Novel TranslationsSansheng, Wangchuan Wu ShangSansheng, Wangchuan Wu Shang Translation - Chapter 2

Sansheng, Wangchuan Wu Shang Translation – Chapter 2 [INDONESIA]

- Advertisement -
author Jiu Lu Fei Xiang - Sansheng, Death Exists Not at the River of Oblivion
Jiu Lu Fei Xiang – author of Sansheng, Death Exists Not at the River of Oblivion

Bab 2: Aku Mau Dengar Kamu Panggil Aku ‘Sayang’

Setelah ku selesaikan berbagai urusanku di Alam Arwah, Yan Wang menempatkan tiga segel istimewa di belakang leherku, tiap segel melambangkan satu masa kehidupan di Alam Fana. Setelah tiga segel tersebut habis, aku harus pulang ke Alam Arwah dan menjaga Sungai Wangchuan kembali.

Sembari diiringi tatapan iri para makhluk spiritual lain, aku yang mengenakan busana katun berwarna putih berangkat menuju dunia Alam Fana.

Dunia Alam Fana yang sebelumnya hanya kukenal lewat buku cerita ternyata aslinya lebih semarak lagi dari yang kubayangkan, dan juga lebih memikat, dan juga…..lebih berbahaya.

Di hari ketiga aku berada di Alam Fana, aku sedang dalam perjalanan mencari Moxi dan melewati sebuah kuil. Seketika aku menyadari kuil tersebut dibangun untuk Ksitigarbha Bodhisattva. Dengan alim aku masuk ke dalam dan sembahyang.

Tetapi baru saja aku berlutut, tiba-tiba seorang biksu tua nan lincah berjalan mendekat dengan membawa pisau cukur di tangannya. Beliau tersenyum ramah padaku: “Amitabha. Penderma, merupakan amalan baik untuk mengenali kesesatan diri dan mencari perlindungan dalam Buddha.”

Ha? Belum sempat aku cerna makna dari kata-katanya ketika sekonyong-konyong pisau cukur beliau melesat ke arah rambutku.

Aku terbuat dari batu —– batu Sansheng. Dari seluruh bagian tubuh, kepala sampai kaki, yang paling sulit dilakukan adalah menumbuhkan rambut. Seribu tahun aku tatap terus kepalaku sampai akhirnya barulah ada sedikit perkembangan, namun si keledai botak tua ini berani-beraninya mau mencukur rambutku! Aku mendengus dan aku tendang dia. Tak disangka, biksu ini adalah seorang ahli bela diri. Dengan mudah dia menghindar dari tendanganku.

Dia hapus senyum hangat di wajahnya. “Penderma, apa maksud dari perbuatan anda?”

“Botak, aku ingin menanyakan hal yang sama kepadamu,” sahutku penuh curiga.

Dia tersenyum sinis. “Siluman, saya sangka kau datang ingin menebus dosa dan mencari perlindungan dalam Buddha. Ternyata kau datang untuk mencari masalah!”

“Siluman? Kau keliru, aku bukan….”

“Huh, saya bisa mencium bau buluk kegelapan yang bersarang dalam dirimu dari jarak kejauhan tiga li (1 li = 500 meter). Jangan coba-coba kau menyangkal!”

Aku mengendus sisi kanan dan kiri, namun tetap tidak bisa mencium bau buluk di tubuhku. Padahal ikan di dalam Sungai Wangchuan lebih pekat lagi baunya dariku beratus-ratus kali! Biksu tersebut enggan mendengar penjelasanku, pisau cukurnya kembali menyerang. Hasrat membunuhku mulai bangkit, namun aku kembali teringat ujaran berulang-ulang oleh Yan Wang agar aku tidak membahayakan nyawa orang lain.

Aku batal menyerang, justru berbalik badan, dan kabur.

Biksu tua tetap mengejarku sampai mengitari gunung. Aku berlari hingga begitu lelah, ingin rasanya ku tinju si biksu tua agar dia terlempar kedalam tidur abadi.

Tiba-tiba hidungku mencium wangi semerbak yang asing. Belum pernah ku mencium wewangian seharum ini di Alam Arwah. Pikiranku langsung terpikat. Semakin aku berlari mendekat, semakin luas aku bisa melihat lautan bunga merah terbentang di depanku.

