Novel TranslationsSansheng, Wangchuan Wu ShangSansheng, Wangchuan Wu Shang Translation - Chapter 13

Sansheng, Wangchuan Wu Shang Translation – Chapter 13 [INDONESIA]

author Jiu Lu Fei Xiang - Sansheng, Death Exists Not at the River of Oblivion
Jiu Lu Fei Xiang – author of Sansheng, Death Exists Not at the River of Oblivion

Kehidupan Ketiga – Mencari Yang Tidak Bisa Dimiliki

Bab 13: Moxi, Jangan Takut

Keesokan harinya, Penjaga Liu datang mencariku. Dia menarikku ke hadapan tumpukan kendi-kendi arak yang kosong, dan wajahnya seperti ingin menangis, tetapi tak ada air mata yang keluar.

Aku menghela napas, raut wajahku memperlihatkan tatapan tak berdaya: “Arak putih ini tidak populer, kita jual arak kuning sajalah.” Melihatku sebagai pemilik kedainya pun terlihat tidak peduli, Penjaga Liu tentu saja tidak mengatakan apa-apa.

Aku merasa kesal, lantas tak pulang kembali ke rumah, dan tetap tinggal di kedai minum seharian. Ternyata tidak ada seorangpun yang datang mencariku, api kemarahan di dalam hatiku semakin berkecamuk. Dengan temperamenku yang keras seperti batu, aku memutuskan untuk bermalam di kedai minum kembali.

Di hari ketiga, aku berdiri sepanjang pagi di depan pintu masuk kedai minum dengan memasang wajah yang gelap dan murung. Hal ini menyebabkan calon pelanggan merasa ngeri dan tak berani masuk untuk memesan minum. Sembari membujuk, Penjaga Liu menarik dan menyeretku masuk ke dalam kedai. Aku mencari sudut untuk duduk dan minum dalam kemurungan, dalam hati aku merasa marah dan sedih.

Setelah mulai minum, pikiranku mulai kacau dan curiga apakah ada sesuatu yang terjadi pada Moxi, maka aku mulai merasa khawatir. Dengan perasaan was was, aku tak bisa lagi terus diam di kedai minum, oleh karena itu aku berdiri ingin bergegas pulang. Namun sekonyong-konyong sesosok bayangan kecil terjun ke dalam pelukanku dan memeluk pinggangku erat-erat.

Aku menoleh ke bawah dan melihat ternyata sosok tersebut adalah Moxi! Dia memelukku, wajahnya dia lekatkan kuat ke perutku, napasnya seperti tersengal-sengal, dan belum juga tenang meskipun beberapa saat telah berlalu.

“Moxi.” Dia mengabaikanku, dan aku tetap memanggilnya beberapa kali lagi. Dia anggukkan kepalanya sembari tetap menempel ke perutku, untuk menandakan dia mendengar aku memanggilnya, “Ada apa?”

Baru kali inilah dia mengangkat kepalanya dan melihat kepadaku, kedua matanya memerah. Dia berisyarat denganku untuk mengatakan bahwa ia mengira aku telah pergi dan tidak ingin bersamanya lagi.

Aku kerutkan keningku dan menjawabnya: “Jelas-jelas kamulah yang tidak ingin bersama ku lagi.”

Mendengar perkataanku, matanya memerah kembali, sepertinya sebentar lagi dia akan menangis. Dia berisyarat denganku dengan tergesa-gesa dan panik, yang intinya adalah bahwa kemarin Bai Jiu membawanya ke pinggiran kota untuk berlatih bela diri, dia tidak pulang kembali sepanjang hari.

Setelah ia kembali pulang pagi ini, barulah dia tahu aku tidak ada di rumah, maka cepat-cepat ia mencariku kemari. Lalu ia membujukku agar tidak menyalahkannya, agar aku tidak marah lagi, kemudian setelah dia pikirkan sejenak dia tuliskan di telapak tanganku: “Kalau Sansheng tidak suka dengan guru Bai Jiu, Moxi akan berhenti belajar.”

