Novel TranslationsSansheng, Wangchuan Wu ShangSansheng, Wangchuan Wu Shang Translation - Chapter 16

Sansheng, Wangchuan Wu Shang Translation – Chapter 16 [INDONESIA]

- Advertisement -
author Jiu Lu Fei Xiang - Sansheng, Death Exists Not at the River of Oblivion
Jiu Lu Fei Xiang – author of Sansheng, Death Exists Not at the River of Oblivion

Epilog

Bab 16: Tak Ada Kematian

Ambil jantungnya.

Yan Wang menuliskan dua kata ini dengan air muka yang serius.

Aku berlutut di istana Yan Wang, dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku melakukan kowtow kepadanya.

Aku telah membunuh ribuan orang saat aku berada di Alam Fana, dan telah sangat mengganggu tatanan siklus reinkarnasi. Hukuman diambil jantung sudah merupakan hukuman yang amat ringan. Besar kemungkinan Yan Wang secara diam-diam telah menghadapi tekanan besar karena aku.

Saat aku tiba di neraka untuk menjalani hukuman, Hei Wuchang meraih lenganku dan berkata sembari menghela napasnya: “Kamu adalah sebuah batu, tidak mudah bagimu untuk memiliki kesadaran, namun sekarang jantungmu akan diambil keluar….meskipun kamu tetap akan menjadi sesosok makhluk spiritual, tetapi apa bedanya nanti dengan sebongkah batu yang bisa bergerak?”

Aku menjawabnya: “Kan aku masih memiliki otak.”

Hei Wuchang terus menggelengkan kepala dan menghela napasnya. Dedemit kecil Jia dan Yi juga memasang tampang sedih. Hanya Bai Wuchang seorang yang berekspresi dingin seperti biasa: “Apakah kau menyesal?”

Aku tahu apa yang sedang ia tanyakan. Moxi pasti tahu aku telah kembali ke Alam Arwah, dia sekarang juga telah menyelesaikan Ujian Kehidupannya. Dengan menggunakan identitasnya sebagai dewa, dia bisa saja memohon untukku, agar aku bisa terhindar dari hukuman ini. Terlebih lagi, di mata kebanyakan orang, hukuman yang aku terima saat ini adalah karena Moxi.

Tetapi dia tidak melakukan apapun. Bahkan tak sekalipun ia datang ke Alam Arwah untuk menemuiku.

Aku menimbang-nimbang, lalu aku gelengkan kepalaku: “Tidak menyesal.”

“Kenapa?”

Aku menolehkan pandanganku ke sungai Huangquan (19). Arwah turun berdatangan terus menerus di sana, tetapi di mataku, aku hanya bisa melihat bunga-bunga Amarilis yang menggoda namun terlihat kesepian di sepanjang tepi sungai. Sama seperti hari itu saat aku jumpa pertama kali dengan Moxi, cahaya matahari dari Alam Fana bersinar terang.

19. 黄泉路 Huángquánlù tempat para arwah berkumpul di Alam Arwah.

“Sungguh suatu kebetulan, aku bisa melihat pemandangan ini lagi. Tetapi aku tak berdaya.” Aku menghela napas dan berkata untuk mencemooh diriku sendiri, “Mungkin setelah aku tidak memiliki hati ini lagi, aku justru akan merasa menyesal.”

Bai Wuchang tidak mengatakan apapun lagi, hanya mengantarku terus menuju tempat untuk menerima hukuman, lalu beranjak pergi.

Proses pengambilan hati berjalan lancar. Hantu yang melaksanakan prosesnya pun melakukannya dengan cepat.

Saat aku baru saja merasakan ujung pisau menembus dada, jantungku yang terus berdegup hangat telah diambil keluar dari rongga dadaku yang kini menjadi kosong. Hanya ketika luka di dadaku dijahit lah aku baru merasakan sakit.

Ternyata, sebuah batu tanpa jantung juga bisa merasakan sakit.

Peraturan di Alam Arwah bagi makhluk spiritual atau hantu yang menerima hukuman adalah mereka tidak boleh diberikan pertolongan. Oleh karena itu, hari itu aku merangkak sendirian untuk kembali pulang ke batu Sansheng. Darah mengalir dari dadaku, menembus pakaianku, dan jatuh ke tanah.

