Novel TranslationsSansheng, Wangchuan Wu ShangSansheng, Wangchuan Wu Shang Translation - Chapter 15

Sansheng, Wangchuan Wu Shang Translation – Chapter 15 [INDONESIA]

author Jiu Lu Fei Xiang - Sansheng, Death Exists Not at the River of Oblivion
Jiu Lu Fei Xiang – author of Sansheng, Death Exists Not at the River of Oblivion

Kehidupan Ketiga – Mencari Yang Tidak Bisa Dimiliki

Bab 15: Tidak Tukar

Moxi sudah menikah?

Aku tercenung menatap Moxi, dan Moxi pun tercenung sembari menatap wanita itu.

“Moxi!”

Melihat Moxi memasuki tenda, wanita itu beranjak dari duduknya dengan riang. Tetapi kemudian ia terkejut ketika melihatku, lalu ia bertanya dengan bimbang: “Dia adalah…”

Aku merangkul erat leher Moxi: “Namaku Sansheng.”

“Sansheng……” Dengan suara pelan dia membisikkan namaku, lalu wajahnya berubah muram seketika, “Sansheng, kamu adalah Sansheng.” Dia sepertinya tidak percaya, maka dia melihat ke arah Moxi untuk memastikan.

Melihat raut wajahnya yang sedih, membuatku tak mampu menahan untuk juga menatap ke arah Moxi.

Tetapi Moxi mengabaikan kami berdua, dan dengan langkah besar bergerak menuju tempat tidur lalu menurunkanku. Dia membantu untuk melepaskan sepatu dan kaos kakiku, kemudian segera berdiri dan menuliskan ‘Panggil dokter militer’ pada secarik kertas dan memberikannya kepada wanita tadi.

Wanita itu tercenung untuk sesaat, lalu akhirnya ia tersenyum sedih sembari melangkah keluar dari tenda dengan sedikit terhuyung.

“Itu tadi….adalah istrimu?”

Saat ini dia sedang membersihkan lukaku, tetapi dia langsung mengangkat kepalanya untuk menatapku begitu mendengar yang kutanyakan. Secara perlahan muncul senyuman kecil di matanya, kemudian ia gelengkan kepalanya dengan lembut.

Aku menganggukkan kepala dengan teguh sembari berkata: “Baguslah kalau begitu. Karena aku tidak akan memperbolehkannya.”

Dia masih tersenyum lalu menarik tanganku kemudian menuliskan dengan lembut “Selain dengan Sansheng, aku tidak pernah memiliki siapapun.”

Aku terkesima melihat dia menulis begitu seriusnya. Kemudian aku menggaruk-garuk kepala sembari berdehem dan memasang  raut muka seperti orang dewasa, lalu aku usap rambutnya: “Kamu benar-benar mempesona. Aku jauh darimu sekian lama, entah sudah berapa banyak wanita yang tertawan hatinya olehmu. Tetapi sikapmu begitu dingin dan cuek….para wanita itu pastilah amat bersedih. Dengan kamu bersikap seperti ini, apakah baik atau tidak ya.”

Moxi mendengarkan ucapanku, dan menatapku lekat-lekat. Sama-samar mulai muncul kekesalan di wajahnya.

Seringkali, aku tidak tahu penyebab dia menjadi marah. Sama halnya seperti saat ini. Aku tidak ingin repot menebak-nebak, maka aku berkata: “Tetapi sifat Sansheng dari dulu selalu egois, sikapmu yang cuek dann pasif terhadap wanita lain….justru lebih pas dengan seleraku.”

Aku menghela napasku: “Moxi, kamu kasih pelet macam apa sebenarnya kepadaku? Aku jadi sebegini sukanya kepadamu. Sampai tidak rela kalau ada yang menyentuh kamu barang sedikit.”

Dia menatapku lekat-lekat, matanya terang bersinar.

Dokter militer datang masuk ke dalam tenda, Moxi menolehkan pandangannya dan memberikan tempat duduknya kepada dokter.

Lukaku sebenarnya adalah efek dari sihirku sendiri, oleh karena itu si dokter tidak bisa menemukan penyebabnya, hanya mendiagnosa nya sebagai luka luar. Maka dokter hanya membalut luka tersebut kemudian dia beranjak pergi.

Saat hanya tinggal kami berdua, dengan riang aku meraih lengan baju Moxi dan bersiap-siap untuk mengadu kepadanya kepedihan yang kualami selama kami terpisah. Tapi tak kusangka, belum sempat lengan baju Moxi menjadi hangat di tanganku, terdengar seorang prajurit dari luar tenda menyampaikan laporan genting.