Melihatnya seperti ini, seberapa besarnya pun amarahku, semuanya langsung lenyap menghilang.

Setelah aku menghela napas panjang, aku berlutut dan membelai rambutnya sembari berkata: “Mengapa kamu begitu menyukai Bai Jiiu? Apakah dia lebih cantik daripada Sansheng?”

Dia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pasti, dan akupun tersenyum senang: “Kalau begitu, kita cari guru yang lain untukmu ya?”

Dia terdiam sejenak, kemudian dia tuliskan di telapak tanganku: “Moxi ingin belajar bela diri.”

Aku angkat kedua alisku, terkejut mendengar perkataannya. Aku tidak menyangka Moxi memiliki keinginan ini. Saat aku sedang ingin menanyakan mengapa ia memiliki keinginan untuk belajar bela diri, tiba-tiba aku mendengar suara kasar seorang pria sedang berkoar-koar: “Tidak ada arak putih? Kalian membuka kedai minuman tetapi justru bilang tidak ada arak? Pokoknya hari ini saya harus minum!”

Penjaga Liu terus meminta maaf.

Aku kerutkan keningku lalu berkata kepada Moxi: “Kamu diam dulu di sini. Tunggu sampai aku selesaikan masalah ini, lalu kita pulang sama-sama.”

Moxi merasa tidak tenang dan ingin menahanku, maka aku tepuk-tepuk kepalanya agar tenang, lalu aku berjalan keluar.

Keningku berkerut melihat pria yang membuat onar. Tuan muda ketiga dari keluarga Guan, keluarga yang merajalalela di ibu kota, ternyata hari ini dia telah memilih kedai minumku untuk membuat keributan, sungguh luar biasa. Ayah dari tuan muda ketiga keluarga Guan ini adalah seorang pejabat tingkat satu di Mahkamah Kerajaan, sementara kakaknya adalah seorang selir kerajaan (TN: 皇妃 huáng fēi = Imperial Consort), seluruh keluarga menerima rasa simpatik dari kaisar.

Pada hari-hari biasa, siapapun yang berurusan dengan mereka, harus menunjukkan sikap hormat. Sementara itu karakter tuan muda ketiga keluarga Guan ini justru terkenal sebagai seseorang yang berkepribadian busuk. Hari-harinya dihabiskan dengan menganggur, dia paling suka pergi mengunjungi tempat-tempat hiburan, gemar dengan wanita, gemar akan uang dan gemar minum-minuman, contoh afdol seorang playboy kaya.

Seorang tokoh yang begitu legendaris bisa mendadak muncul di kedai minum ku yang tak banyak diketahui orang, hal ini membuatku terkejut.

Penjaga Liu masih terus meminta maaf kepadanya, maka aku menahannya agar berhenti, lalu aku berkata kepada tuan muda ketiga Guan: “Toko saya tidak jual arak putih hari ini, jika tuan ingin minum arak putih, ada beberapa restoran besar di sudut jalan di depan.”

Tuan muda ketiga Guan melihat ke arahku, dia pincingkan matanya untuk menatapku dari ujung rambut sampai ujung kaki, tatapan matanya yang menjijikkan membuatku ingin mencongkel matanya keluar. Dia mengelus-elus dagunya dan berkata sembari tersenyum: “Dalam perjalanan kesini, saya mendengar bahwa pemilik kedai minum ini adalah seorang janda, ditinggal mati suami dengan seorang anak. Saya juga dengar katanya penampilannya tidak tua sama sekali dan justru parasnya cantik rupawan. Tadinya saya tidak percaya….tetapi ternyata rumor ini benar adanya, sungguh seorang wanita jelita yang menawan.

Aku berkata dengan ringan: “Rumor itu hanya benar sebagian.”

