai ikan lentera cantik yang bisa bersinar seperti ini. Shimei kecil juga barusan jelas-jelas menyukainya, kenapa sekarang berkata tidak mau mencoba lagi?

“Sebab jadi orang mesti tahu kapan harus berhenti, sifat tamak akan mendatangkan lebih banyak kerugian.” Kong Hou mendekap kotak-kotak kue. Dengan sudah mendapatkan kue-kue yang begitu indah, dia sudah merasa puas.

Ketika Tan Feng mendengarkan ucapannya, hatinya merasa kalut. Bagaimana anak sekecil ini mampu mengkontrol dirinya seperti itu?

Dia mengambil kotak-kotak kue dari pegangan Kong Hou, dan memberikan dua batu spiritual kepada pemilik kios: “Hanya menggunakan 5 buah jaring kertas, tidak termasuk perbuatan tamak. Ayuk coba lagi. Shixiong sudah membayar uangnya, kalau kamu tidak mau mencoba juga, namanya mubazir.”

Kong Hou menatap ke 10 buah jaring kertas di tangan Tan Feng dan dia berpikir-pikir, lalu berkata dengan serius: “Mubazir adalah perbuatan tercela, ya kan?”

“Betul.” Tan Feng mengangguk sembari menahan tawa.

“Aku tidak boleh menjadi seorang anak yang mubazir.” Kong Hou meraih jaring-jaring kertas itu, “Shixiong kedua, kalau aku bisa mendapatkan ikannya, aku akan menghadiahkannya untukmu.”

Tan Feng memperhatikan si gadis kecil yang berjongkok di sebuah baskom besar. Gadis itu memonyongkan bibirnya, matanya fokus mengamati ikan yang berenang-renang. Setelah jaringnya robek, meskipun ia merasa jengkel, namun dia tidak mengamuk, tetapi justru fokus mengamati ikan-ikan itu dengan semakin serius.

Ketika ia menggunakan jaring kertas yang ketujuh, Kong Hou akhirnya bisa menangkap seekor ikan.

“Shixiong kedua!” Kong Hou tersenyum hingga kedua matanya menyipit membentuk garis. Dengan berhati-hati ia menempatkan ikan itu pada sebuah tempayan dan menyerahkannya ke tangan Tan Feng, “Ini untukmu.”

“Terimakasih.” Tan Feng mendekap tempayan itu dan mengucapkan terimakasih sembari tertawa gembira, seolah-olah Kong Hou telah memberikannya sebuah hadiah yang sangat mengagumkan.

Saat kedua kakak adik seperguruan ini kembali sembari membawa dua buah tempayan, wajah mereka masih basah terkena percikan air dari ekor ikan, dan mereka tertawa seperti dua orang bodoh.

Cheng Yi melihat ke arah mereka berdua, lalu melihat ke Guru yang berdiri di sebelahnya, yang sedang bersikap pura-pura bijak, kemudian ia mengusap-usap keningnya: “Ayuk, mari kita pulang.”

“Shixiong tertua, apakah kita tinggal di tengah awan di atas pegunungan tinggi?” Kong Hou ingat di dalam buku cerita, para kultivator tinggal di tempat seperti ini.

Cheng Yi tertegun, kemudian tersenyum dan menjawab: “Bukan, pertama kita cari penginapan dahulu.”

Kong Hou seketika paham, ternyata Dunia Kultivasi juga ada penginapannya.

Saat sedang memikirkan hal ini, tiba-tiba terdengar suara musik surgawi di angkasa. Kong Hou mendongakkan kepalanya dan melihat sebuah istana yang terbuat dari gelas kristal sedang terbang di langit. Wanita berpakaian warna warni yang tidak terhitung jumlahnya, berterbangan dan menari di sekitar istana.  Dan dari istana itu, banyak sekali berjatuhan kantong-kantong dari kain brokat berwarna merah.

Kong Hou tak tahan untuk mencoba menggapai, lalu dua buah kantong langsung otomatis tertangkap di telapak tangannya.

“Apa ini?” Kong Hou mengelus kantong yang lembut itu, ia merasa penasaran. Tetapi Wang Tong sedang sibuk merentangkan kedua belah tangannya untuk menangkap kantong-kantong itu, dan tidak sempat menjawab.

“Ini adalah angpao malam tahun baru yang diberikan oleh keluarga kultivator ternama kepada semua orang, sungguh meriah.” Cheng Yi melihat ada dua buah kantong lagi yang secara otomatis jatuh ke tangan Kong Hou. Ia tersenyum sembari berkata, “Sepertinya di tahun yang akan datang, keberuntungan shimei pasti sangat bagus.”

Kong Hou baru menyadari, kantong-kantong ini secara otomatis melayang ke tangan orang-orang tertentu. Jika ada yang berniat jahat untuk mencurinya, kantong tersebut akan langsung berubah menjadi abu.

Dunia Kultivasi yang penuh daya magis, bahkan kantong angpao pun memiliki integritas moral. Kalau bukan untuk orang itu, ya tetap bukan untuk orang itu. Lebih baik gugur dengan hormat daripada hidup penuh aib (22).

22. 宁为玉碎不为瓦全 Níng wéi yùsuì bù wéi wǎquán sebenarnya adalah idiom dari sejarah Cina yang arti tepatnya adalah lebih baik menjadi batu giok (yang mulia) namun pecah, daripada menjadi tembikar (yang hina) tapi awet. Yang inti dari artinya kira-kira adalah lebih baik mati dalam membela keadilan.

Dalam sekejap telah terkumpul 7 sampai 8 buah kantong angpao dalam dekapan Kong Hou. Dia yang masih kecil kepayahan memegang semuanya. Dia mengangkat kepala dan melihat istana kristal yang terbang di langit di atas kepalanya itu, dan samar-samar ia bisa melihat papan yang melekat di istana tersebut, bertuliskan ‘Sekte Langit’.

Para sekte kultivasi ini sungguh dermawan, dia sangat menyenangi tempat ini.

Sedanglah ia berpikiran demikian, sebuah kantong berwarna emas juga ikut jatuh ke dalam pelukannya.

The Dewi
The Dewi
"I am so clever that sometimes I don't understand a single word I'm saying"

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

error: Content is protected !!