Wajah Moxi berubah suram, lalu ia segera bangkit dan melangkah keluar.

Aku termenung melihat lengan bajunya yang terlepas dari tanganku, terdengar di telingaku laporan genting dari prajurit di luar tenda. Lalu aku menghela napas. Padahal sudah 20 tahun kami terpisah, tapi ternyata sekarang masih harus terpisah lagi.

Bagi Moxi, mungkin Sansheng masih penting, hanya saja sekarang bukanlah yang paling penting lagi.

Peperangan tidak akan terhenti hanya karena sang jenderal memungut seorang wanita di tengah jalan.

Setelah aku bertemu kembali dengan Moxi, waktuku bersamanya sangat sedikit.  Pertempuran terakhir semakin mendekat, dan terasa ada suasana aneh yang mengalir di kalangan pasukan, seperti rasa gelisah, bimbang, dan juga rasa bersemangat.  Setiap hari Moxi begitu sibuk sehingga tidak ada waktu untuk beristirahat.

Aku tidak ambil peduli dengan hasil dari peperangan ini, satu-satunya yang aku pedulikan hanyalah Moxi.

Akhir-akhir ini sembari aku mengikuti barisan pasukan yang bergerak dengan cepat, aku selalu memikirkan tentang apa sebenarnya Ujian Kehidupan Moxi ‘Mencari Yang Tidak Bisa Dimiliki’ ini. Sekarang dia adalah seorang jenderal besar, apa yang ingin dikuasai bisa dikuasai, ingin memiliki uang bisa memiliki uang, benda apa lagi yang dia cari namun tak bisa dia miliki….

Sudah lama juga aku menahan rasa rindu, oleh karena itu aku ingin segera bertemu dengan Moxi langsung untuk menanyakannya.

Saat malam tiba, setelah aku bertanya-tanya ke beberapa prajurit yang sedang patroli malam, akhirnya aku tahu bahwa Moxi sedang pergi meninggalkan barak bersama Nona Ah Rou.

Ah Rou ini adalah wanita yang aku lihat di dalam tenda hari itu.

Kabarnya ia adalah putri angkat Bai Qi. Sejak kecil dia sangat dekat dengan Moxi, dia bahkan diakui di kalangan prajurit sebagai calon istrinya jenderal. Saat aku mendengar hal ini, aku hanya mengangguk-anggukkan kepala dengan tenang, tanpa berkomentar apapun.

Tetapi hari ini, saat tengah malam…..

Dalam hati aku tidak bisa menahan untuk merasa cemburu. Langkah kakiku semakin cepat saat aku berjalan mengelilingi barak untuk waktu yang lama, sampai akhirnya aku melihat sosok bayangan dua orang sedang berada di tengah hutan.

Ah Rou sedang menangis dan berkata dengan suara pelan: “Moxi, kenapa jadi seperti ini, kenapa…” Aku hentikan langkah kakiku, lalu aku berbalik dan bersembunyi di balik pohon. Ah Rou berkata dengan pilu, “Bagaimanapun dia adalah guru yang telah membesarkanmu, mengapa kau harus terus mendesaknya hingga ke posisi sulit, apakah kau begitu menginginkan tahta kerajaan?”

Aku terperangah mendengarkan perkataan ini. Aku julurkan kepalaku sedikit, dan aku melihat Moxi yang dengan dingin dan cuek menarik lengan bajunya dari genggaman Ah Rou, kemudian menuliskan sesuatu di telapak tangannya. Ah Rou terkejut hingga matanya terbelalak: “Moxi, apakah kau sudah gila?”

Moxi hanya menatapnya dengan tenang.

Ah Rou terkesima: “Walaupun kalian bukan saudara kandung, tetapi dia ibarat kakak perempuanmu, ibarat ibumu, ternyata kau ingin……kau benar-benar ingin….”Ah Rou tiba-tiba tersadar, “Jadi, alasanmu ingin menjadi kaisar, Moxi, kau ingin menduduki posisi yang tertinggi agar tidak ada siapapun yang bisa menghalangimu, sehingga kau bisa menikahi dia.”

Tatapan Moxi dingin. Lalu ia menuliskan lagi sesuatu di telapak tangannya, kemudian dia melangkah pergi sendirian.

Ah Rou tetap berdiri di tempat yang sama untuk sejenak, lalu sepertinya ia ingin beranjak pergi, tetapi ia baru saja berjalan dua langkah namun tubuhnya seperti tidak bertenaga. Ia kemudian bersandar pada sebuah pohon, dan dengan perlahan merosot ke tanah.