Dia tertegun ketika melihat reaksiku yang tidak marah ataupun kesal, setelah ia tersadar, senyum di wajahnya berubah tidak senonoh. Dia berjalan ke arahku, sembari berlagak seperti ingin menangkapku: “Hahaha! Mereka rupanya lupa mengatakan kepadaku kalau nona ini adalah seorang pelacur yang kesepian! Malam ini mari ku berikan kau kehangatan.”

Aku melihat langkahnya semakin mendekat, dalam hati aku menimbang-nimbang, baiknya aku potong dulu lidahnya ataukah aku congkel dulu matanya. Atau langsung ku kebiri saja dia, lalu ku gantung burungnya di atas menara gerbang kota, bukan hanya sebagai kontribusiku bagi para wanita di seluruh dunia, tetapi juga sebagai peringatan kepada para bajingan yang lain.

Tiba-tiba sesosok bayang kecil bergegas datang dan mendorongnya dengan keras hingga dia terjatuh ke tanah.

Di saat aku masih tercengang, sebuah guci arak menghantam tubuh tuan muda ketiga Guan, membasahi seluruh tubuhnya dengan arak kuning.

Semua terasa hening untuk sejenak.

Moxi sepertinya masih belum merasa puas, maka dia pergi ke belakang meja kasir dan mengambil secarik kertas lalu ditulisnya dengan huruf besar ‘PERGI KAU’, dan dia lempar kertas itu ke arah tuan muda ketiga Guan.

Selain saat kami di Alam Arwah, sewaktu Moxi menembaki ku dengan bola-bola api, aku belum pernah lagi melihat dia semarah itu. Mungkin dia pernah marah sedahsyat itu, tetapi karena saat itu dia sudah dewasa, pemikirannya sudah matang, maka dia mengerti bagaimana harus bersabar. Tetapi saat ini, dia masih kanak-kanak, begitu merasa marah, maka dia langsung mengamuk secara terang-terangan.

Aku melirik ke arah keramaian orang yang menonton, yang seketika mulai bubar. Sementara itu, wajah Penjaga Liu seperti telah paham bahwa bencana sudah dekat, dan para pekerja di kedai juga berubah pucat. Rasanya semua orang sudah tahu pembalasan seperti apa yang menanti kami.

Tetapi meskipun mereka merasa takut, aku tidak merasa takut.

Baru saja aku ingin memuji Moxi, tetapi Moxi malah menarik ku ke bawah dan memelukku, sembari menepuk punggungku berulang kali. Sepertinya dia sedang berusaha membuatku tenang, agar aku tidak takut, sepertinya dia ingin mengatakan, “Tidak apa-apa, Sansheng, jangan takut, Moxi akan melindungimu.”

Aku tak tahu mesti menangis atau tertawa melihat tingkahnya, tetapi hatiku merasa tersentuh. Saat aku sedang memeluknya sembari bergetar karena bahagia, aku melihat tuan muda ketiga Guan yang terjatuh di tanah tiba-tiba bangkit dan ingin menghantam kepala Moxi dengan pecahan guci arak.

Untuk sejenak pikiranku kosong, aku hanya terpikir bagaimanapun juga tidak ada seseorang pun yang boleh menyakiti Moxi ku. Seketika aku raih kepala Moxi ke dalam pelukanku dan mencondongkan tubuhku ke depan. Aku hanya merasakan rasa nyeri yang tajam di atas kepalaku. Meskipun aku adalah arwah sebuah batu, pandanganku pun berubah gelap terkena serangan ini, langit terasa berputar untuk beberapa saat.

Moxi terperanjat di dalam pelukanku, dia ulurkan tangannya dengan berhati-hati untuk menyentuh darah yang hangat dan lengket yang secara perlahan mengalir di keningku.

Aku berkata kepadanya:

Moxi, jangan takut.

Wajahnya berubah pucat pasi.

Sementara itu tuan muda ketiga Guan menjerit-jerit kepalanya sakit, dia berteriak akan membunuh aku dan Moxi, akan memenggal kepala kami sebagai ganjaran telah menyakitinya.