Manusia menyebut musim ini sebagai “musim dingin”, dan mereka memanggil serbuk yang menyerupai kristal yang menutupi kelopak merah bunga tersebut sebagai “salju”. Tetapi aku belum tahu apa nama bunga ini. Setelah aku melewati lautan bunga yang harum ini, aku melihat sebuah pekarangan kecil yang tenang terletak di sebelahnya.

Karena penasaran, aku buka pintu gerbang dan masuk ke dalam pekarangan tersebut. Baru saja aku masuk dan memijakkan sebelah kakiku, segel emas yang Moxi tempatkan di pergelangan tanganku mendadak memancarkan cahaya. Hatiku berdebar-debar seraya aku berjalan mendekati bangunan rumah yang didirikan di dalam pekarangan. Seketika, aku mendengar suara lembut seorang wanita: “Sayang, sayang, anak manis sayang….cilukbaaa.”

Dengan perlahan aku membuka celah pintu dan diam-diam mengintip ke dalam. Seorang wanita muda sedang duduk di atas ranjang sembari menggendong bayi dalam pelukannya. Setelah aku amat-amati, aku tersenyum, hidung itu, dan bibir itu, bukankah buntelan daging itu adalah Moxi?!

Aku tidak perlu susah payah sama sekali untuk menemukannya!

Tapi saat ini dia masih bayi mirip buntelan daging, tanpa ada ingatan akan masa lalu, dan belum bisa mengenali orang lain. Bagaimana aku bisa menggodanya? Atau mungkin aku bisa tetap berada di dekatnya, dan melindunginya sampai dia dewasa? Untuk menjaga jangan sampai ada wanita lain, ataupun pria lain, yang mengeksploitasinya saat dia masih kecil.

Saat aku sedang menimbang-nimbang, terdengar teriakan dari belakangku, “Siluman biadab, mau lari kemana kau?!”

Aku tersentak, lekas aku menghindar ke kiri, dan menggebrak pintu kemudian aku terjengkang ke dalam rumah. Sekelebat bayangan pisau cukur muncul bersamaan dengan aku melihat sejumput rambut hitam gugur jatuh di keningku.

Dengan pilu aku terlentang di lantai, menatap sejumput rambut hitam yang tumbang berjatuhan dengan tatapan kosong.

“Aaa!”

Jeritan wanita tadi terasa jauh di telingaku, dan ujaran wanti-wanti Yan Wang mulai menguap, melayang terbang seperti awan.

Aku langsung loncat berdiri, kukumpulkan seluruh kekuatan batinku di telapak tangan, kekuatan yang penuh dengan ribuan tahun kegelapan Sungai Wangchuan, ku bidik seranganku ke arah biksu tua. Serangan ini mampu meleburkan otaknya, tapi sontak kesadaranku muncul kembali oleh tangisan bayi.

Serangan dari telapak tanganku melenceng ke samping dan menghantam balok di atas pintu, seluruh rumah bergetar tiga kali. Segera aku melompat jungkir balik keluar rumah. Sepertinya seranganku telah membuat si keledai tua ketakutan. Butuh beberapa saat sebelum dia sadar kembali. Ia menatapku, lalu menatap Moxi yang masih dalam versi buntelan daging lalu tiba-tiba berkata ke wanita muda yang sedang ketakutan: “Tanda merah pada kening anakmu membawa pertanda sial di masa depan. Semasa bayipun sudah mengundang masuk siluman jahat. Dewasa nanti dia akan membawa kutukan bagi orang sekitarnya!”

Wanita tersebut terperanjat mendengar kata-kata si biksu tadi. Dia peluk erat bayinya, tidak tahu mesti berbuat apa.

Aku geram. “Hey botak, hentikan omong kosongmu!” Manusia biasanya percaya dengan ramalan pendeta dan biksu. Hidup Moxi bisa runyam akibat ucapannya.

“Hah! Siluman biadab, kau menyerang tiba-tiba di saat aku tidak siap. Akan ku beri kau pelajaran kali ini!”

Pisau cukur di tangannya berbinar, berubah menjadi tongkat buddha dan langsung melesat ke arahku. Biksu ini tidak memiliki ilmu batin yang tinggi, tetapi lingkaran cahaya di tongkat tersebut menghalangiku untuk bisa melihat langsung. Di semua alam, yang paling kami takutkan adalah cahaya suci buddha dari barat. Kewalahan, aku terpaksa mundur.