Dalam hati aku berpikir menimbang-nimbang, dan pada akhirnya aku tetap melangkah maju. Aku ulurkan tanganku, dan menunggu dia meraihnya untuk kubantu berdiri.

Dia mengangkat kepalanya untuk memandangku, tampaknya sangat terkejut: “Bi….Bibi Sansheng.”

Aku tak ambil pusing panggilannya terhadapku: “Aku telah mendengar semuanya tadi.”

Air mata segera berkumpul di pelupuk mata Ah Rou, sungguh terlihat lemah lembut hingga membuatku iba. Dia berkata sembari menangis: “Bibi, sekarang hanya kau yang bisa membujuk Moxi. Bujuklah dia, tolong bujuklah dia!”

“Mengapa harus kubujuk?”

Dalam hati aku tahu, jika Moxi ingin menjadi kaisar, alasan sebenarnya pasti bukanlah hanya demi aku sebagaimana yang diucapkan oleh Ah Rou. Dia adalah dewa perang, dirinya selalu memikirkan kepetingan rakyat jelata. Tak peduli dia bereinkarnasi menjadi siapapun, ini adalah tugas sekaligus kebanggaan yang sudah mendarah daging baginya.

Dia menginginkan tahta kerajaan pastilah karena ia memiliki alasannya sendiri.

Namun, apapun alasannya, aku tetap tidak berhak untuk membujuknya agar berhenti mengejar keinginannya.

Ah Rou tercengang mendengar pertanyaanku: “Karena, karena….ayah angkat, dia akan tidak kenal belas kasian terhadap ayah angkat, dia….”

Aku menghela napas: “Moxi berhati lembut, jelas tidak akan sekeji itu terhadap ayah angkatmu. Tetapi belum tentu begitu dari sisi Bai Qi ayah angkatmu.” Aku tidak ingin menjelaskan panjang lebar dengannya, setelah aku membantunya bangun, aku berbalik badan untuk pergi, dan aku katakan padanya, “Bertahun-tahun ini aku mempercayakan Moxi kepada kalian, ini adalah kesalahanku. Kalian tidak memahami dia, hidupnya selama ini pastilah tidak bahagia.”

Setelah aku kembali ke barak, terdengar dari kejauhan suara sitar yang berasal dari tenda Moxi.

Hatiku merasa senang, maka aku percepat langkah kakiku. Aku membuka tirai dan langsung tercium wangi bunga plum begitu aku melangkah masuk.

Bunyi sitar terhenti, Moxi melihat ke arahku. Meskipun dia sedang tersenyum, tetapi senyuman itu tidak sampai ke matanya.

Hatiku terasa pedih melihatnya, tetapi tidak ku perlihatkan. Aku tersenyum dan bersikap biasa, dan melangkah ke belakang Moxi. Kemudian aku memeluknya dari belakang, aku merangkul lehernya dengan erat, menolak untuk lepas.

Tubuhnya menjadi sedikit tegang. Aku menempel pada sisi telinganya tapi tidak mengatakan sepatah katapun. Kami hanya mendengarkan desahan napas hangat satu sama lain.

Entah setelah berapa lama waktu berlalu, Moxi akhirnya seperti tersadar, dan menepuk-nepuk lembut tanganku yang memeluk lehernya dan memintaku untuk duduk di sampingnya. Ia mengeluarkan sedahan pohon bunga plum yang terletak di samping meja sitar, lalu menuliskan di atas secarik kertas: “Aku ingat kau paling suka bunga plum. Hari ini kebetulan melihat satu dahan bunga plum ini bermekaran begitu indahnya, maka aku membawanya untukmu.”

Aku menerimanya dan menggenggamnya dalam tanganku, ku pandangi dan ku cium.

“Apakah kamu menyukainya?”

Aku melihat tiga kata yang ditulis dengan bimbang, hati sanubariku tersentuh lembut dan seketika darahku berdesir kencang.

“Suka.” Aku raih tangannya dan mengelus telapak tangannya yang kapalan, “Seluruh bunga di dunia ini tidak akan aku tukarkan dengan bunga yang kamu pilihkan untukku.”

Jemarinya menekuk, menggenggam tanganku di dalam telapak tangannya. Menggenggam begitu erat sehingga terasa sakit.

“Moxi, mainkan aku sebuah lagu. Waktu kamu masih kecil, aku senang mendengar kamu bermain sitar.” Aku tersenyum, “Aku ingin mendengar lagu yang penuh semangat.”