Setelah itu, saat aku sedang menunggu lukaku sembuh di dalam batu, dedemit kecil Jia diam-diam berbicara kepadaku. Katanya dari jejak darahku yang tertiggal di tanah, telah tumbuh bunga-bunga yang harum, ada yang menyebut bunga tersebut bunga plum. Betul-betul indah.

Aku tak percaya saat aku mendengarnya.

Alam Arwah adalah tempat kematian, dan Sungai Wangchuan adalah lahan tak bernyawa. Hanya selalu ada mereka yang tak lagi memiliki nyawa, tidak pernah ada yang hidup. Kecuali para kaum dewa yang membosankan itu yang terkadang datang. Jadi, mana mungkin Alam Arwah ini bisa menumbuhkan bunga.

Sampai akhirnya aku juga mencium aroma wangi bunga plum dari dalam batuku.

Dedemit kecil Yi berkata kepadaku: “Sansheng, tubuhmu sekarang ini dikelilingi bunga merah yang sangat indah, cantik dan wangi. Kamu hampir tidak mirip seperti kami lagi, para makhluk yang tinggal di Alam Arwah.”

Aku tak tahu kenapa bisa menjadi seperti ini, dan aku juga terlalu malas untuk memikirkannya. Setelah jantungku diambil, aku merasa jauh lebih lega, semua perasaan ingin tahu dan perasaan tidak rela yang kurasakan sebelumnya berangsur-angsur memudar. Hanya saja terkadang bayang-bayang Moxi muncul dalam pikiranku.

Tetapi aku pikir, seiring dengan berjalannya waktu, sosok bayangan indah inipun suatu hari akan menghilang dari pikiranku!

Sama seperti luka di dadaku yang perlahan-lahan sembuh, suatu hari nanti bahkan bekas lukanya pun tidak akan tersisa.

Setelah lukaku sembuh, aku bisa keluar dari batu dan berjalan beberapa langkah. Bunga-bunga plum yang diceritakan orang-orang kepadaku kini telah lama menjadi layu.

Aku tidak merasakan penyesalan sedikitpun. Aku justru kini semakin yakin, semua hal seperti sinar matahari di Alam Fana, wangi tersembunyi dari bunga plum merah, ataupun kehangatan dan kelembutan hati Moxi yang ibarat batu giok, semuanya akan terlupakan ibarat menjadi kabut awan, hilang tertiup angin di masa lalu.

Kini kehidupanku di Alam Arwah tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. Aku masih berjalan-jalan setiap hari di tepi sungai Wangchuan, dan juga masih bersandar setiap hari pada batu Sansheng untuk membaca buku-buku cerita dari Alam Fana.

Hanya saja kerinduan yang pernah terpendam di dalam dasar hatiku, kini telah menjadi kenangan belaka di dalam benakku. Dan plot cerita romantis di buku-buku bacaan kini tak mampu lagi menggerakkan hatiku.

Suatu hari, saat aku baru saja kembali dari berjalan-jalan di tepi sungai Wangchuan, aku melihat ke atas, dan secara kebetulan kembali kulihat sosok dia yang sedang berdiri di sebelah tubuh asliku.

Tangannya mengelus permukaan batu, pandangan matanya yang dalam melihat ke bawah, entah apa yang dipikirkannya. Momen itu ibarat berhenti dan menjelma menjadi sebuah lukisan indah.

“Moxi….” Aku membuka bibirku dan dengan pelan menyebutkan nama yang telah lama tidak kupanggil.

Dengan perlahan dia menengadahkan kepalanya saat mendengar suara panggilanku yang begitu pelan.

Saat aku melihat wajah yang sudah lama tidak kulihat, tanpa kusadari aku letakkan tanganku di atas dada, di rongga yang kini telah kosong yang tidak lagi ada perasaan berdegup.

Tetapi kenapa aku justru merasa ingin menangis?

Baru aku mengerti, sebenarnya bukannya aku tidak merindu, tetapi aku telah memaksa diriku sendiri untuk tidak merindukannya. Karena aku khawatir tak mampu mengendalikan diri jika aku dibanjiri kenangan-kenangan bersamanya.

Dia tersenyum penuh kehangatan di dalam pandanganku yang mulai kabur.

“Bukankah kamu bilang akan menggodaku? Dengan penampilanmu yang konyol seperti ini, bagaimana bisa menarik perhatianku?”

Aku tetap berdiri diam, tak bergerak maju.

Dia tersenyum dan mengulurkan tangannya kepadaku: “Sansheng, mari kesini agar aku bisa melihatmu.”

