Novel TranslationsSansheng, Wangchuan Wu ShangSansheng, Wangchuan Wu Shang Translation - Chapter 14

Sansheng, Wangchuan Wu Shang Translation – Chapter 14 [INDONESIA]

- Advertisement -
author Jiu Lu Fei Xiang - Sansheng, Death Exists Not at the River of Oblivion
Jiu Lu Fei Xiang – author of Sansheng, Death Exists Not at the River of Oblivion

Kehidupan Ketiga – Mencari Yang Tidak Bisa Dimiliki

Bab 14: Rupanya Kamu

Aku mengira dengan kini hanya tersisa diriku sendiri, melarikan diri akan menjadi mudah. Cukup dengan menggunakan satu mantra menarik langkah seribu, aku bisa segera menyusul Moxi.

Namun hidup tidak selalu sejalan dengan yang ku inginkan.

Aku sama sekali tidak menyangka bahwa sang kaisar akan turun tangan sendiri, dan lebih tidak menyangka lagi bahwa penguasa yang dikabarkan tidak becus ini ternyata adalah seseorang yang berkarakter kejam.

Dia menghantamku dengan kekuatan spritual yang kuat lalu mengungkung ku dengan jaring besi, jelas saja aku langsung tertangkap.

Sebelum aku diseret masuk ke dalam penjara, aku terpikir untuk menunggu sampai kaisar pergi menjauh agar tenagaku bisa pulih, lalu aku akan kabur.

Tetapi setelah akhirnya aku berada di dalam penjara, aku hanya bisa menghela napas lemah tak berdaya. Tampaknya bagi sang kaisar, Bai Jiu adalah sosok yang sangat penting. Kalau tidak, kenapa lagi aku harus dikurung di penjara bawah tanah tepat di istana.

Dengan metode ini, pertama-tama kaisar ingin mencegahku melarikan diri, dan kedua agar lebih mudah untuk mengorek informasi dariku tentang keberadaan Bai Jiu dan Moxi. Tetapi yang mereka tidak ketahui adalah dengan cara seperti ini mereka telah secara tidak sengaja menekan kekuatan ku hingga pada kondisi terlemah.

Karena aku tidak bisa melarikan diri, maka aku mengambil sikap tenang bersiap untuk menjalani hari-hari dengan hidup damai di dalam penjara bawah tanah yang gelap ini.

Alat penyiksaan di Alam Fana bukan merupakan ancaman yang berarti bagiku. Setiap hari mereka mencambukku, tapi bagiku terasa seperti sedang digaruk-garuk saja.

Hanya saja aku merasa sangat dirugikan dengan garukan harian ini.

Setiap hari mereka bertanya kepadaku akan keberadaan Moxi, yang jelas saja tidak aku ketahui, tetapi kalau aku menjawab dengan jujur, mereka tetap bersikeras mengatakan aku tidak jujur. Aku berpikir, tunggu saatnya nanti saat kalian semua masuk ke Alam Arwah, aku akan meminta kawan-kawanku untuk bertanya kepada mereka; apakah mereka punya otak atau tidak. Kalau mereka menjawab mereka punya otak, maka akan ku libas habis. Tetapi kalau mereka menjawab mereka tidak punya otak, maka mereka akan langsung dihukum penggal dan dibawa untuk bereinkarnasi menjadi hewan.

Mereka tidak pernah percaya kepadaku, hingga lambat laun akupun malas menjawab pertanyaan mereka. Lama kelamaan, merekapun hanya datang untuk mencambukku dua kali untuk sekedar rutinitas.

Setelah sangat lama waktu berlalu, tak ada lagi yang datang untuk menghukumku, dan juga tidak ada lagi yang datang untuk memberiku makan. Dengan demikian, maka aku tetap berada di dalam kurungan, melewati hari tanpa kenal siang dan malam. Mereka ingin agar aku mati kelaparan, tapi mereka tidak mengetahui bahwa sebagai roh sebuah batu, selama aku terus menerima energi dari bumi, aku tetap bisa hidup selama ratusan tahun tanpa makan dan minum.

Satu-satunya hal yang aku khawatirkan adalah aku tak lagi kenal waktu, tak tahu lagi bagaimana kabar Moxi di luar sana.

Sepertinya penjara bawah tanah ini sangat tersembunyi. Sudah begitu lama aku dikurung disini, tetapi tidak pernah melihat ada orang lain yang dibawa masuk. Rasanya kalau aku adalah seorang manusia biasa, sekalipun aku sudah menjadi tulang belulang disinipun tidak akan ada orang lain yang tahu.