Moxi menganggukkan kepalanya, ujung-ujung jarinya meluncur di atas senar sitar untuk memulai menenunkan nada lagu yang mendebarkan. Melodi yang dimainkan mengandung aura membunuh yang merebak di medan perang, semangat dominasi untuk menguasai dunia, namun terselip juga rasa kesepian bagi sang pahlawan, semua dimainkan dengan lantang.

Menuju akhir lagu, nada semakin menguat, menandai suatu transisi. Ibarat mencurahkan semua perasaannya, nada lagu semakin cepat dan kencang.

Saat nada terakhir masih terngiang di telinga, tiba-tiba aku bertanya padanya: “Moxi, kamu menginginkan tahta kerajaan?”

Jarinya mendarat di atas senar sitar, getaran nada yang belum selesai berhenti secara tiba-tiba.

Dia tak melihat ke arahku, tetapi dia menganggukkan kepalanya sembari memandang sitar.

Aku tersenyum sembari berkata: “Kalau begitu, kejarlah. Aku akan menemanimu.” Aku letakkan dahan bunga plum di atas senar sitar, kedua tanganku menggenggam tangan kanannya dan aku berkata kepadanya dengan lembut, “Kali ini, aku tidak akan meninggalkanmu.”

Dia tercengang untuk sesaat, lalu perlahan dia kembali tenang, tak berkata apa-apa.

Setelah malam itu, Moxi menjadi lebih sibuk lagi.

Di hari mereka akan menyerang ibu kota, sebelum berangkat ke medan perang, di saat semua pasukan sudah siap siaga hendak berangkat, Moxi yang mengenakan baju besi mendadak turun dari kudanya. Lalu ia memelukku sangat erat di hadapan semua orang. Baju besinya yang keras membuatku merasa tidak nyaman, tetapi aku tidak mendorongnya, aku membiarkan dia berlama-lama bertingkah manja dengan bersandar kepadaku untuk berpamitan.

Aku tepuk-tepuk pundaknya: “Jangan khawatir, pergilah.”

Tetapi bagaimana mungkin aku bisa membiarkan dia pergi ke medan perang sendirian, kalau tebakanku tidak salah, Ujian Kehidupan Moxi ‘Mencari Yang Tidak Bisa Dimiliki’ ini pastilah tahta kerajaan. Jika dia ditakdirkan untuk tidak mampu merebut tahta kerajaan, maka setidaknya setelah dia mengalami kegagalan nantinya, aku bisa membantunya agar mampu hidup tegar. Lalu kami akan mencari sebuah tempat yang tenang untuk kami berdua, agar bersama-sama melewati kehidupan ini dengan aman dan damai.

Setelah akhirnya dia menyelesaikan tiga Ujian Kehidupannya, tiga kehidupan yang ia janjikan padaku juga akan berakhir. Setelah itu, kami akan kembali kepada kehidupan masing-masing. Dia tetap akan menjadi seorang dewa yang agung, dan aku terus akan menjadi makhluk spiritual abadi di Alam Arwah.

Sungguh suatu rencana yang sempurna.

Ketika sosok Moxi tak lagi terlihat, aku mengucapkan mantra agar tak kasat mata, lalu aku pergi mengikuti barisan tentara.

Tidak ada ketegangan berarti di dalam pertempuran terakhir. Kaisar telah pergi melarikan diri, dan para prajurit yang mempertahankan kota hanya bisa melakukan perlawanan sia-sia. Pengepungan terhadap ibu kota berjalan lancar. Tepat setelah melewati tengah hari, Moxi memimpin pasukan untuk memasuki ibu kota dan bergerak langsung menuju istana.

Aku justru merasa ini terlalu mulus.

Seolah-olah untuk membuktikan dugaanku, ketika Moxi sampai di luar istana, terlihat sesosok bayangan putih berdiri sendirian di atas tembok istana, memandang rendah kepada Moxi dan pasukannya dari tempat ketinggian.

Bai Qi.

Tampaknya umurnya sekarang sekitar 40-50an tahun, bagi seorang manusia fana tidak mudah baginya untuk tetap memiliki energi sebanyak itu di usia ini.

Ia kibaskan lengan bajunya, dan tiba-tiba di atas dinding istana bermunculan para pemanah yang mengarahkan busur mereka ke arah Moxi.

Para prajurit gempar. Jelas saja gempar, Bai Qi adalah pemimpin para pemberontak, namun Moxi adalah seorang jenderal yang telah memimpin pasukan untuk menaklukkan kota yang tak terhitung lagi jumlahnya. Saat mereka hampir memasuki istana, kedua pemimpin ini justru saling beradu, semua orang pasti ingin tahu ada apa sebenarnya?