Kakiku seperti bergerak sendiri tanpa sadar. Dia membelai-belai rambutku: “Bukankah kamu paling tidak suka jika ada yang menyentuh rambutmu?”

Aku menganggukkan kepala dengan jujur: “Karena tidak mudah bagi sebuah batu untuk menumbuhkan rambut.”

“Sekarang aku menyentuhnya seperti ini, apakah kamu tidak marah?”

Aku menggelengkan kepalaku: “Karena kamu adalah Moxi.”

Dia memincingkan matanya dan tersenyum bahagia. Aku berkata kepadanya: “Sekarang kamu adalah Dewa Perang, aku tidak mampu lagi mengalahkanmu.” Tangannya terhenti sejenak, dan menekan rambutku dengan tenaga yang sedikit lebih besar hingga terasa berat. Lalu kulanjutkan, “Meskipun aku bisa mengalahkanmu, aku tak akan menyerangmu.”

“Tidak tega?”

“Tidak tega.”

Dia terdiam, lalu meraih tanganku ke dalam genggamannya, jari jemari kami saling bergandengan erat: “Sansheng, ikutlah dengan ku ke Alam Dewa. Kamu begitu menyukai bunga plum, bagaimana kalau kamu menjadi seorang dewi bunga plum?”

Aku mengangkat kepalaku dan menatapnya, pandangan di matanya menujukkan dia sedang bersungguh-sungguh. Setelah aku tahu dia sedang tidak bercanda, tubuhku sontak mundur ketakutan, aku ingin melepaskan tanganku dari genggamannya. Tetapi genggamannya justru semakin erat.

Aku mendadak panik: “Aku hanyalah seorang makhluk spiritual dari Alam Arwah, batu Sansheng yang tubuhnya penuh dengan kekuatan kegelapan, aku tidak bisa ikut pergi ke Alam Dewa, lagipula aku tak lagi memiliki jantung…..”

Moxi menghela napas: “Sansheng, kamu telah melewati tiga masa kehidupan untuk menggodaku, dan sekarang kamu telah berhasil melakukannya, namun sekarang kamu malah ingin balik badan dan kabur? Tidak bisa seperti ini. Aku tidak bisa melepaskanmu.”

“Kamu……kamu bilang apa?”

“Sansheng, kamu telah berhasil menggodaku.”

Aku terkesima.

Moxi mengeluarkan suatu benda bulat yang bercahaya dari dalam saku pakaiannya: “Sebenarnya aku ingin memberikan ini kepadamu nanti.” Dia mengucapkan mantra, dan benda di tangannya bersinar cemerlang dan dalam sekejap benda tersebut lenyap. Kemudian dadaku tiba-tiba terasa hangat. Kehangatan yang telah lama tidak kurasakan, kini meluap keluar.

Jantungku.

Moxi mengembalikan jantungku yang telah diambil keluar, kembali kepadaku!

Emosi di dalam hatiku memancar deras, mengaliri darah di seluruh tubuhku dengan rasa sakit yang hangat: “Moxi…..aku, aku……” Air mataku mengalir, “Aku terlahir di sungai Wangchuan, dan tidak pernah benar-benar hidup. Aku telah tinggal di tempat kematian ini begitu lama, aku takut aku tidak tahu bagaimana caranya untuk hidup.”

Ujung jemarinya mengusap pipiku perlahan, lalu berkata dengan lembut: “Di tempat inilah Sansheng tumbuh besar, tetapi Sansheng ku adalah seseorang yang menjalani hidupnya dengan penuh  keberanian, bagaimana mungkin kamu bilang tidak tahu caranya hidup.”

Dia mengatakan: “Sansheng, tak ada kematian di Sungai Melupakan.”

Ia membelai-belai rambutku: “Apakah kamu bersedia untuk ikut denganku ke Alam Dewa dan menjadi istri Dewa Perang?”

“Kamu telah berhasil aku goda?”

Dia menghela napasnya: “Sejak awal sudah tergoda.”

Aku menundukkan kepalaku, dan terjun ke dalam pelukannya, kulingkarkan tanganku di pinggangnya, lalu dengan lembut kutempelkan pipiku di dadanya.

“Mau menikah tidak?”

“Mau.”

TAMAT

 

The Dewi
The Dewi
"I am so clever that sometimes I don't understand a single word I'm saying"

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

error: Content is protected !!