Rasa marah dalam hatiku mulai berkobar hebat, dan tergerak keinginanku untuk membunuhnya. Selama ribuan tahun, belum pernah aku diperlakukan seperti ini. Tuan muda ketiga dari keluarga Guan adalah yang pertama kalinya berbuat demikian. Saat ini aku sangat ingin memotong burungnya untuk ku goreng, kemudian akan suruh dia makan sendiri sampai habis, lalu kita lihat; bisa tidak dia tumbuhkan lagi. Enak saja memenggal kami sebagai ganjaran!

Yan Wang melarangku untuk membunuh siapapun di Alam Fana, tetapi masih banyak cara lain yang bisa membuat hidup seseorang lebih buruk daripada kematian.

Kebuasan berkumpul di mataku, ujung jari jemariku dipenuhi kekuatan kegelapan, kalau dia mendekat selangkah lagi, akan aku putuskan jalur keturunannya.

Seketika itu juga, tiba-tiba seseorang meraih lengan tuan muda ketiga Guan, menariknya hingga terhuyung-huyung dan jatuh ke tanah dengan memalukan. Tampaknya kemarahan pria itu belum mereda maka ia menendangnya lagi dengan keras sembari memaki: “Siang hari bolong, ternyata ada sampah bermulut besar yang merajalela!”

Suara ini terdengar familiar, aku usap darah yang mengalir dari keningku dan kulihat orang itu dengan jelas—-

Bai Jiu.

Aku cibirkan bibirku dan melihat ke arah Moxi, yang wajahnya malah terlihat sangat senang. Hatiku merasa semakin cemburu, lalu ku pegang kepalaku dan menjatuhkan badanku kepada Moxi sembari berpura-pura lemah: “Moxi, Sansheng kesakitan….”

Moxi langsung panik dan memelukku erat-erat, mata bulatnya langsung memerah, tapi dia tidak berani menangis. Aku menyandar kepada Moxi, sembari melirik penuh hasutan ke arah Bai Jiu. Tetapi saat ini, bagaimana dia bisa punya minat untuk meladeni ku.

Tuan muda ketiga Guan betul-betul seorang bedebah yang tidak berguna, baru saja ditendang sekali oleh Bai Jiu, dia justru langsung pingsan! Bertengkar dengan pembuat onar ini adalah sesuatu hal yang bisa dibilang biasa, seorang anak kecil membalasnya juga hal biasa, dan berkelahi dengannya pun masih bisa disebut biasa, tetapi membuat dia sampai pingsan adalah suatu hal yang benar-benar luar biasa.

Bai Jiu melirik tajam ke arah kejauhan lalu berkata kepada Penjaga Liu: “Hari ini tidak usah buka kedai.” Kemudian ia bertanya kepadaku, “Kau masih mampu berjalan?”

Dalam hati ku berpikir, hari ini tuan muda ketiga Guan dihajar sampai pingsan, ayahnya pasti tidak akan melepaskan kami. Menyinggung seorang pejabat Mahkamah Kerajaan jelas bukanlah suatu hal yang baik dalam hidup Moxi. Saat ini jalan satu-satunya adalah melarikan diri secepatnya sebelum para tentara kerajaan menemukan kami. Kami harus pergi meninggalkan ibu kota, lalu mengubah identitas masing-masing baru kemudian memikirkan langkah selanjutnya.

Aku berhenti berpura-pura lemah dan menyeka darah di kepalaku: “Ini luka gores saja, bukan masalah besar.”

Bai Jiu mengerutkan keningnya, tanpa berkata apa-apa.

Sekembalinya kami ke rumah, sebenarnya aku ingin segera berbenah agar kami bisa segera melarikan diri, tetapi Moxi justru bersikeras untuk membalut lukaku terlebih dahulu, dan menolak untuk pergi.