Bai Qi mengeluarkan sepenggal kepala dari belakangnya lalu berseru: “Sang penindas telah dipenggal mati! Pasukan, kita telah memenangkan peperangan ini!”

Setelah melewati keheningan beberapa saat, ratusan ribu tentara serempak berteriak gembira.

Semetara tatapan mataku melekat pada punggung orang itu yang sedang duduk di atas kuda. Bai Qi bergerak satu langkah di depannya untuk memenggal kaisar, ini adalah demi mengesankan dalam hati semua orang bahwa Bai Qi lah yang akan menjadi kaisar di dinasti yang baru. Kini akhirnya aku pun juga tahu, mengapa saat Moxi masih bertarung di garis depan, Bai Qi justru memilih untuk datang ke ibu kota, tampaknya adalah untuk momen ini.

Bai Qi menunggu para pasukan dengan perlahan menjadi tenang kembali lalu berkata: “Negeri kita sangat kaya akan keindahan, begitu banyak orang yang menginginkan tahta ini, tetapi aku benar-benar tidak pernah menyangka, kau tega melakukan hal-hal kejam demi menjadi kaisar!”

Tenaga dalam Bai Qi kuat, dia tidak berteriak tetapi setiap orang bisa mendengar perkataannya dengan jelas. Gertakan ini membuat semua orang bungkam.

“Muridku Moxi, saat kau berusia delapan tahun aku mengangkatmu menjadi murid, selama 20 tahun ini, telah ku turunkan kepadamu semua ilmu yang kupelajari dalam hidup. Tetapi demi tahta kerajaan, kau justru berulang kali diam-diam mengirim orang untuk membunuhku. Sungguh membuat hatiku kecewa. Hari ini pemimpin tiran telah ditumpas, kini saatnya membasmi murid yang tak setia, keji dan tidak berbakti dari permukaan bumi!”

Aku hanya bisa menghela napas ketika melihat ekspresi terperanjat semua orang. Meskipun di sekelilingnya masih ada banyak orang, tetapi punggung orang yang duduk di atas kuda itu justru membuatku merasa kesepian.

Dia tidak bisa bicara, bahkan saat menghadapi tuduhan pun ia tidak mampu membela diri.

Pada saat ini, entah dari pemanah di atas dinding istana yang mana, tiba-tiba sebuah anak panah melesat ke arah Moxi. Aku terkesiap, saat aku ingin turun tangan untuk membantunya, aku justru melihat Moxi tidak berusah menghindari anak panah tersebut, tetapi sebelum ada yang mampu bereaksi, ia segera menembakkan anak panahnya ke arah panah yang sedang datang kepadanya tersebut. Kemudian langsung terdengar teriakan seseorang dari atas dinding istana; seorang pemanah telah tertembak jatuh ke tanah.

Semua orang terperangah.

Bahkan aku juga turut terkesima, tidak kusangka keahlian memanah Moxi begitu akurat.

“Jangan!” mendadak terdengar teriakan tajam seorang wanita dari belakang barisan pasukan, lalu terlihat seorang wanita berlari terhuyung-huyung ke sisi Moxi: “Jangan! Jangan Moxi! Bagaimanapun juga dia adalah guru yang telah membesarkanmu! Moxi…..”

Kemunculan Ah Rou yang tiba-tiba mengejutkan kuda perang Moxi. Kuda ini bertemperamen tinggi, maka ketika ia melihat Ah Rou, ia langsung menaikkan kedua kaki depannya, terlihat seperti akan menginjak Ah Rou dengan tapak kakinya. Moxi meraih tali kendali, tetapi kuda ini seperti sedang mengamuk dan tidak bisa dikendalikan sama sekali.

Tetapi aku bisa melihatnya dengan jelas, aku melihat seseorang telah dengan diam-diam menembakkan sesuatu ke arah kaki kuda Moxi. Mereka ingin semua orang melihat bagaimana Moxi menginjak mati Ah Rou, sehingga nama buruknya sebagai seseorang yang keji terbuktikan.

Api amarah di hatiku berkobar, tidak masalah Moxi tidak berhasil mendapatkan tahta kerajaan, tetapi kalian tidak boleh menfitnah dia seperti ini!

Aku lambaikan lengan bajuku, kekuatan kegelapan terbang melesat menuju tubuh Ah Rou, menghempaskan badannya hingga beberapa meter.