Untungnya aku tidak takut akan kegelapan. Sebaliknya dengan kondisi seperti ini, aku bisa berlatih tanpa ada gangguan.

Lama waktu berlalu, dan kekuatan spiritualku pun mengalami sedikit perkembangan. Tetapi masih belum cukup untuk bisa keluar dari sini.

Setelah entah berapa lama lagi, aku akhirnya mendengar suara selain suara tikus merangkak lewat. Semuanya bisa terdengar begitu jernih dalam kegelapan.

Suara pintu dibuka, kemudjan langkah kaki yang berjalan masuk, semua milik satu orang.

Aku tercengang, bukankah datang demi memeriksa tahanan….

Cahaya api bergerak melewati sudut ruangan, dan secara perlahan mendekat ke arahku. Aku pincingkan mataku untuk mengamati sosok orang yang datang—seseorang yang berumur sekitar 20 atau 30an tahun, berjubah putih bersih seperti salju, sama sekali tidak pantas untuk berada di penjara ini. Wajahnya terlihat sangat familiar di bawah sinar cahaya api.

Dia melihat ke arahku, wajahnya yang tenang terlihat mulai berubah.

Aku memakluminya, meskipun aku tidak tahu sudah berapa lama aku berada di penjara bawah tanah ini, tetapi paling tidak sudah berlalu sekitar 10 tahun. Melihat seseorang yang sudah dikurung selama 10 tahun tanpa makan dan minum tetapi masih bisa hidup, siapa yang tidak akan takut? Belum lagi melihat penampilanku yang mengerikan, dia sudah cukup disebut sebagai pemberani dengan tidak langsung melemparkan obornya dan berlari keluar sembari berteriak ketakutan.

“Sansheng.” Dia memanggil namaku dan menghela napasnya pelan, “Aku Chang’an.”

Aku kerutkan dahiku untuk mengingat-ingat, ingatanku akan nama ini agak buram, lama baru aku bereaksi: “Oh, murid Liubo yang bernyali kecil seperti tikus.” Sudah terlalu lama aku tidak berbicara, suaraku serak, tidak enak didengar.

Ia kerutkan dahinya: “Aku akan menolongmu keluar.”

Aku berdehem, lalu berkata sembari tersenyum: “Sekarang kamu terlihat gagah, beda dengan sewaktu kecil yang selalu takut aku sambar?”

Dia terlihat seperti tak tahu mesti menangis atau tertawa: “30 tahun berlalu sejak kita terakhir bertemu, Sansheng ternyata masih ingat dengan jelas.”

30 tahun. Aku tercengang.

Di masa kehidupan sebelumnya, saat Zhonghua membunuhku dan aku pergi kembali ke Alam Arwah, aku harus menunggu di sana selama 2 tahun. Lalu aku kembali bereinkarnasi dan menemukan Moxi, dan kami hidup bersama selama 8 tahun, maka totalnya adalah 10 tahun. Tetapi Chang’an mengatakan bahwa kami telah terpisah selama 30 tahun.

Ternyata, aku telah dikurung di tempat ini selama 20 tahun.

20 tahun…. Tandanya Moxi tahun ini berumur 28 tahun, bagaimana rupa dia sekarang?

Meninggalkan istana ternyata jauh lebih mudah dari yang aku bayangkan.

Entah darimana asalnya, tetapi Chang’an bisa memberikanku satu set pakaian pelayan. Setelah aku berganti pakaian, dia justru membawaku keluar dari istana secara terang-terangan. Sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya setiap orang yang kami temui membungkuk hormat kepadanya, sembari menunduk dan memanggilnya: “Yang Mulia Pendeta Kerajaan.”

“Pendeta Kerajaan?” Setelah keluar dari istana, aku berdiri di bawah sinar matahari yang telah lama tidak kulihat, lalu aku ucapkan mantra untuk memurnikan diriku dan mengembalikan penampilanku ke seperti sebelumnya. Aku bertanya padanya: “Bukankah Liubo selalu memandang rendah orang-orang seperti itu?”

Dia menatapku: “Panjang ceritanya. Aku akan membawamu untuk bertemu seseorang. Mari kita bicarakan hal ini dalam perjalanan.”