Awalnya aku mengira pertarungan antara aku dan biksu tua ini tidak akan bertahan lama. Aku berasal dari batu—kesabaran adalah kelebihanku yang paling utama. Aku tadinya menyangka setelah dia kelelahan bertarung, dia akan menyerah dengan sendirinya.

Pada saat itu, aku akan kembali ke sisi Moxi untuk menemaninya sampai ia beranjak dewasa. Aku tak menduga si biksu tua ini begitu keras kepala, lebih dari yang kubayangkan. Membantai siluman merupakan misi suci seumur hidupnya, dan kemungkinan aku adalah ‘iblis’ terkuat yang pernah ia temui, sehingga dia beranggapan memberantasku merupakan tujuan akhir dalam hidup.

Pertarungan kami berlangsung selama sembilan tahun penuh di dunia Alam Fana.

Sembilan tahun!

Pada akhirnya, bukan karena dia menyerah untuk membunuhku, tapi karena kedua kenalanku, duo Penjaga Hitam dan Penjaga Putih Ketidakkekalan telah datang untuk membawa arwahnya pergi….

Saat itu, aku sedang bersembunyi di pegunungan dengan penampilan rombeng ketika aku bertemu kembali dengan dua kenalanku tersebut. Sewaktu aku melihat mereka menggeret pergi arwah si keledai botak tua, aku peluk lidah panjang mereka yang menjulur dan menangis bahagia. Pada saat itu juga, tidak lupa kutitip pesan supaya mereka memberitahu Mengpo untuk memberikan porsi berlebih untuk biksu ini sewaktu dia harus minum Air Melupakan agar di kehidupan berikutnya dia akan terlahir dungu dan menjalani hidup penuh sengsara.

Setelah masalahku dengan biksu tua selesai, aku bersolek dan merapihkan penampilanku yang selama sembilan tahun belakangan menjadi tidak terawat. Lalu, setelah menempuh ribuan mil melewati pegunungan dan sungai, aku kembali ke pekarangan kecil tempat aku bertemu Moxi.

Sembilan tahun aku telah tinggal di dunia Alam Fana, sekarang aku tahu bunga-bunga merah yang harum ini disebut bunga plum.

Meskipun begitu, aku tidak mengira dalam waktu sembilan tahun hutan bunga plum yang cantik bisa berubah luruh dan kering.

Perlahan aku mendekat menuju pekarangan kecil itu dan seketika segel emas di pergelangan tanganku mulai bersinar. Aku belum melangkah masuk melewati gerbang saat aku melihat seorang anak kecil yang kumal sedang menyapu halaman yang tandus dengan menggunakan sapu yang panjang gagangnya lebih tinggi dari badannya. Suara gemerisik daun kering terdengar memilukan.

Anak kecil tersebut seperti menyadari ada seseorang yang datang. Tiba-tiba dia berpaling.

Aku melihat sepasang mata yang jernih dan tanda merah di keningnya. Hatiku terasa sesak, tanganku gemetar, dan permen-permen yang ku belikan untuk Moxi jatuh ke tanah.

“Kamu siapa?” Dia mendekat kepadaku.

Aku duduk berlutut sejajar dengan pandangannya dan dapat kulihat sosok bayanganku di mata jernihnya. Aku bersihkan kotoran di mukanya dengan lengan bajuku dan berkata, “Namaku Sansheng. Aku datang kesini untuk menggodamu.”

Dia menatapku tanpa berkata apapun, membiarkan aku membersihkan mukanya dengan lengan bajuku. Aku lihat dia mengenakan pakaian yang compang camping dan di tangan dan lehernya banyak terdapat bekas lebam. Dari yang kuingat sembilan tahun yang lalu, ibunda Moxi bukanlah seseorang yang miskin sengsara. Kenapa Moxi dibiarkan menjadi seperti ini?

“Dimana ibumu?” Ku bertanya padanya.

“Meninggal dunia.”

Jawabannya yang apa adanya membuatku tersentak. Bukankah manusia fana sangat mempermasalahkan persoalan hidup dan mati? Sementara dia…..mungkin dia masih terlalu kecil untuk memahami tentang hidup dan mati. Hanya itulah penjelasan yang bisa terpikirkan olehku.