Dalam masa kehidupan ini, aku belum pernah menggunakan sihir di depan Moxi. Saat ini, tentu saja aku tidak ingin membocorkan rahasiaku, oleh karena itu aku hanya bisa patuh menunggu Moxi selesai membersihkan dan membalut lukaku dengan tangan gemetar.

Seberapapun kuatnya tuan muda ketiga dari keluarga Guan, dia hanyalah seorang anak pejabat yang kaya. Para tentaranya pun meskipun tangguh, paling cepat baru bisa datang besok.

Tetapi aku tidak menyangka, para tentara justru telah datang di malam hari itu.

Mereka bersiaga di sekeliling halaman, tidak berani masuk. Aku bisa mendengar langkah kaki mereka yang berat, dan aku bisa tahu bahwa mereka bukan tentara biasa. Hanya demi menangkap seorang perempuan dan seorang anak kecil yang telah memukul tuan muda ketiga Guan, aksi ini tampaknya agak berlebihan. Aku menoleh dan menatap ke arah Bai Jiu yang berada di halaman, punggungnya mengarah kepadaku, sosoknya tampak suram.

Karena itulah, saat aku mendengar suara dari arah luar halaman berseru: “Jenderal Pemberontak Bai Qi! Menyerahlah, tidak ada gunanya kau melawan!” aku sama sekali tidak merasa terkejut.

Sewaktu aku menolongnya, aku telah tahu orang ini bukanlah orang biasa, tetapi aku tetap tak menyangka ternyata dia seseorang yang memiliki masalah serumit ini.

Bai Qi adalah seorang jenderal kaum pemberontak. Kabarnya dia tidak puas dengan pengangkatan pejabat yang korup oleh kaisar dan penerapan kebijakannya yang kejam, maka ketika ia berperang dengan para barbar dari timur, dia justru menyatukan kekuatan dengan mereka. Kemudian ia justru berbalik menyerang Mahkamah Kerajaan, berniat untuk menumbangkan kekaisaran dan mengangkat dirinya sendiri sebagai kaisar.

Seseorang yang seperti ini, tidak disangka telah menyebabkan kami ikut terjerembab. Pantas saja saat itu ibu kota diberlakukan darurat militer berhari-hari dan pantas saja mereka bisa menemukan kami secepat ini.

Moxi menggenggam erat lengan bajuku sembari gemetar hebat, aku mengelus-elus kepalanya sembari berkata lembut: “Jangan takut. Ada Sansheng disini.”

Dia justru menggelengkan kepalanya dan menuliskan di telapak tanganku: “Moxi akan melindungi Sansheng.” Sepasang matanya bersinar dalam kegelapan.

Aku berpikir, terlepas dari perselisihan yang terjadi antara aku dan Bai Jiu, dia telah menunaikan kewajibannya sebagai guru dengan baik. Ilmu yang Moxi pelajari selama sebulan ini jauh melampaui semua yang dia pelajari selama tiga tahun bersekolah.

Jikalau Bai Jiu bisa terus membimbing Moxi, dengan karakter Moxi yang rajin belajar dan mau bekerja keras, tidak ada batas akan apa yang bisa dicapai Moxi di masa depan.

Terlintas di pikiranku untuk menyelamatkan Bai Jiu, tetapi kemudian aku berpikir: “Saat ini kalau aku memperlihatkan sihirku di depan Moxi, bagaimana dia akan memandangku? Dan bagaimana Bai Jiu juga akan memandangku? ”

Tanpa memberikanku banyak waktu untuk berpikir, Bai Jiu sudah melangkah keluar.

Dia membuka pintu halaman dan di luar telah menunggu para tentara berbaju besi hitam dan bersenjata lengkap. Bayangan pijar api menyala yang terpantul dari pedang-pedang mereka menusuk mataku. Tetapi selain itu, aku juga bisa merasakan kehadiran suatu energi pekat yang membuatku merasa takjub sekaligus sesak.

