Novel TranslationsSansheng, Wangchuan Wu ShangSansheng, Wangchuan Wu Shang Translation - Chapter 18

Sansheng, Wangchuan Wu Shang Translation – Chapter 18 [INDONESIA]

- Advertisement -
author Jiu Lu Fei Xiang - Sansheng, Death Exists Not at the River of Oblivion
Jiu Lu Fei Xiang – author of Sansheng, Death Exists Not at the River of Oblivion

Cerita Bonus 2 – Selamanya Sansheng

Ketika roh Moxi melayang lepas dari jasadnya, Wuqu Xingjun (21) sudah menantinya di udara.

21. 武曲星君Wǔ Qū xīng jūn adalah salah satu dewa yang mengawasi segala hal yang menyangkut urusan militer di dalam kepercayaan Tao.

“Selamat datang kembali Tuanku. Kaisar langit telah mempersiapkan hidangan untuk menyambut kembalinya Tuan.”

Dengan ingatannya akan masa lalu, Dewa Perang Maha Agung justru tidak merasa bersuka cita setelah kembali dari Ujian Kehidupannya. Di telinganya masih terdengar ucapan putus asa Sansheng, “Aku menyukainya hanya karena aku bisa bertemu denganmu.”

Dia tak mampu menahan kehangatan yang terasa pahit di dalam hatinya. Dia menoleh dan melihat ke arah sosok yang sedang memeluk ‘Moxi’ —seorang wanita dengan tubuh berlumuran darah, duduk di medan perang dengan tatapan kosong. Ia berkata setelah merenung cukup lama, “Wuqu, dimana Si Ming?”

Mendengar nada dingin di dalam ucapan Moxi, Wuqu bergidik, “Si Ming…..Si Ming…..”

“Ya sudah, aku akan pergi mencari dia sendiri.”

Belum sempat Wu Qu memohon, tiba-tiba terdengar suara tawa yang tajam menusuk kalbu menggema di langit. Mendengar suara yang penuh dengan kebengisan, membuat Wuqu merasa takut, dia melihat ke arah Sansheng lalu menghela napasnya, “Sangat disayangkan, susah bagi makhluk Alam Arwah untuk bisa memiliki kesadaran. Setelah melewati Ujian Kehidupan ini, sayangnya dia akan menjadi terobsesi dan jatuh masuk ke dalam kegelapan.”

Kening Moxi sedikit mengernyit, tubuhnya diam tidak bergerak. Namun Wuqu buru-buru membujuknya, “Tuanku, tidak boleh! Tidak boleh! Ini adalah urusan Alam Fana, Tuanku tidak boleh ikut campur!”

Moxi melirik ke arah Wuqu dengan dingin: “Apakah saya ada bilang akan ikut campur?”, membuat Wuqu merasa malu hati. Moxi kembali melanjutkan, “Saya hanya melihat seorang manusia fana yang sepertinya memiliki nasib menjadi dewa, dan ingin berdiskusi suatu hal dengannya.”

Wuqu menyeka keringat dinginnya. Dia tak mampu menahan menghela napas tatkala melihat Moxi ‘berdiskusi’ dengan seorang manusia fana bernama Chang’an itu. Ini jelas bukan lagi merupakan Ujian Asmara bagi si batu dari Alam Arwah, tapi juga sudah menjadi Ujian Asmara bagi Dewa Perang.

Dewa Perang yang dingin telah jatuh cinta dengan batu yang tidak berperasaan. Sepertinya dunia mau kiamat!

Saat makhluk spiritual bernama Sansheng keluar dari jasadnya, Wuqu melihat dengan jelas, Moxi mencegat hakim yang telah datang dari kejauhan, dan memberikan kepadanya sepasang borgol. Wuqu dapat merasakan aura Alam Dewa yang membalut borgol itu dari kejauhan. Moxi mengatakan beberapa hal kepada sang hakim, dan sang hakim tersenyum penuh pemahaman.

Wuqu menundukkan pandangannya, berlagak seperti tidak melihat apapun. Tetapi saat dia melihat sang hakim membelenggu kedua pergelangan tangan Sansheng dengan borgol tersebut, dia tak mampu menahan perkataannya: “Tuanku…….aura Alam Dewa di borgol itu kuat, Sansheng si makhluk spiritual ini adalah arwah yang menyerap aura kegelapan dari tepi sungai Wangchuan. Sepertinya tidak pantas membelenggunya dengan borgol itu.”