Aku menampakkan diri, dan muncul di depan kuda Moxi. Aku kumpulkan kekuatan di telapak tanganku dan aku menarik keluar senjata yang tersembunyi di dalam badan kuda, lalu aku balikkan tanganku dan aku pentalkan senjata itu kembali kepada empunya. Prajurit itu mendengus lalu pingsan.

Kemunculanku yang mendadak membuat panik orang-orang di sekitar, ada yang berteriak kalau aku adalah siluman, ada juga yang langsung bergerak mundur menjauh, mengepung aku dan Moxi dalam sebuah lingkaran.

Moxi turun dari kudanya, dan menggenggam erat tanganku, matanya terlihat marah lalu dia tuliskan dengan tergesa-gesa kata ‘Pergi dari sini’ di telapak tanganku.

“Di samping mu lah tempatku seharusnya berada. Kau ingin aku pergi kemana?”

Aku berbalik bertanya kepadanya, dan dia terdiam sesaat.

Aku tak mengerti arti tatapan yang berputar di matanya, tetapi tiba-tiba aku terpikirkan, meskipun aku ingin menghabiskan hidupku bersamanya, tetapi apakah dia juga menginginkannya? Apakah di kehidupan kami nantinya dia akan tetap berambisi menjadi kaisar dan akan menyalahkan aku…..Aku tak tahu pasti, maka aku berbalik badan dan bertanya: “Moxi, jika aku bisa membantu mendapatkan tahta kerajaan, tetapi setelah itu tidak akan ada lagi Sansheng. Menukar Sansheng dengan tahta kerajaan, maukah kau menukarnya?”

Dia menatapku, tatapan matanya berubah semakin heran.

Pada saat ini mendadak Bai Qi berkata: “Nona Sansheng, kau merawat Moxi hingga tumbuh dewasa, selayaknya seorang kakak, seorang ibu, tetapi dia justru tumbuh pikiran tak senonoh terhadapmu, dan sekarang kau masih ingin menyelamatkan dia?”

Di sekeliling kami, semua orang mulai saling berbisik, Moxi mengeratkan genggaman tangannya, dia begitu marah tetapi tidak bisa terlihat lebih garang lagi. Dia menatap ke arah Bai Qi, aura membunuh di matanya begitu mengerikan hingga membuatku gemetar.

Aku tepuk-tepuk tangan Moxi untuk menenangkannya, lalu aku tersenyum, aku kini tahu kenapa Bai Qi membantu Moxi untuk menyelamatkanku. Dia ingin memanfaatkanku sebagai bidak catur untuk mengkontrol Moxi. Dia ingin menghancurkan Moxi sepenuhnya!

“Bai Jiu, akhir-akhir ini aku sering berpikir, jika saat itu aku tidak menghiraukan kebaikan hati Moxi untuk menyelamatkanmu, maka saat ini kami tidak akan menjadi seperti ini.”

Wajah Bai Qi mulai berubah. Moxi menurunkan kepalanya.

Aku melanjutkan, “Tetapi waktu tidak bisa diputar kembali, aku dan Moxi pada akhirnya menyelamatkanmu, maka sampailah kami pada hari ini. Sebenarnya aku tidak pernah menyukaimu, sepertinya aku memiliki firasat buruk tentang masa depan. Kau bilang Moxi membalas kebaikan dengan keburukan, tetapi yang kulihat kaulah yang sebenarnya telah berkhianat! Setelah kau bawa pergi Moxi, kau mengajarkannya ilmu bela diri, sebenarnya adalah demi membantumu dalam medan perang. Kau mengatas namakan diri sebagai pemimpin, sementara kau membiarkan anak ini mempertaruhkan nyawanya untukmu. Setelah dia membantumu menaklukan seantero negeri, kau justru berkata dia ingin merebut tahta kerajaanmu dan ingin membunuhnya.”

“Bai Jiu, apakah kau pikir kau bisa memanfaatkan Moxi ku karena dia tidak bisa bicara, dan mengarang kebohongan dan fitnahan seenaknya?”

“Heh! Siluman, berhenti menuduh!” Dia lambaikan lengan bajunya dan panah-panah melaju menuju kami, Moxi menarikku ke belakang tubuhnya demi melindungiku.

Aku mendengus: “Bahkan tuduhanku pun lebih bagus daripada fitnahan mu.” Kekuatan kegelapan memancar dan menghempaskan semua anak panah yang berterbangan menuju kami.

Aku masih ingin memaki-maki Bai Qi, tetapi tiba-tiba aku merasakan ada sesuatu yang datang menyerang dengan cepat dari belakang. Aku tepis benda itu tanpa terlalu memperhatikan, tak disangka benda tersebut tiba-tiba meledak.