Pandanganku menerawang jauh melewati pintu gerbang; sebuah pelangkin (TN: tandu kekaisaran) berwarna kuning cerah terletak di luar barisan, dikelilingi oleh para tentara kerajaan.

Aku mengangkat kedua alisku, merasa terkejut. Tidak disangka penguasa zalim yang sering dijadikan bahan pembicaraan ini ternyata sangat perhatian kepada Bai Qi, sehingga dia datang sendiri untuk menangkapnya.

Tanpa kusadari aku menghela napas diam-diam. Kali ini, meskipun aku mau membantu Bai Jiu, aku khawatir, aku tidak akan bisa melakukannya.

Bagi para makhluk Alam Arwah, tubuh kaisar alaminya membawa aura naga pekat yang membuat kami takut. Meskipun itu seorang kaisar yang bodoh, aura naga di tubuhnya masih cukup untuk bisa menekan kuat makhluk dari Alam Arwah sehingga ia tak mampu mendongakkan kepalanya. Walaupun aura naga saat ini tidak sebegitu parahnya menekan hingga aku tak mampu mendongakkan kepala, namun kekuatan di tubuhku terasa jauh melemah.

“Jenderal Pemberontak Bai Qi! Kau telah berkhianat terhadap kekaisaran dengan berpihak kepada musuh dan membunuh warga dari negaramu sendiri! Dan sekarang pun kau berani berusaha membunuh Paduka Kaisar! Kejahatan kejimu tidak termaafkan…”

Kasim tersebut mendaftarkan satu per satu kejahatannya dengan suara seperti bergumam, lalu Bai Qi mencibir: “Banyak cingcong! Kalau kau ingin menangkapku, sini maju.”

Setelah Moxi mendengar perkataan ini, badannya gemetar dan ingin melangkah keluar, tetapi aku menahannya dan menggeleng-gelengkan kepalaku kepadanya.

Pada dasarnya Sansheng adalah seorang makhluk spiritual yang egois, mampu membedakan antara hubungan pertemanan. Hubungan persahabatanku dengan Bai Jiu terasa tidak cukup untuk mengorbankan hidupku dan Moxi demi menyelamatkan dia. Perbuatan yang akan menyinggung kaisar tidak ada manfaatnya bagi hidup Moxi sama sekali.

Kasim itu mendengus dengan angkuh: “Ayo maju! Kenapa tidak segera ditangkap penjahat ini?!” Pasukan tentara bergegas maju.

Wajah Bai Jiu berubah suram, lalu sembari mencibir ia langsung mematahkan lengan seorang prajurit dan dia renggut tombaknya. Kemudian ia putar tangannya untuk menghujamkan tombak itu ke dada seorang prajurit lain yang datang mendekat, dan dia berkata sembari tersenyum: “Kemampuan kalian tidak cukup untuk menangkapku.”

Ternyata bukanlah sekedar gosip bahwa Jenderal Pemberontak adalah seorang pemberani yang pandai berkelahi dengan kemampuan bela diri yang tinggi.

Air muka si kasim langsung berubah, lalu dia melihat ke arah pelangkin kuning cerah tadi.

Dari arah pelangkin hanya terdengar dua tepukan tangan yang lembut.

Keningku mengerut, aura membunuh di halaman terasa menjadi berat. Aku melihat ke sekeliling, dan ternyata entah sejak kapan, tembok halaman telah dipenuhi oleh pemanah yang telah menarik kencang busur panah mereka. Biasanya, aku mampu menumbangkan mereka satu per satu bahkan sebelum mereka naik ke atas tembok. Tetapi hari ini, kehadiran kaisar telah benar-benar mengacaukan semua inderaku.

Aku meraih Moxi ke dalam pelukanku, dan kekuatan kegelapan diam-diam berkumpul di tanganku.