“Karena ibumu telah tiada, semua tergantung padamu sekarang. Ingat, mulai hari ini, aku telah berhasil menggodamu.”

Dia tetap diam sembari memandangku. Aku garuk-garuk kepala; ternyata berkomunikasi dengan anak kecil merupakan kegiatan yang sulit. Terlebih lagi ketika anak tersebut seorang yang pendiam dan menutup diri. Aku memutuskan untuk berbicara padanya menggunakan kata-kata yang lebih mudah dimengerti.

“Dalam kata lain, mulai saat ini aku adalah istrimu. Sesuai peraturan manusia fana, aku bisa disebut sebagai pengantin cilikmu. Tapi hal ini tidak penting. Yang penting adalah tidak akan ada lagi yang bisa mengganggumu karena ada aku sekarang.” Kedua matanya berbinar. Aku usap kepalanya: “Coba kamu panggil aku ‘Sayang’. “

Dia membisu sejenak. “Sansheng,” dia panggil namaku.

“Panggil ‘Sayang’!”

“Sansheng.”

“Sayang!”

“Sanheng.”

“…Baiklah,” Aku menyerah, “Panggil aku Sansheng.”

“Sansheng.”

“Ya?”

Sering aku mengingat kembali hari itu, bagaimana ia memanggil namaku terus menerus sampai aku menjawabnya. Di kemudian hari, baru aku tahu pernah ada masa dimana iapun terus menerus memanggil ibunya tanpa ada yang menjawab.

Moxi aslinya adalah seorang Dewa Perang dari Alam Dewa. Meskipun dia pergi ke Alam Fana hanya untuk menjalani Ujian Kehidupannya, dia tetap harus menjadi seorang pria yang beradab dan berbudaya, karena itulah aku terpikir agar dia bersekolah.

Tidak jauh dari tempat kami tinggal ada sebuah kota kecil. Di kota ini hanya ada sebuah sekolahan. Para guru di sekolahan ini semua sudah tahu akan ramalan biksu tua tentang bagaimana Moxi akan tumbuh dewasa dan menjadi kutukan bagi orang-orang di sekelilingnya, oleh karena itu mereka enggan untuk menerima Moxi menjadi murid di sana.

Aku meminta Moxi untuk berjalan mengelilingi sekolahan sembari membawa satu tempayan penuh koin emas. Akhirnya para guru ikhlas menerima dia menjadi murid.

Aku membantu mengikat rambutnya pada hari pertama masuk sekolah. Dia menatapku lewat pantulan cermin perunggu; di matanya terlihat rasa kekhawatiran. Aku berkata kepadanya dengan lembut, “Kamu akan tinggal di Alam Fana masih berpuluh-puluh tahun lagi. Tidak terlalu lama; akan aku pastikan hidupmu penuh kedamaian. Tetapi aku berharap kamu bisa menjadi seseorang yang bertanggung jawab dan memiliki kehidupan yang cemerlang selama beberapa dekade ini. Kamu harus bisa membaca. Dengarkan gurumu di sekolah. Meskipun mereka tidak bisa disebut sebagai cendikiawan, setidaknya perilaku mereka penuh adab dan santun di depan para murid. Belajar yang rajin!”

Moxi menggangguk.

Saat dia pulang di sore hari, banyak luka di mukanya. Memar merah di sini, memar biru di sana. “Ada yang menganggumu?”Aku bertanya.

Dia menggangguk.

“Kamu balas?”

Dia menggeleng.

Aku obati lukanya dan bertanya, “Yang mengganggumu, tinggal dimana dia?”

Si gendut Wang adalah anak seorang juragan tanah di kota. Keluarganya sangat kaya dan rumahnya memiliki pekarangan yang sangat luas. Aku lihat dengan penuh rasa kegirangan. Setelah aku sulut api di gudang kayu rumahnya, kebetulan angin selatan berhembus dan membantu mengobarkan api menjadi sangat besar. Setengah langit kota menyala merah.

Sungguh pemandangan yang spektakuler, aku ajak Moxi ke tempat yang bagus untuk menyaksikannya dan sembari kutunjuk ke arah kobaran api yang melalap rumah si gendut Wang, aku berkata padanya, “Tertawalah sepuasmu.”

Moxi melihat ke arahku sembari berpikir. “Sansheng, guruku berkata kita harus membalas kejahatan dengan kebajikan.”