Moxi tidak menjawab dan terus menatap ke arah hakim yang membawa pergi Sansheng, matanya berkilau dengan sinar yang dalam. Akhirnya tatapannya mengarah ke telapak tangannya, dan tiba-tiba dia berkata: “Wuqu, seberapa kuat 49 sambaran petir dari langit?”

Wuqu tidak mengerti mengapa Moxi menanyakan hal ini, dan dia menjawab apa adanya: “satu sambaran petir mampu mengguncang bumi dan langit, tentu saja kekuatan 49 sambaran petir sangat luar biasa.”

“Apakah kau bisa dengan rela menerima sambaran petir itu karena sesuatu?”

Wuqu langsung menggeleng-gelengkan kepalanya: “Itu adalah hukuman yang akan menghancurkan jiwa!”

Moxi tersenyum simpul dan mengepalkan tangannya, suaranya pelan hampir berbisik: “Kalau bisa kutukar dengan Sansheng, akan aku terima.” Wuqu tidak mendengar dengan jelas dan ingin menanyakannya lagi, namun Moxi melanjutkan, “Wuqu, saya tidak akan menghadiri jamuan makan kaisar langit, kalau beliau ingin mengadakan jamuan untukku, berikutnya minta beliau adakan jamuan pernikahan untukku.” Setelah selesai mengucapkan ini, dia tidak menunggu reaksi dari Wuqu, dan Moxi segera menghilang pergi.

Wuqu berdiri sendirian di udara untuk waktu yang lama, seperti ingin menangis, tapi tidak ada air mata yang mengalir.

Di Alam Arwah.

Moxi mendahului Sansheng untuk bertemu dengan Yan Wang. Saat itu, Yan Wang sedang pusing tujuh keliling memikirkan bagaimana mengatasi masalah Sansheng. Kalau terlalu ringan maka tidak sesuai dengan peraturan, kalau terlalu berat, rasa hati ini tidak tega. Moxi melangkah masuk ke aula dan dengan pelan mengatakan dua kata:

“Ambil jantungnya.”

Yan Wang terperanjat oleh kehadiran Moxi yang tiba-tiba, ia langsung melompat ke bawah meja dan bergumam dengan suara gemetaran: “Aula, aula ini baru saja diperbaiki lantainya! Kenapa kau datang kesini lagi?”

Moxi menjawab dengan dingin: “Keluar.”

Yan Wang yang kerempeng dengan hati-hati mengintip keluar dari bawah meja, lalu berkata kepada Moxi dengan menyedihkan: “Tuanku! Aku juga tidak ingin menghukum Sansheng, namun yang diperbuatnya kali ini telah melanggar peraturan, aku….aku tidak bisa berbuat apa-apa!”

“Tentu dia harus dihukum.” Moxi kemudian melanjutkan, “Hukumannya adalah dengan mengambil jantungnya.”

Yan Wang terpaku dan menatap Moxi cukup lama, lalu dia berkata penuh keraguan: “Ini, ini bukannya terlalu ringan? Apalagi kali ini perbuatan Sansheng telah mengganggu tatanan langit dan bumi…..”

“Memang betul. Jika ada hukuman dari langit, aku akan membantumu untuk mengurusnya. Setelah jantung Sansheng diambil keluar, segera berikan kepadaku.”

Terdengar suara langkah ringan dari luar istana Yan Wang, milik hakim yang sedang membawa Sansheng. Moxi segera menyelinap ke balik pilar besar di aula, sembari tidak lupa untuk memberitahu Yan Wang, “Cari hantu penjagal yang cepat gerakannya, jangan biarkan dia menderita.”

Sansheng melangkah masuk mengikuti hakim, wajahnya tenang seperti biasanya ia datang untuk bergosip dengan Yan Wang. Ketika Yan Wang mengatakan ‘ambil jantungnya’, Sansheng menatap Yan Wang dengan tersenyum simpul, kemudian ia bersujud dan melakukan kowtow. Tidak sekalipun mengucapkan terimakasih ataupun mengutarakan rasa tidak puas, ia menerima hukumannya dengan tenang.