Chang’an menceritakan kepadaku bahwa setelah melewati bencana, Liubo terus mengalami penurunan dan tidak lagi berjaya seperti dahulu. Para murid Liubo pun harus melepas ambisi mereka untuk berlatih ilmu mencapai keabadian dan kembali berintegrasi dengan dunia sekuler. Dia tahu aku telah menyelamatkan nyawanya, tapi kemudian aku justru dibunuh oleh Zhonghua. Di dalam hatinya selalu tersimpan rasa bersalah, maka ia terus mencari reinkarnasiku untuk membalas budi.

Dia bertanya: “Sansheng, kenapa kau masih memiliki ingatan akan kehidupan sebelumnya?”

Aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskan kepadanya tentang hukum karma akibat dari kehidupan masa itu. Maka aku renungkan sejenak sebelum menjawab: “Kemungkinan karena aku tidak bisa melupakan Yang Mulia mu.”

Dia mengangguk-angguk kan kepalanya, dan tidak bertanya lebih jauh, namun berkata: “20 tahun lalu, terdengar kabar angin akan kemunculan sosok siluman yang ditangkap langsung oleh paduka kaisar. Tadinya aku tak terpikirkan kalau itu adalah kamu, tetapi 10 tahun yang lalu, ada seseorang yang mencariku dan memintaku untuk pergi ke istana untuk menyelamatkan seseorang. Barulah aku tahu yang ditangkap adalah kamu. Setelah tahu itu adalah kamu, tentu saja aku harus menyelamatkanmu. Oleh karena itu, aku pergi masuk ke istana dengan menggunakan identitasku sebagai Pendeta Kerajaan. Selama bertahun-tahun belakangan ini aku selalu mencari tahu kabar tentang dirimu. Butuh waktu bertahun-tahun tapi akhirnya aku bisa menyelamatkanmu.”

“Yang memintamu untuk menolongku, apakah dia bernama Moxi?”

“Ya, tapi juga tidak.” Dia kemudian tersenyum, “Sansheng, apakah kau tahu yang kau sebut Moxi ini, sekarang telah menjadi seperti apa orangnya?”

Aku gelengkan kepalaku. Dia pelankan suaranya: “Meskipun sekarang ini ibu kota masih aman, tetapi dalam medan perang di depan, tentara kerajaan telah dikalahkan berkali-kali. Tidak sampai 3 bulan lagi, negara ini akan berpindah tangan.” Aku terkejut, lalu dia melanjutkan: “Yang membantai musuh di garis depan medan pertempuran, yang menghukum puluhan ribu anggota Mahkamah Kerajaan, yang membawa eksploitasi militer luar biasa bagi para pasukan pemberontak, tak lain adalah Moxi.”

“Dan yang memintaku untuk menolongmu…” Sembari dia bercerita, dia membawaku ke sebuah halaman kecil yang terletak di ujung sebuah lorong yang panjang. Dia membuka gerbang, dan aku melihat seorang pria yang sedang duduk di halaman.

Aku naikkan kedua alisku: “Oooh, rupanya kamu.”

Bai Jiu. 20 tahun merupakan waktu yang cukup lama bagi manusia fana. Tubuhnya masih tinggi dan tegap, tetapi rambutnya sudah beruban, dan wajahnyapun sudah berkerut.

Dia memandangku dan sepertinya sangat terkesima: “Kamu….sama sekali tidak berubah.”

Aku mengerutkan keningku dan berkata secara spontan: “Aku bukan siluman.”

Dia mencibir dan berkata sembari mengejek: “Apakah penting apakah kau siluman atau bukan? Siluman memangsa manusia, dan manusia pun memangsa manusia. Semua sama saja.” Dia terdiam sejenak, lalu berkata: “Aku sudah tua, tetapi aku masih terus teringat akan  hutang budiku di kala itu. Sekarang akhirnya aku bisa menyelamatkanmu, berakhir sudah rasa penyesalanku atas kejadian di masa lalu.”

Aku paling sebal dengan manusia yang meratap di depanku dan mengatakan diri sendiri sudah tua. Maka aku memotong pembicaraan dengan bertanya: “Dimana Moxi?”

“Saat ini seharusnya dia berada di Rongshan.” Bai Jiu merenung sejenak lalu mengatakan: “Anak itu amat merindukanmu. Siang malam tak henti-hentinya memikirkanmu.” Suaranya terdengar pelan dan seperti tak berdaya.

