Novel TranslationsSansheng, Wangchuan Wu ShangSansheng, Wangchuan Wu Shang Translation - Chapter 3

Sansheng, Wangchuan Wu Shang Translation – Chapter 3 [INDONESIA]

- Advertisement -
author Jiu Lu Fei Xiang - Sansheng, Death Exists Not at the River of Oblivion
Jiu Lu Fei Xiang – author of Sansheng, Death Exists Not at the River of Oblivion

Bab 3: Hanya Sansheng Seorang Untukku

Ibu kota bukan merupakan tempat asing bagiku.

Setelah berpengalaman dikejar-kejar oleh si biksu tua selama lebih dari tiga bulan, semua tempat telah habis aku telusuri; tidak ada lagi yang tersisa yang bisa membuatku penasaran.

Aku gelisah untuk segera bisa menemukan Moxi, tapi karena aku tidak ingin dia tahu aku begitu tak rela berpisah darinya, aku tidak ingin mencari dia secara terang-terangan. Belum lama waktu berlalu sejak dia direkomendasikan untuk menjadi pejabat pemerintah. Karena baru memulai, dia pasti mengalami banyak kesulitan manalagi dia tidak terlalu dikenal disini. Aku mencari informasi tentangnya dari orang-orang sekitar, tetapi mereka juga tidak tahu. Ada kalanya aku terpikir untuk pergi ke istana untuk mencarinya, tapi keluarga kerajaan selalu diliputi oleh aura naga yang memancar terang membuatku merasa sesak, sampai akhirnya aku harus menyerah.

Setelah aku pertimbangkan dengan matang, kuputuskan untuk menggunakan waktuku pada siang hari untuk mencoba keburuntungan siapa tahu bisa terdengar kabar tentang Moxi dari pembicaraan orang-orang sekitar, sementara pada malam hari aku kan mendatangi rumah-rumah para pejabat tinggi untuk melacak jejak Moxi.

Pada awalnya, aku mengira jika aku mencari Moxi secara terang-terangan, kemungkinan menemukannya lebih besar ketimbang harus menunggu nasib mujur bisa mendengar kabar tentangnya, tapi tak kusangka aku memiliki keberuntungan yang sangat bagus.
Hari itu, cuaca cerah di ibu kota. Aku sedang berjalan santai sembari mengetuk-ngetuk sebatang daun bawang ke buku novel roman yang sedang kubaca. Tiba-tiba terdengar suara ramai di depan, di mana banyak orang mulai berkumpul. Penasaran, aku simpan buku novel, ku buang daun bawang tadi dan berjalan menuju kerumunan untuk ikut menonton keramaian.

Ternyata penyebab keramaian adalah pertunjukan yang luar biasa menarik. Sebuah pertunjukan drama ‘air mengalir tanpa memperdulikan perasaan sang bunga’ sedang berlangsung di depan.

Si pemeran ‘air yang acuh tak acuh’ tidak lain adalah suamiku Moxi, sementara si ‘bunga gugur’, kalau aku tak salah, adalah putri kesayangan seorang jenderal, bernama Shi Qian Qian.

Mengapa aku bisa tahu? Karena perhiasan di kamar tidurnya cukup mewah. Akhir-akhir ini aku banyak menjual perhiasan (hasil colongan dari rumah-rumah pejabat tinggi), dan perhiasan miliknya bisa dijual dengan harga paling mahal.

Shi Qian Qian sedang terbaring layu di tanah. Sepertinya pergelangan kakinya sedang terluka. Dia sedang memandang ke arah Moxi dengan sepasang matanya, yang ibarat buah persik, sembari berlinang. Tetapi Moxi dengan wajah acuh tak acuh hanya melihatnya sekilas sebelum dia berbalik badan dan melangkah pergi. Lalu Shi Qian Qian segera maju ke depan untuk menggenggam ujung baju Moxi. Sayangnya, Moxi menghindar dengan secepat kilat, yang menyebabkannya jatuh ke tanah dengan muka penuh lumpur.