“Moxi, kamu harus bisa belajar membedakan. Gurumu jelas-jelas sedang berbual. Tidak apa untuk kamu dengarkan, tapi jangan kamu masukkan kedalam hati.”

Moxi mendengarkan perkataanku, dan dengan pelan mengeluarkan suara ‘hahaha’.

Kehidupan di Alam Fana berlalu secepat kedipan mata. Sebentar lagi Moxi akan memasuki usia 20 tahun dan bisa dianggap dewasa.

Di bawah didikanku yang cermat dan seksama, bukan suatu keanehan Moxi bisa tumbuh dewasa menjadi seorang pria berbudi halus ibarat batu giok (7). Wajah dan perawakannya tidak jauh berbeda dari kala aku bertemu dengannya di Alam Arwah. Pembawaannya yang gagah ibarat dewa bukanlah hal yang lazim di Alam Fana, dipadu dengan kecerdasannya yang luar biasa, dia lantas menjadi terkenal di kota kecil ini.

7. Budi pekerti yang dianggap superior di budaya Cina diibaratkan seperti batu giok.

Namun, pepatah “Ketenaran membunuh orang, ketambunan membunuh babi” (8). Jelas ada alasan kuat mengapa pepatah ini begitu terkenal.

8. Pepatah Cina 人怕出名猪怕壮 (Rén pà chūmíng zhū pà zhuàng) yang maksudnya meskipun dirasa hebat, seseorang tidak ingin menjadi terkenal karena ketenaran bisa menjadi sumber masalah, ibarat babi takut menjadi gemuk karena takut disembelih untuk dimakan.

Di suatu pagi yang cerah dan sejuk,aku sedang berbaring di kursi malas dan membaca novel terbaru yang baru saja terbit, tentang kisah asmara pasangan yang telah melewati banyak cobaan berat. Cerita cinta ini juga lengkap dengan kegiatan uh uh ah ah yang terperinci. Di tengah-tengah bagian krusial penuh antusias, Moxi melangkah masuk. Dia memungut jubah dan jaket yang sebelumnya aku lempar sambil lalu ke lantai, dan menyimpannya. Kemudian dia mengambilkan aku secangkir air minum lalu berkata, “Seharian berbaring di rumah tidak sehat. Kamu harus ada keluar rumah juga untuk menikmati matahari, Sansheng.”

Aku terima cangkir dari tangannya. Mataku tidak lepas dari novel sembari berkata, “Sinar matahari ibarat racun untukku. Tidak ada manfaatnya.”

Tetapi dia tidak menanggapi ucapanku. “Pagi tadi turun salju. Bunga plum di halaman kita bermekaran dengan sangat indah. Mari kita jalan-jalan untuk menikmatinya.” Aku menatapnya dan melihat sepasang mata penuh harap. Aku letakkan buku yang sedang di tengah-tengah bagian uh uh ah ah: “Baiklah, aku temani kamu jalan-jalan.”

Merasa girang, dia tersenyum lembut.

Kami bergandengan dan berjalan mengelilingi hutan bunga plum. Dia tidak berbohong kepadaku. Bunga plum memang sedang bermekaran begitu indah hari ini.

“Moxi, kamu tahu aku senang melihat bunga-bunga plum ini dan mencium wanginya di salju yang berkilauan. Tapi apakah kamu tahu kenapa?”

Dia berpikir sejenak. “Mungkin karena perangaimu mirip dengan bunga plum ini.” Aku terdiam sembari terus berjalan, aku pandang matanya sembari menggelengkan kepala. Aku senyum tanpa berkata-kata.

Meskipun dia tidak paham, dia biarkan aku menatap wajahnya, perlahan dia tersenyum simpul, “Sansheng suka memandangi wajahku?”

“Suka.” Aku gunakan tanganku untuk mengukur jarak kepalaku dengannya. Sekarang dia satu kepala lebih tinggi dari ku. Aku dongakkan mukaku dan berkata, “Moxi, panggil aku ‘Sayang’ .”

Telinganya tiba-tiba memerah.

“Sebentar lagi kamu cukup usia,” kataku. “Rasanya gelarku sebagai Pengantin Cilik sudah bisa naik pangkat setelah bertahun-tahun ini. Maukah kamu memilih tanggal untuk menikahiku?”