Aku memandang Bai Jiu dengan heran, kecemburuan yang telah lama tersemat dalam hati kembali muncul. “Aku menyukai Moxi, dan Moxi juga menyukaiku. Kalau aku tidak berada di sisinya, bukankah wajar kalau dia merindukanku? Apakah seharusnya dia justru merindukanmu?  Menjalin hubungan asmara terlarang denganmu?”

Chang’an yang berada di samping kami tak mampu menahan tawanya.

Bai Jiu pun tidak marah, sepertinya dia tidak tahu apakah dia harus menangis atau tertawa. “Kau sudah dikurung begitu lama, mengapa perangaimu tidak juga berubah sama sekali?”

Aku abaikan mereka: “Aku menyelamatkanmu, dan kau pun telah menyelamatkanku, maka bisa dibilang kita sudah impas. Kalau begitu, aku berpamit dahulu. Aku ingin pergi mencari Moxi.” Baru saja aku akan angkat kaki, tetapi aku mendadak teringat bagaimana Moxi memujanya sebagai sosok guru. Barulah aku mengerti situasi dan kondisi yang terjadi saat ini: “Tidak apa bagimu untuk meminta Moxi agar pergi berperang membinasakan musuh, dan membantumu menaklukkan negara ini. Tetapi setelah ini semua berakhir, lepaskanlah Moxi. Habis manis sepah dibuang (17), aku tidak ingin hal ini terjadi pada Moxi. Anak itu berhati lembut, dia pasti akan patah hati.”

17. Peribahasa Cina yang digunakan adalah 狡兔死走狗烹 Jiǎo tù sǐ zǒugǒu pēng yang artinya setelah kelinci yang cerdik sudah mati, anjing berburu kemudian dimasak. Yang maksudnya adalah menyingkirkan seseorang setelah sudah tidak ada gunanya lagi. Dalam peribahasa Indonesia, yang paling mendekati adalah peribahasa yang digunakan di atas.

Bai Jiu tidak menjawabku. Tetapi Chang’an tiba-tiba bertanya kepadaku: “Sansheng, apakah Moxi adalah reinkarnasi….”

Aku menoleh ke arah Chang’an dan menjawabnya: “Benar, tetapi itu semua sudah di masa lalu.”

Aku tak ingin berlama-lama bicara lagi, maka aku segera mengucapkan mantra dan langsung pergi ke Rongshan sebagaimana yang dikatakan Bai Jiu.

Di bawah kaki gunung Rongshan terdapat sebuah kota bernama Rongcheng. Kota tersebut dibangun di sisi gunung dan dikelilingi oleh tebing yang curam. Letak kota ini memudahkannya untuk dipertahankan namun sulit untuk diserang. Tetapi begitu Rongcheng tumbang, akan menjadi sangat mudah bagi para pemberontak untuk masuk dan menyerang ibu kota.

Oleh karena itu, kota ini adalah garis pertahanan terakhir bagi daulat kekaisaran, ini merupakan pertarungan yang sulit bagi Moxi. Tetapi aku sudah berada disini sekarang, mungkin aku masih bisa membantu Moxi. Misalnya saja dengan menaruh racun di air sungai Rongcheng atau membakar lumbung padi mereka, dan lain-lainnya yang semacam itu.

Namun saat aku tiba di Rongshan, sudah tidak perlu lagi bagiku untuk melakukan semua ini.

Pertarungan sudah berlangsung.

Aku berdiri di atas sebuah batu, melihat ke arah medan peperangan jauh di bawah, mengamati pertempuran sengit dimana akan ada pihak yang kalah dan akan ada pihak yang menang. Moxi sedang mengerahkan segenap kekuatannya untuk melakukan penyerangan.

Mataku mencari sosoknya di tengah medan perang yang karut marut. Dia tidak bisa berbicara, lalu bagaimana dia bisa memberikan perintah kepada pasukannya di medan perang ini?

Saat aku sedang merasa cemas, terdengar suara kecil yang secara berangsur berubah menjadi semakin kencang. Awalnya mungkin hanya beberapa orang saja yang bersuara, lalu kemudian berubah menjadi belasan orang yang berbicara, lalu ratusan orang, ribuan orang, sampai akhirnya seluruh pasukan pemberontak secara bersamaan berseru: “Pemimpin kota Rongcheng telah gugur!”

“Pemimpin kota Rongcheng telah gugur!”

Hingar bingar di medan perang menyurut sejenak, arah pandangan semua orang perlahan menuju ke suatu titik, dan aku pun melihat ke arah yang sama.