Kerumunan penonton menghela napas penuh iba ke arah Shi Qian Qian yang masih terkapar di tanah dan menanggung rasa malu. Dia menggigit ujung bibirnya dengan ekspresi keras kepala, matanya memerah. Dia terlihat begitu rapuh, membuatku merasa kasihan padanya.

Tetapi Moxi tetap bergeming. Tanpa melirik sedikitpun, dia cepat berjalan menjauh.

Hmmm, aku mengusap daguku sembari berpikir. Moxi seumur-umur tidak pernah memperlihatkanku ekspresi wajah seperti itu semenjak aku mengasuhnya saat dia masih berusia sembilan tahun. Tidak kubayangkan dia bisa menjadi seorang pria yang berhati dingin begitu dia jauh dari rumah.

Nona muda tadi ternyata sangat keras kepala. Setelah Moxi menjauh, orang-orang ingin menolongnya, tetapi dia menolak, dia memilih untuk berdiri sendiri. Aku pikir, wanita yang menyukai Moxi pastilah seseorang yang baik hatinya, yang bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah, maka aku gunakan sedikit sihir untuk mengobati pergelangan kakinya yang luka. Tanpa memperdulikan ekspresi terperangah di wajahnya, aku segera berbalik badan dan pergi mengejar Moxi ku.

Moxi memasuki sebuah kedai minum kecil. Aku berhenti melangkah dan berdiri di bawah pohon Willow. Aku tidak bisa ikut masuk karena kedai minum terasa berbeda hari ini. Kedai minum kecil ini mengeluarkan aura naga yang sama dengan istana kerajaan. Aku menatap ke arah lantai dua tempat seorang pria yang mengenakan pakaian berwarna biru sedang bersandar di jendela dan minum seorang diri.

Sang Kaisar.

Kaisar yang sedang berkuasa di Alam Fana saat ini adalah seorang pemimpin yang bijaksana. Era ini bisa menikmati masa penuh kedamaian dan kemakmuran. Sayangnya, jenderal di bawahnya mengkontrol terlalu banyak kekuatan sehingga sang kaisar muda kini tidak bisa tidur nyenyak, dan sedang memikirkan cara untuk bisa melucuti si jenderal dari kekuatan militernya.

Padahal belum lama Moxi datang ke ibu kota tetapi dia sudah bisa menemui kaisar secara pribadi. Tampaknya dia bisa memikirkan taktik jitu untuk membantu sang kaisar menyelesaikan persoalan yang paling membuat nya khawatir.

Sewaktu aku sedang mengagumi kepintaran Moxi, seorang pria yang mengenakan jubah Tao mendadak muncul dari lorong kecil di samping kedai minum tersebut.

Pendeta Kerajaan. Ia adalah seorang pendeta tergarang di dunia ini, aku bisa segera mengenalinya. Dahulu, si biksu tua yang memburuku juga pernah memohon pendeta ini agar menolongnya untuk menangkapku.

Aku segera bisa menebak akan muncul kembali perkelahian setelah berjumpa pendeta ini sekarang. Di saat aku sedang meratapi nasib penderitaan hidupku, tanpa diduga pendeta tersebut menatapku, lalu langsung berbalik badan dan pergi begitu saja. Selagi aku sedang bingung-bingungnya, tahu-tahu terdengar panggilan lembut dari lantai dua: “Sansheng!”

Moxi telah melihatku dari jendela.

Aku tak bisa bersembunyi, lantas aku tersenyum padanya sembari menjawab,

Aku ingin selalu bisa memandangmu sepanjang waktu, dan aku tak tahan melewati sepinya malam panjang tanpa kamu, makanya aku datang. Lekas percepat pernikahan kita, Moxi.