Wajah Bai Jiu menegang, dia memandang sekilas ke arah semua prajurit yang telah mengelilingi halaman kecil ini, kemudian ia berseru ke arah pelangkin di kejauhan: “Ini tidak ada hubungannya dengan mereka, aku akan ikut pergi denganmu, lepaskan mereka.”

Si Kasim mencondongkan telinganya ke sisi pelangkin, mendengarkan dengan seksama untuk sejenak, kemudian ia lambaikan tangannya, dan para pemanah segera menurunkan kembali busur dan panah mereka.

Bai Jiu melemparkan tombak di tangannya ke tanah, kemudian seorang prajurit melangkah maju untuk membelenggunya dengan rantai besi. Aku tatap sosok punggungnya dan aku hanya bisa menghela napas. Bai Jiuu, Bai Jiu, kau adalah seorang jenderal yang hebat, harusnya kau tahu bahwa hati manusia itu keji, bagaimana kau bisa dengan mudahnya mempercayai dia?

Meskipun orang itu adalah seorang kaisar.

Tanpa menunggu Bai Jiu berjalan menjauh, kasim itu kembali berseru: “Tembak!”

Bai Jiu yang dibawa pergi oleh lima atau enam orang tentara menolehkan kepalanya, takjub. Lalu dengan marah ia meneriakkan: “Penindas…” Belum selesai dia berucap, anak-anak panah telah melesat dari busur mereka sesuai perintah.

Panah tajam yang tak terhitung jumlahnya melesat di udara, aku dekap Moxi sembari berdiri di tengah halaman, tidak ada tempat bagi kami untuk bersembunyi.

Pilihanku sekarang adalah mati, atau mengungkapkan kekuatan spiritualku.

Aku tertawa, apa masih perlu untuk aku memilih?

Moxi masih disini, Ujian Kehidupannya masih belum datang, aku tidak bisa menjadi penyebab dia menjadi lalai.

Sejak awal, aku telah memindahkan kekuatan kegelapan yang terkumpul di tangan, ke perutku. Aku pejamkan mata dan berkosentrasi, lalu aku menjerit kencang, menembakkan seluruh kekuatan kegelapan di tubuhku. Seluruh anak panah terpantul kembali dengan kuat.

Dalam sekejap, suara teriakan dan ratapan terdengar sampai cukup lama. Satu per satu prajurit jatuh dari tembok, terhujam oleh anak panah yang kupantulkan kembali. Para prajurit yang tidak terlukapun saat ini tertegun ngeri dan menatap bodoh ke arahku.

Semua menjadi sunyi senyap.

Tatapan semua orang memandang ke arahku, dan aku menghela napas sembari sedikit merasa canggung: “Adalah kesalahanku memiliki wajah begitu cantik jelita.”

“Siluman!” Entah siapa yang tiba-tiba berteriak, kerumunan orang-orang di sekeliling kini mulai menjadi bising.

Aku genggam tangan kecil Moxi yang terasa sedikit dingin dan tersenyum ke wajah mungilnya yang pucat, lalu berkata dengan nada normal, ibarat sedang menyuruhnya pulang untuk makan: “Moxi, jangan takut. Ada Sansheng disini.”

Dia memandangku sembari tercengang. Tanpa kusadari, aku mulai merasa gelisah dan terpikirkan kembali dua masa kehidupan sebelumnya yang berakhir suram. Maka, aku tak tahan untuk berkata: “Jangan dengarkan omong kosong mereka, Sansheng bukan siluman.”

Tetapi saat ini, aku tidak punya waktu.

Dengan menggunakan sedikit kekuatan yang tersisa di perutku, aku melompat ke sisi Bai Jiu. Sementara para tentara belum bereaksi, aku jatuhkan beberapa prajurit perkasa yang menahan Bai Jiu. Lalu aku raih lengan Bai Jiu dan terbang kembali ke sisi Moxi.