Setelah ia keluar dari aula, Bai Wuchang bertanya kepadanya “Apakah kau menyesal?”

Moxi berdiri tersembunyi di belakang mereka, ia tertegun saat mendengar pertanyaan ini.

“Tidak menyesal.”

Jari jemarinya gemetar, kemudian ia kepalkan tangannya, sinar di matanya berputar-putar, sembari terus menahan keinginan untuk melangkah keluar dan memeluk Sansheng. Moxi berpikir: kali ini dia menjawab tidak menyesal dengan yakin, maka di kemudian hari tidak boleh ada kejadian yang membuatnya menyesal.

Moxi menerima jantung Sansheng dari hantu penjagal, ia genggam dengan hati-hati kemudian ia liputi dengan aura energi dewa.

Lalu dia melihat dari kejauhan, Sansheng mendekap dadanya lalu dengan perlahan dan susah payah merangkak pulang ke batu Sansheng. Setelah puluhan ribu tahun, hati yang telah lama tenang dan tenteram ini seperti berhembus badai, seperti ditarik-tarik oleh rasa sakit yang tumpul. Dia bergumam sabar, sabar. Entah kepada siapa dia meminta untuk bersabar, apakah kepada Sansheng atau kepada dirinya sendiri.

Saat dia kembali ke Alam Dewa, tempat pertama yang Moxi datangi adalah Menara Pensucian Roh.

Di atas Menara Pensucian Roh terdapat sebuat azimat sakti bernama Pensuci Roh, yang mampu mensucikan segala macam roh di dunia ini. Tidak peduli apakah itu hantu atau siluman, setelah rohnya melewati azimat ini, kekeruhan pada jiwanya hilang dan roh itu langsung berubah menjadi seperti manusia biasa.

Moxi menggenggam hati Sansheng dan menempatkannya di depan Pensuci Roh. Setelah ia bergetar sedikit, hati yang tadinya masih hidup segera berubah menjadi seperti sebuah batu biasa. Moxi justru tersenyum, dengan riang gembira ia genggam batu itu dan membawanya kembali ke istananya yang bernama Istana Kemenangan.

Menurut kabar yang beredar di Alam Dewa, setelah melewati Ujian Kehidupannya, Dewa Perang Moxi semakin hari menjadi semakin tertutup. Bukan saja ia menolak jamuan makan yang diadakan oleh kaisar langit, tetapi seharian dia hanya menetap dalam istananya tidak pernah keluar, bahkan tempo hari ketika para dewa yang berteman baik dengannya datang berkunjung, ia tolak mereka di luar.

Di saat semua orang sibuk membicarakan Tuan Dewa ini, mendadak petir menyambar Istana Kemenangan.

Bukan sambaran petir yang kecil, 49 sambaran petir semua tepat menyambar ke istana Dewa Perang. Gelegarnya mengguncangkan Alam Dewa sebanyak tiga kali. Kaisar langit begitu terkejut hingga dia datang meskipun saat itu malam hari, dan beliau melihat Istana Kemenangan terbakar merah membara. Dewa Perang bersimbah darah bermandikan api, entah apa yang digenggam di tangannya. Meskipun wajahnya berlumuran darah terlihat menyedihkan, tetapi bibirnya tersenyum begitu hangat.

Kapan Dewa Perang pernah terlihat dengan penampilan seperti ini? Para dewa menatapnya, tidak ada seorangpun yang berani memberikan bantuan kepadanya.

Akhirnya hanya Si Ming Xingjun yang pertama kali bereaksi untuk membantunya, ia menarik Wuqu, kemudian mereka bersama-sama membantu Moxi yang dilalap lautan api. Saat ia melihat benda yang digenggam dalam kepalan Moxi, Si Ming tak tahan untuk terkesiap: “Kamu….kamu….kamu ternyata membantunya mengubah nasib.”

Para dewa mendengar ucapan Si Ming, dan mereka semua melihat ke arah benda yang digenggam Moxi, ternyata benar itu adalah jantung milik Sansheng. Saat ini jantung itu telah berubah wujud menjadi batu kristal yang berkilauan. Aura kegelapan yang meliputinya sudah tidak ada lagi, aura kejahatannya pun hilang, yang tersisa hanyalah aura dewa maha mulia yang menakjubkan. Mirip seperti bunga plum merah yang dengan bangganya mekar di tengah salju yang dingin.