Gawat! Pandangan mataku menjadi kabur,  tanpa sadar aku menarik tangan Moxi dan ingin merengkuhnya ke dalam pelukanku untuk melidunginya. Tetapi dalam kepanikanku, aku tidak mampu meraihnya. Kemudian pandanganku menjadi gelap, aku hanya merasakan tubuh yang berat menekan di atas tubuhku.

Suara ledakan tak henti-hentinya terdengar. Kemudian terasa suatu cairan hangat mengalir di pipiku, di sudut bibir dapat kurasakan aroma darah yang kuat. Setelah menyadari benda apa cairan tadi, seluruh tubuhku bergidik dan mulai gemetar.

“Moxi.”

Tak ada yang menjawabku. Di dalam kehidupan ini, dia tidak pernah menjawabku.

Setelah semua perlahan menjadi hening, tubuh yang menekanku masih tidak bergerak. Tanganku gemetar, dan aku merangkak keluar dari bawah tubuh itu. Ketika pandangan mataku sudah lebih jelas, pikiranku seketika menjadi kosong.

“Moxi.”

Baju besi yang melindunginya telah terpecah belah, punggungnya terhujam oleh jarum yang tak terhitung jumlahnya, untuk sejenak aku tidak tahu dimana aku bisa menyentuhnya.

Pipinya menempel di tanah, kotor dengan lumpur, matanya tertutup tidak lagi terbuka, dan tidak lagi akan memandangku dengan lembut. Tangannya masih menggenggam lengan bajuku, seperti waktu dia masih kecil dahulu saat ikut pergi denganku, dia takut aku berjalan terlalu cepat sehingga dia tertinggal di belakang.

Pandangan mataku tertuju pada lengan bajuku, noda darah membentuk dua kata——

Tidak tukar.

Aku tertawa dengan bodoh, tiba-tiba aku merasakan betapa konyolnya pertanyaanku tadi.

Moxi sudah tiada.

Meskipun aku tahu dia telah melewati Ujian Kehidupannya, dia hanya pergi ke tempat yang sangat kukenal, tetapi aku masih tidak bisa menahan kepedihan yang menyeruak keluar dari dalam hati dan menenggelamkanku.

Ujian Kehidupannya telah berakhir, jalinan satu-satunya yang menghubungkan aku dan dia pun kini sudah tiada.

Kami sudah tak bisa bersama-sama lagi, dan tidak ada lagi kehidupan selanjutnya.

Aku tundukkan kepalaku, kutempelkan ke pipinya yang kini sudah terasa dingin, di tengah aroma darah yang pekat, tiba-tiba hidungku mencium wewangian; wangi bunga plum.

Lalu kulihat bunga plum merah terjatuh dari saku pakaiannya, bibirku tersenyum, namun dalam hati, aku tak bisa menekan kesunyian yang semakin bising.

“Moxi, apakah kamu tahu kenapa aku menyukai bunga plum?” Aku berbisik: “Karena itu adalah wewangian tersembunyi pertama ketika takdir ku bersamamu dimulai. Aku menyukainya hanya karena aku bisa bertemu denganmu.”

Kali ini aku baru mengerti, mengapa Moxi menjadi semarah itu setiap kali dia datang ke Alam Arwah untuk bereinkarnasi.

Dia marah karena aku tidak mengerti bagaimana caranya untuk menyayangi diriku sendiri, sehingga membuat dia menderita.

“Jenderal pemberontak telah gugur, lekas tangkap siluman itu!”

Entah siapa yang sedang berkoar-koar.

Dalam hatiku sekonyong-konyong muncul sensasi haus darah dan hasrat membunuh yang keji. Moxi telah mati, aku dan dia pun tidak memiliki ikatan apapun lagi, tanpa Moxi di dunia ini, apa lagi yang masih tertinggal untukku disini? Yan Wang melarangku untuk membunuh, tetapi orang-orang ini sudah sangat keterlaluan, memang kenapa kalau aku bunuh mereka semua!

Aku sejatinya terlahir dari sungai Wangchuan, terlahir dari tempat kematian, apa lagi yang aku takutkan? Semua manusia fana ini bebal dan bodoh, hanya dengan membunuh mereka semua maka dunia bisa tenang kembali.

Aku mengangkat kepalaku, dan melihat ke arah Bai Qi yang berada di atas menara di kejauhan, lalu aku mulai tertawa. Tertawa yang mengandung ribuan tahun energi bintang kegelapan, lolongan kesedihan roh jahat.

Manusia biasa tidak mampu menghadapinya. Suara raungan dan ratapan membahana tanpa henti.