Warna merah menyebar dari telinga ke pipinya, jakunnya bergulung.Tak lama kemudian, muncul sepercik kekesalan di matanya. “ Sansheng, kamu, kamu selalu…..” Sebelum dia bisa menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba aku mendengar suara seseorang dari luar hutan plum.

Setelah Moxi menjadi cukup terkenal, selalu ada saja yang datang untuk mencarinya. Di hari lain, aku tidak akan berkomentar apa-apa, tapi hari ini sang tamu telah mengganggu pembahasan pernikahan kami. Wajahku layu. Aku merasa muram.

Suara mereka yang datang juga lamat-lamat terdengar oleh Moxi. “Sansheng, sepertinya ada yang datang mengunjungi kita. Mari berjalan kembali ke rumah. “

Aku menjawabnya dengan bergumam, lalu aku pergi ke kamar, kembali membaca buku. Moxi pergi ke arah ruang tamu untuk menyambut yang datang.

Hari semakin siang, Moxi mengantar tamu ke gerbang untuk pulang lalu ia masuk ke kamarku. Dia duduk tanpa berbicara. Aku bersandar di kursi dan juga tidak berbicara; tingkat kesabaranku memang selalu tinggi. Akhirnya dia tidak bisa menang dariku.

“Sansheng.”

“Hmm?”

“Yang datang hari ini adalah gubernur.”

“Oh.”

Beliau…..beliau ingin mengirimku ke ibu kota untuk menjadi pejabat pemerintah.

“Oh.”

Mungkin sikapku yang tak acuh membuat Moxi bingung. Dia amati mukaku. Lalu aku berbalik menatapnya. Dia terus mengamati mukaku penuh seksama. “Laki-laki harus memiliki ambisi. Kamu bertujuan ingin menjadi seorang pejabat pemerintah, bukan maling….meskipun pada dasarnya tidak banyak bedanya antara kedua profesi tersebut. Tapi akupun mengakui Mahkamah Kerajaan (di ibu kota) merupakan salah satu tempat untuk bisa mengejar ambisimu. Aku selalu berharap kamu bisa mencapai kejayaan dalam hidup. Kamu memiliki bakat dan sekarang tergelar kesempatan di hadapanmu, kamu harus berani untuk mengejarnya. Buat apa kamu jadi terus menatapku?”

Moxi menggelengkan kepalanya. “Aku tidak ingin menjadi pejabat pemerintah demi mengejar ambisi….” Pipinya merah tersipu-sipu. “Seperti yang kamu katakan, umurku hampir 20 tahun. Aku, aku selalu ingin membahas denganmu tentang pernikahan kita suatu hari nanti.”

Aku menggenggam cangkir, tercenung.

Senyumnya terlihat tidak berdaya. “Tapi Sansheng, kamu selalu selangkah di depanku.” Dia tambahkan, “Aku ingin membangun keluarga denganmu, tetapi sebagai laki-laki, aku tidak bisa terus-terusan membiarkan kamu yang menjagaku. Aku ingin memberikanmu kebahagiaan dengan kemampuanku sendiri.”

“Sansheng, maukah kamu menungguku selama dua tahun? Setelah aku berhasil, aku akan kembali untuk menikahimu.”

Aku tidak bisa berkata “tidak.”

Saat itu, aku berharap seandainya aku adalah seorang gadis biasa. Berharap aku bisa menunggunya di rumah sampai dia pulang dan memanggilku “Sansheng” dari ambang pintu.

Tapi dia ingin aku menunggu dua tahun. Sejatinya, aku adalah sebuah batu yang amat sabar, tapi kali ini aku tidak bisa menahan diri. Setelah berguling-guling penuh gelisah, akhirnya aku bangun dan duduk di tempat tidur.

“Moxi.”

Aku tahu dia tidak ada, tapi aku masih ingin memanggil namanya, seakan-akan dia akan muncul di hadapanku jika aku memanggil namanya.

“Moxi.”

Tiga kali aku panggil namanya, namun tidak terdengar jawaban selain suara dedaunan ditiup angin di luar. Aku tidak bisa kembali tidur, maka aku berdiri dan tanpa berkemas, aku pergi meninggalkan rumah dengan hanya mengenakan busana berjubah putih dan langsung menuju ibu kota untuk mencari suamiku.

The Dewi
The Dewi
"I am so clever that sometimes I don't understand a single word I'm saying"

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

error: Content is protected !!