Aku abaikan tatapan mata mereka yang masih terperangah,dan aku gerakkan ujung jariku untuk memutuskan rantai besi tebal yang membelenggu tangan Bai Jiu. Kemudian aku dorong Bai Jiu sembari mengatakan: “Bawa Moxi, aku tahan mereka di sini.”

Aku pikir, meskipun Bai Jiu tangguh, dia tetaplah seorang manusia fana. Ada begitu banyak tentara disini, dan juga banyak pemanah. Kalau aku meminta Bai Jiu yang menahan mereka, pertama-tama bukan hanya itu tidak aman tetapi kedua, itu juga tidak baik.

Aku selalu merasa percaya diri dengan kemampuanku. Meskipun jika kekuatanku hanya tersisa sedikit, aku masih cukup percaya diri. Lagipula, semua yang ada disini adalah manusia fana, paling mereka hanya bisa menggoresku.

Setelah terpikirkan ini, aku semakin mendesak Bai Jiu untuk membawa Moxi pergi. Jika mereka tetap berada disini, aku tidak bisa unjuk gigi.

Setelah Bai Jiu menyaksikan kekuatan jeritanku barusan, dia tidak berkomentar apapun lagi kepadaku, dan dia berpamit: “Jaga dirimu.” Lalu ia dekap Moxi, bersiap-siap untuk kabur.

Tetapi Moxi justru meronta-ronta di dalam pelukannya, tangannya menggenggam erat lengan bajuku dan tidak mau lepas, seperti ingin mengatakan dia lebih baik mati bersamaku.

Di saat aku sedang kewalahan, mendadak para prajurit kaisar mulai bereaksi. Kasim berseru dengan suara melengking: “Tangkap siluman dan pemberontak itu! Kalian akan diberikan banyak imbalan!” Namun para prajurit, masih teringat akan kekuatan jeritanku tadi, mereka masih merasa ketakutan dan enggan bergerak maju.

Aku menggunakan kesempatan ini untuk mengelus-elus rambut lembut Moxi dan berkata: “Moxi, jangan takut. Sansheng sangat tangguh. Kalian pergilah dahulu, nanti aku akan segera menyusul.”

Dia masih saja keras kepala tidak mau lepas, matanya diselimuti kepanikan dan rasa takut.

Sementara itu, para prajurit mulai bergerak, aku mulai kehabisan akal. Maka dengan kejam, aku lepas jari jemarinya yang menggenggam lengan bajuku, satu per satu.

Tatapan matanya seperti tidak percaya.

Aku tidak tega melihatnya. Lalu aku hempaskan tangannya, aku berbalik dan bergerak dua langkah ke depan, kemudian aku berkata dengan dingin: “Pergi!”

Moxi tidak bisa berbicara, maka aku tak tahu bagaimana akhirnya dia pergi. Hanya saja bulir air matanya yang menetes di punggung tanganku terasa panas menyengat.

Tidak apa, pikirku, ini toh bukan perpisahan untuk selama-lamanya. Aku akan segera bisa bertemu Moxi kembali.

Para tentara melihat Bai Jiu melarikan diri, dan untuk sesaat mereka semua panik. Beberapa orang yang bernyali besar melesat maju, berniat untuk melewatiku dan langsung mengejar Bai Jiu.

Aku tersenyum: “Tunggu dulu.”

Ini adalah peringatan yang lembut. Tetapi pada saat yang sama, aku kumpulkan kekuatan kegelapan di ujung jemariku, dan aku lambaikan tanganku. Halaman kecil kini terpotong dengan garis panjang yang tipis namun dalam dan sempit, yang melintas dan membagi halaman menjadi dua bagian. Di satu sisi adalah para tentara, dan di sisi yang lain adalah tempatku berdiri.

Aku tersenyum, namun suaraku mengandung aura kegelapan ribuan tahun sungai Wangchuan: “Kalau kalian melewati batas ini, maka akan aku kebiri.”

The Dewi
The Dewi
"I am so clever that sometimes I don't understand a single word I'm saying"

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

error: Content is protected !!