Begitu aku selesai berbicara, jalanan langsung terasa sunyi senyap dalam waktu yang lama. Moxi tersipu dalam keheningan panjang ini.

“Hahaha.” Terdengar suara tertawa geli Kaisar di belakang Moxi. “Sungguh wanita cantik yang pemberani. Moxi, kamu beruntung!”

Moxi memberi hormat kepada kaisar lalu dia bergegas turun, aku berseri-seri. Moxi mendekatiku, sepertinya sedang berusaha kuat mengendalikan kegembiraannya. Dia mengerutkan alisnya dan bertanya, “Kenapa begitu cepat kau datang menyusulku? Kupikir aku harus menunggu enam bulan lagi sebelum bisa bertemu. Kamu datang sendirian, apakah perjalananmu melelahkan? Apakah di jalan menemui kesulitan? Kamu lapar? Mau istirahat?”

Aku hanya menatapnya sembari tersenyum.

Moxi mengamatiku dengan cermat dan berkata, “Tampaknya aku khawatir tanpa sebab, Sansheng tidak akan membiarkan dirinya sendiri menderita. Bagaimana kamu bisa menemukanku?”

“Aku melihatmu di jalan barusan.”

Wajah Moxi yang tersenyum, langsung kaku. Cepat-cepat dia menjelaskan: “Sansheng, itu tadi…”

“Aku tahu, gadis itu menyukaimu.”

Dia perhatikan mukaku. “Mukanya cukup cantik, “ kataku, “tapi dia sedikit pendek, jadi dia tidak cocok denganmu.”

“Tentu saja,” Moxi tertawa mendengar kata-kataku. “Hanya Sansheng seorang untukku.”
Aku menepuk pundaknya penuh semangat. “Bagus kalau kamu mengerti.”

“Aku pamit dulu dengan Paduka Kaisar, lalu aku antar kamu pulang untuk istirahat.”

“Baiklah.”

Ternyata Moxi tidak tinggal di istana, ataupun tinggal di rumah pejabat. Dia justru membeli sebuah rumah yang nyaman, dengan tata letak ruangan yang sangat menyerupai rumah tempat kami tinggal di hutan plum.

Setelah makan malam, aku mengajak Moxi jalan mengelilingi kebun kecil di depan rumah.

“Suasana ibu kota sangat jauh berbeda dengan kota kecil tempat kita tinggal. Apakah kamu terbiasa tinggal di sini sendirian?”

“Tidak terlalu banyak hal yang membuatku merasa tidak terbiasa. Tapi ada kalanya, di pagi hari waktu aku bangun, aku tidak melihat makanan pagi yang kamu siapkan, atau di malam hari waktu aku pulang, aku tidak melihat nyala lilin yang kamu tinggalkan untukku. Waktu aku terpikir kamu sendirian di rumah, aku tidak tahu apakah kamu bisa menjaga diri, hal-hal seperti ini membuatku merasa sedikit gelisah.”
Aku tergelak dengan hati riang gembira. Aku genggam tangannya sembari melihat bintang-bintang bertaburan, kuayun seraya berjalan berdampingan. “Moxi.”

“Ya.”

“Moxi.”

“Ya?”

“Moxi.”

“Ada apa?”

“Hanya ingin panggil namamu,” kataku. “Tiap kali aku memanggil namamu, aku bisa mendengar kamu menjawab. Tiba-tiba aku merasa kebahagiaan seperti ini tidak mudah didapatkan.”

Moxi tersenyum simpul. Aku bertanya, “Apakah sulit datang ke ibu kota untuk menjadi pejabat pemerintah?”

Moxi terdiam beberapa saat sebelum menjawab: “Untuk bisa menolong orang lain yang membutuhkan dengan menggunakan kemampuan sendiri, untuk bisa memenuhi kewajiban kemanusiaan dengan penuh belas kasih, mengandalkan kedua belah tangan sendiri agar orang lain bisa merasakan bahagia karena perbuatanku. Meskipun intrik di istana cukup merepotkan, jika aku bisa memiliki kekuatan untuk membantu rakyat jelata…Sansheng, apakah kamu bisa memahami rasa kepuasan seperti ini?”