Angin gunung tiba-tiba berhembus, bunga-bunga yang berterbangan di gunung Rongshan melintasi  sisi telingaku dan secara perlahan melayang ke arah medan perang. Kemudian melambung, beriak, ke sisi pria itu.

Dia duduk tinggi di atas kudanya dengan membawa sepotong kepala manusia di tangannya. Jaraknya terlalu jauh, hingga aku tidak bisa melihat jelas raut wajahnya. Aku hanya dapat melihat bilah pedangnya yang memantulkan cahaya matahari, bersinar terang memedihkan mataku.

Moxi.

Tak kusangka, perpisahan ini berlangsung 20 tahun lamanya. Kamu sekarang telah menjadi seorang jenderal pemberani yang mampu memimpin puluhan ribu orang dengan bangga.

Apakah kau akan menyalahkanku, telah meninggalkanmu begitu lama?

Tib-tiba aku melihat sekilas cahaya melintas di sudut mataku; sebilah panah tajam melesat di udara, kencang melaju menuju Moxi yang sedang menunggang kuda. Aku panik. Pancaran energi kegelepan segera meliputi panah tersebut. Ketika anak panah hampir menembus dada Moxi, energi tersebut langsung membelah anak panah menjadi dua. Namun itu masih tidak cukup untuk menahan laju anak panah yang kini telah tergeser dari lintasan awalnya, ia terus melesat dan menggores wajah Moxi sebelum akhirnya terhujam di tanah di belakangnya.

Semua ini terjadi secepat kilat. Dengan gelisah aku memandang ke arahnya, untuk melihat apakah dia terluka atau tidak.

Diapun langsung mengangkat kepalanya, dan melihat ke arahku dengan terperangah. Aku tahu dengan jarak sejauh ini, dia tidak akan dapat melihatku dengan jelas. Tetapi dalam hatiku muncul suatu perasaan yang aneh, aku justru merasa dia mampu melihatku dengan jelas, dan tahu aku adalah Sansheng.

Para prajurit mulai bereaksi dan segera mengelilingi Moxi.

Saat ini aku lebih tidak dapat melihat Moxi dengan jelas, dan hatiku merasa cemas. Sekonyong-konyong pasukan berkuda di sekeliling Moxi menyebar. Dia lemparkan potongan kepala yang berada di tangannya kepada sersan yang berada di sampingnya, kemudian dengan ringan dia menunggangi kudanya, dan langsung bergegas menuju tempatku berada.

Kali ini aku merasa sangat yakin, dia telah melihatku.

Aku berbalik dan melompat turun dari atas batu.

Aku membayangkan pertemuan kembali antara aku dan dia akan berlangsung di suatu tempat indah yang penuh dengan bunga warna warni bertebaran. Dia memelukku dan aku memeluknya, kemudian aku memanggil namanya berulang-ulang. Lalu akan terlahir keinginan kami untuk melakukan uh uh ah ah bersama, maka kami pergi mencari suatu tempat untuk bisa melangsungkan kegiatan ini.

Wah! Benar-benar sebuah reuni yang indah bagi sepasang pria wanita yang ideal.

Tetapi ketika Moxi datang menghampiriku, justru sulit bagi kami untuk menumbuhkan minat mengerjakan uh uh ah ah. Hal ini disebabkan karena saat dia melihat ke arahku, tidak sengaja aku menginjak jebakan hewan yang ditinggalkan para pemburu di pegunungan.

Klang! Sebuah perangkap kaki hewan dengan kuat menjepit pergelangan kakiku.

Meskipun tidak mampu mencederaiku, tetapi rasanya sangat menyakitkan.

Saat aku sedang menangis tanpa air mata dan mengeluh bahwa langit tidak punya mata (TN: langit benar-benar tidak adil), sesosok yang bernodakan darah peperangan berjalan cepat menuju ke arahku. Aku masih belum sempat melihat dengan jelas wajahnya, tetapi dia terlanjur menundukkan kepalanya dan dengan berhati-hati membuka jebakan di kakiku. Kemudian dia menggulung ujung celanaku untuk memeriksa apakah cedera akibat jebakan tadi sampai ke tulangku.

Tangan yang besar dan hangat yang sedang memegang pergelangan kakiku, sedikit bergetar. Sepertinya terlihat gugup sekaligus senang tetapi juga tampak tak berdaya.

“Moxi.”