Mata kaisar langit berubah gelap, dan dia menggeram dengan pelan: “Yang tidak-tidak saja! Mengubah nasib dengan melawan takdir merupakan dosa besar yang mengganggu ketertiban bumi dan langit! Apakah kamu mengira dengan menjadi dewa maka kau tidak perlu takut dengan hukuman langit?”

Wuqu tiba-tiba tersadar. Pantas saja Dewa Perang meminta Sansheng dibelenggu dengan borgol itu, pantas saja dia ingin jantung Sansheng diambil, dan pantas saja dia menanyakan tentang 49 sambaran petir. Ternyata sejak awal dia kembali, dia telah merencanakan semua ini dengan teliti.

Dia memborgol Sansheng seperti itu agar aura dewa di borgol melenyapkan aura kegelapan di tubuhnya. Kemudian jantungnya dibawa ke Alam Dewa, maksudnya adalah agar bisa merubah nasibnya dengan tuntas. Hukuman mengubah nasib dengan melawan takdir adalah disambar petir sebanyak 49 kali, sejak awal dia telah merencanakan semuanya, dan dia tidak membiarkan ada seorang pun yang tahu, dia menanggung semuanya sendirian.

Moxi menempatkan hati itu di dalam pelukannya, tanpa berkata apapun. Lalu dia berucap kepada kaisar langit: “Dalam beberapa hari ini, aku akan pergi ke Alam Arwah. Tempo hari aku tidak datang saat paduka mengadakan jamuan untuk menyambut kedatanganku kembali, kali ini mohon adakan untukku sebuah jamuan pernikahan. Moxi pasti tidak akan melewatkannya.”

Kaisar langit menatapnya cukup lama: “Demi sebongkah batu Sansheng, kau membuat dirimu terlihat begini menyedihkannya, apakah sepadan?”

“Meskipun tahu akan dihukum dengan dihancurkan jiwanya, dia masih masuk ke dalam kegelapan dan melakukan pembunuhan demi aku. Mengapa aku tidak bisa menerima derita 49 sambaran petir ini untuknya?”

“Kau tetap bersikeras untuk menikahi makhluk spiritual dari Alam Arwah itu?”

Moxi menggelengkan kepalanya: “Sekarang ini dia sudah bisa disebut sebagai seorang dewi.”

Kaisar langit menghela napasnya: “Di seluruh Alam Dewa ini, masih banyak wanita lain yang lebih baik darinya, mengapa kau justru jatuh cinta kepada sebongkah batu itu?”

Tiba-tiba Moxi teringat akan kata-kata yang diucapkan Sansheng kepada Bai Wuchang kala itu, dan dia mendadak tertawa: “Habis sudah terlanjur bertemu, aku juga tidak berdaya.”

Para dewa terdiam. Kaisar langit menatap api yang membakar Istana Kemenangan cukup lama, akhirnya ia mengibaskan lengan bajunya dan beranjak pergi. Ia hanya mengucapkan kata-kata: “Kamu ingin menikahinya, dan dia pun mau dinikahi, apakah aku masih perlu menjadi penghalang bagi kalian?”

Moxi menurunkan pandangannya, meskipun tubuhnya yang bermandikan darah terlihat menyedihkan, namun para dewa dapat melihat senyuman yang tidak bisa ia sembuyikan merekah di bibirnya.

Sansheng, Sansheng…….

Kali ini, aku akhirnya bisa menjanjikan kepadamu selamanya (22).

22. Kata asli yang digunakan adalah 永生yǒngshēng dimana ‘sheng’ yang digunakan sama dengan yang ada di nama Sansheng. Kalau nama Sansheng artinya tiga kehidupan, yongsheng artinya adalah abadi. Jadi sebelumnya Moxi hanya menjanjikan Sansheng tiga kehidupan untuk bersama-sama Moxi, sekarang Moxi bisa memberikan Sansheng selama-lamanya untuk bisa hidup bersama. Ya ampun, baper deh.

 

The Dewi
The Dewi
"I am so clever that sometimes I don't understand a single word I'm saying"

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

error: Content is protected !!