Aku tak bisa menahan diri untuk tidak bergetar saat menatapnya. Di matanya terlihat jelas sinar yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Saat ini, aku seperti melihat kembali sosok Dewa Perang dari Alam Dewa yang datang ke Alam Arwah dengan diiringi kilauan cahaya.

Ini adalah Moxi yang sesungguhnya. Tiba-tiba aku teringat perkataan Jia padaku ribuan bulan yang lalu: “Tuan Moxi adalah Dewa Perang dari Alam Dewa. Meskipun di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin, tetapi dia hanya peduli akan masalah kesejahteraan dunia. Kalau hatinya sudah penuh memikirkan rakyat jelata, apakah masih ada tempat untuk cinta?”

Saat itu, aku tidak ambil pusing akan ucapan ini, tapi ketika aku melihat ekspresi wajah moxi hari ini, baru aku sadari ternyata Jia adalah tukang ramal yang jeli.

Hati Moxi semata-mata memang ditujukan untuk rakyat jelata, tidak peduli apapun bentuk rupa dia saat ini…..

Keesokan harinya, Moxi pergi menuju istana; dan seperti biasa, aku tinggal di rumah untuk membaca novel-novelku.

Belum sempat aku membaca sampai halaman kedua, tiba-tiba aku mendengar langkah kaki ringan dan teratur dari luar. Apakah tentara? Semenjak aku memiliki kesadaran, aku selalu menjaga prilaku untuk menjadi makhluk spiritual yang patuh. Baiklah, memang aku pernah ditangkap oleh hantu, diomeli oleh Yan Wang, diburu oleh seorang biksu, dan hampir diserang oleh seorang pendeta tapi belum pernah aku mengalami ditangkap oleh tentara yang menyalahi wewenang.

Karena ini akan menjadi pengalaman pertamaku, aku merasa sedikit antusias.

Aku sedang menantikan mereka untuk segera bergegas masuk dan menangkapku, aku ingin melihat serangan macam apa yang mereka persiapkan. Tapi setelah menunggu lama, bak se abad lamanya, yang terdengar cuma suara ketukan di pintu. Aku merasa kecewa. Tidak ada pilihan lain selain membuka pintu dan menyambut yang datang sesuai tata krama.

Para tentara mungkin sedang bersembunyi di tempat tak terlihat, karena aku hanya melihat seorang gadis cantik berdiri di pintu. Aku memandangnya cukup lama sampai akhirnya aku mengenali dia. Bukankah ini nona yang tak diacuhkan Moxi di jalan kemarin—Shi Qian Qian?!

Ketika dia melihatku membuka pintu, dia terlihat seperti baru saja tersambar petir. “Benar ada perempuan,” gumamnya. “Dia benar-benar telah membawa pulang seorang perempuan.”

Menyukai seseorang adalah satu hal, membuat keributan di rumah orang tersebut merupakan hal lain. Jelas aku tidak bisa menuruti perasaan gadis ini, aku melipat kedua belah tanganku di dada, dan sembari bersender di ambang pintu aku berkata, “Benar, aku memang adalah wanita nya. Kami telah tidur bersama, dan juga mengerjakan banyak hal lain bersama, semenjak kami masih kecil. Ada yang ingin kau keluhkan tentang hal ini?”

Gadis muda ini belum terlalu luas wawasannya, sehingga terkaget-kaget mendengar ucapanku. Dia tersandung dua langkah ke belakang dan hampir jatuh. Aku mengangkat alisku sembari menatapnya, merasa diri sendiri mungkin sedikit kejam, tapi pada saat yang sama, aku merasa benar.