Bagiku suara ini justru menyegarkan, maka aku tertawa dengan lebih riang lagi.

Ratusan ribu tentara terhantam suara ini hingga mengeluarkan darah dari tujuh lubang bukaan di kepala mereka (18). Aku tetap tidak peduli, aku hanya ingin membantai mereka semua, agar sungai darah mengalir keluar dari istana ini, menodai aura agung istana kerajaan.

18. 七窍 Qīqiào adalah 7 lubang di kepala manusia; 2 mata, 2 telinga, 2 lubang hidung dan 1 mulut.

“Sansheng!”

Di tengah suara lolongan yang masih bergemuruh, sekonyong-konyong terdengar jelas nada suara yang tenang di telingaku.

Aku berhenti tertawa dan melihat ke arah suara itu, ternyata Chang’an.

Dia mengenakan pakaian Liubo, sangat mempesona, aku hampir mengira dia adalah Zhonghua. Mataku terasa panas, air mataku mengalir. Aku mengusapnya dengan tanganku, dan kulihat ternyata darah.

Air mata darah batu Sansheng.

Chang’an terlihat suram: “Sansheng, jangan tergelincir masuk ke dalam kegelapan, jangan memikirkan pikiran jahat.”

Huh!

Chang’an menghela napasnya: “Sansheng, kau harus berpikir jernih, membunuh adalah melanggar hukum alam, kau akan dihukum dengan dihancurkan jiwamu. Ini hanyalah suatu Ujian Kehidupan, kau membantu Moxi melewati Ujian Kehidupannya, tetapi kau akan menghancurkan ilmu yang kau latih selama ribuan tahun…..”

“Memangnya kenapa?” Aku tertawa sinis, “Aku adalah sebuah batu, meskipun jiwaku hancur aku tetaplah sebuah batu, dan aku tidak perlu lagi mengkhawatirkan tentang hal-hal duniawi, apa yang tidak baik dari hal ini? Orang-orang ini telah membunuh Moxi, tidak peduli apakah Moxi hanya sedang melewati Ujian Kehidupannya, mereka tetap saja telah membunuhnya. Aku ingin mereka membayar dengan nyawa mereka, tidak ada yang salah dengan hal ini.”

“Sansheng.” Chang’an menatap penuh kasih, “Hatimu hancur setelah kehilangan Moxi, tetapi ratusan ribu manusia ini juga makhluk hidup, mereka memiliki orang-orang yang mereka sayangi, sama sepertimu. Kalau kau bunuh mereka, lalu apa yang akan terjadi dengan orang-orang yang mereka kasihi?”

Aku tertegun, dan menoleh untuk melihat ke semua orang-orang itu. Ada yang masih berjuang kesakitan, ada juga yang sudah tak bernyawa. Sama seperti Moxi, terbaring tenang di tanah, tak bergerak lagi.

Tidak seharusnya mereka membunuh Moxi, tetapi akupun tidak memiliki hak untuk membunuh mereka.

Kekuatan kegelapan yang pekat di dalam tubuhku memudar. Ratapan di segala penjuru menyusut menjadi suara tangisan kecil.

Seketika aku terpikirkan, tiga kehidupan ini hanyalah mimpi indah yang diberikan Moxi kepadaku, cepat atau lambat aku harus terbangun dari mimpi ini. Sekarang Moxi telah pergi, dan aku harus bangun sedikit lebih cepat.

Bangun dari suatu mimpi besar.

“Chang’an, kau sudah mampu melihat sekilas rahasia langit, teruslah berlatih yang tekun, kau akan berhasil suatu hari nanti.”

Aku duduk kembali ke samping Moxi. Aku genggam tangannya, lalu aku mengelus pipinya yang kini sudah dingin membeku.

Tiga kehidupan ini, berakhir sudah.

Aku tutup mataku dengan perlahan dan aku putuskan urat nadiku.

Jiwaku melayang, tetapi yang menjemputku kali ini bukan Heibai Wuchang, tetapi seorang hakim dingin yang bekerja di sisi Yan Wang. Dia lambaikan kuas di tangannya, dan pergelangan tanganku terasa berat, terborgol oleh sepasang rantai besi.

Dia berkata: “Sansheng, kau telah melakukan pembunuhan, aku akan membawamu kembali untuk menerima hukuman.”

Aku hanya mengangguk-anggukkan kepala, tanpa berkata apa-apa.

 

The Dewi
The Dewi
"I am so clever that sometimes I don't understand a single word I'm saying"

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

error: Content is protected !!