Dia tertegun. Tanpa sungkan-sungkan, aku melepas pelindung kepalanya, lalu aku sentuh pipinya dan dengan perlahan mengangkat kepalanya ke arahku.

Saat aku tatap wajahnya yang bernodakan darah, aku tidak menyangka matanya masih jernih seperti dahulu meskipun telah melewati berbagai intrik dan pertempuran di medan perang.

Aku menghela napas: “Kamu sudah dewasa. Melakukan ini mungkin akan terasa memalukan, tetapi aku tak tahan. Aku harus bagaimana?”

Dia tak memahami maksud perkataanku.

Saat bibirku semakin mendekat, matanya langsung melebar.

Dalam hati aku diam-diam menghela napas, tetapi pada akhirnya aku masih mengecup sudut bibirnya.

“Moxi, Moxi…” Aku memeluk lehernya dan mengelus daun telinganya dengan pipiku sembari berbisik: “Aku sangat merindukanmu, Sansheng sangat rindu kepadamu.”

Tubuhnya kaku ibarat seonggok besi, begitupun lehernya terlebih lagi hingga menolak untuk mendekat barang satu senti lagi ke arahku. Sulit rasanya untuk memeluknya, maka aku lepaskan dia dan aku tatap dia sembari tersenyum: “Sansheng telah datang untukmu, mengapa ekspresi mukamu masih seperti ini?”

Mendengar perkataanku, dia seperti tersadar. Pantulan sosokku di matanya pelan-pelan menjadi lebih jelas. Lalu dengan perlahan dia mengangkat tangannya untuk menyentuh pipiku, seperti tak percaya.

Aku tersenyum sembari terus menatapnya dan membiarkan jari jemarinya yang kasar menelusuri permukaan wajahku, alisku, batang hidungku, bibirku, berulang kali, seolah sedang memastikan apakah aku benar-benar berada di hadapannya.

Akhirnya dia memelukku dengan tangan gemetar, desahan napasnya yang panjang berhembus di sisi telingaku.

Sebuah desahan yang mengandung curahan hati dan kesedihannya yang tak berujung, kepedihan yang selama ini dipendam, akhirnya kini menghilang. Aku rasa, seandainyapun dia bisa berbicara, saat ini dia hanya akan menghela napasnya di telingaku.

Karena perpisahan kami telah berlangsung terlalu lama, kata-kata yang ingin diucapkan pun terlalu banyak, lebih baik kami memanfaatkan waktu untuk saling memeluk.

Jelas, tidak mengherankan baginya untuk membawaku kembali ke barak prajuritnya.

Sebenarnya luka di kakiku bisa segera sembuh cukup dengan mengucapkan satu mantra, tetapi aku justru menyihirnya supaya terlihat lebih menakutkan lagi. Moxi melihat pendarahanku tak kunjung berhenti, kening nya berkerut kencang. Lalu dia membopongku di punggungnya dan langsung bergerak menuju barak.

Aku amat menikmati sensasi diberikan perhatian mendalam seperti ini.

Aku bertengger di punggungnya sepanjang perjalanan kembali ke barak, dan menerima hormat dari para prajurit yang tak terhitung jumlahnya. Tatapan mereka bukan layaknya seperti melihat seorang pria membopong seorang wanita, tetapi seperti melihat seorang dewa membopong sesosok nenek lampir. Bola mata mereka hampir meloncat keluar dari kepala.

Sebenarnya aku tidak pernah memperdulikan tentang bagaimana pandangan orang lain terhadapku, tetapi Moxi justru khawatir aku akan diganggu oleh segerombolan orang-orang kasar ini. Maka dengan ekspresi wajahnya yang dingin, dia tatap mereka semua secara perlahan. Seketika, semua orang menolehkan pandangan mereka dari kami.

Hatiku terasa hangat, dan aku menempel semakin kuat kepada Moxi.

Ketika kami tiba di tenda utama, aku membuka tirai tenda untuknya sembari tetap menemplok pada punggungnya, dan segera ku melihat seorang wanita sedang duduk di dalam. Tiba-tiba aku merasa konyol.

Seorang wanita…..

“Moxi.” Pikiranku langsung melayang dan aku bertanya serasa setengah tak sadar, “Apakah kamu sudah menikah di saat aku tak bersamamu?”

 

The Dewi
The Dewi
"I am so clever that sometimes I don't understand a single word I'm saying"

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

error: Content is protected !!