Sekonyong-konyong seorang wanita paruh baya melompat muncul dari samping, menunjuk-nunjuk padaku dan mulai mencaci maki: “Jangan kau berani-berani mengganggu nona muda kami! Jangan sampai ucapan tidak senonohmu mengotori telinganya!”

Aku sama sekali tidak bersalah. “Aku menjawab karena dia bertanya. Semua kata yang aku ucapkan adalah benar. Kenapa menjadi tidak senonoh?”

Wajah Shi Qian Qian semakin pucat. Wanita tadi terus mengumpat: “Wanita penggoda tak tahu malu! Beraninya kau kurang ajar ke nona kami! Tangkap dia!”

Aku usap keningku penuh frustrasi. Jelas-jelas dialah yang cari gara-gara. Sebelum aku bisa berbicara baik-baik dengannya, sekelompok tentara berpakaian biru melompat keluar.

“Oh!” Ujarku dengan mata berbinar penuh semangat. Wanita tadi berseru, “Dia akan menggunakan senjata tersembuyi! Lindungi Nona muda!”

Suara tajam pedang-pedang yang dicabut dari sarungnya membuat bulu kuduk di lenganku merinding.

Aku ingin membuka mulut, tapi sebelum kata-kata “mari berdamai” sempat kuucapkan, sebilah besar pedang segera menghantam menuju kepalaku. Dari berbagai pengalamanku di Alam Fana, aku kini jauh lebih bisa mengendalikan emosiku ketimbang pertama kali aku datang kesini. Meskipun begitu, aku tidak bisa membiarkan mereka menindasku seperti ini. Air mukaku berubah dingin seraya aku menatap tajam ke arah pasukan pertama yang menyerang ke arahku.

Manusia fana yang tidak pernah berlatih sihir akan langsung merasa ketakutan saat menghadapi tatapan dinginku. Mereka kemudian jatuh berlutut dan tanpa berdaya langsung melakukan kowtow.

Tapi barisan pasukan di belakang tidak merasa jera dan masih melesat untuk mengeroyok ku.

Aku membaca mantra, mengayunkan tanganku dengan lembut, seketika para tentara yang mendekat untuk menyerangku langsung melayang berhamburan. Aku menghela napas: “Menjadi orang itu harus pandai mengamati dan menilai situasi.”

Shi Qian Qian dan wanita tadi terlempar oleh kekuatan kegelapan dan jatuh ke tanah. Mereka tercengang. Aku maju mendekat dan menawarkan untuk membantu si wanita berdiri, tapi dia langsung menjerit “siluman” dan lari kocar kacir. Maka aku berpaling untuk menolong Shi Qian Qian.

Dia malah dengan patuh membiarkan aku menolongnya berdiri. Aku hapus debu dan kotoran di mukanya dan berkata, “Sesuka apapun kamu dengan seseorang, kamu harus masih memiliki rasa harga diri. Jangan lagi datang ke rumah orang dan membuat keributan. Bukan hanya itu akan merendahkan statusmu, tetapi juga tidak ada gunanya. Oh ya, tiga masa kehidupan Moxi juga sudah ditakdirkan untukku. Kalau kamu sangat ingin menggodanya, datanglah lagi setelah habis tiga masa kehidupan.”

Semua yang aku katakan adalah yang sejujurnya; aku tidak menyangka ketika terdengar di telinganya justru berubah menjadi makna lain. Matanya memerah, dia berbalik badan lalu berlari pergi sembari menangis.

Setelah itu, aku sapu seluruh rumah, dan kembali membaca buku dengan tenang. Aku ingat sebelumnya tadi aku sedang membaca bagian di mana seorang pemuda cendikia sedang berjumpa seorang gadis cantik untuk pertama kalinya. Sang gadis memaksa mencium pemuda tersebut. Menurutku, harusnya cerita ini bisa dibuat sedikit lebih elegan.

The Dewi
The Dewi
"I am so clever that sometimes I don't understand a single word I'm saying"

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

error: Content is protected !!