Novel TranslationsSansheng, Wangchuan Wu ShangSansheng, Wangchuan Wu Shang Translation - Chapter 4

Sansheng, Wangchuan Wu Shang Translation – Chapter 4 [INDONESIA]

- Advertisement -

 

author Jiu Lu Fei Xiang - Sansheng, Death Exists Not at the River of Oblivion
Jiu Lu Fei Xiang – author of Sansheng, Death Exists Not at the River of Oblivion

Bab 4: Moxi, Semoga Hidupmu Penuh Dengan Kedamaian

Sore hari, Moxi bergegas pulang.

Aku sedang bersandar di kursi malas sembari melirik ke arahnya sebentar sebelum kembali membaca buku. Dia berdiri di ambang pintu beberapa saat sebelum perlahan melangkah masuk. Dia kemudian duduk di pinggir kursi malas, menimbang-nimbang, lalu berkata, “Aku dengar, ada tentara datang hari ini.”

“Mmn.”

“Sansheng…”

Aku lempar buku ke samping, duduk tegap, dan menatap lurus kepadanya. “Apa yang ingin kau tanyakan?”

Dia membuka mulutnya, tetapi tidak keluar sepatah katapun.

“Aku lah yang melawan para tentara itu, Shi Qian Qian juga aku yang usir.”

Dia menatapku sebentar, lalu tersenyum dengan tatapan tak berdaya.

Aku angkat alisku sembari berkata, “Kenapa? Apakah kamu ingin menikahi putri jenderal itu? Oh, kalau begitu aku sudah berbuat salah; aku sudah mengacaukan pernikahan mu. Kalau kamu jadi merasa sedih, aku akan pergi mencari gadis itu dan bawa dia kembali. Tampaknya dia sangat jatuh hati padamu.” Aku langsung berjalan keluar begitu aku selesai berbicara.

Dia menarikku kembali, dengan wajahnya memerah tersipu. “Sansheng, kamu tahu bukan itu maksudku. Aku sebenarnya senang kamu…….kamu bisa cemburu begitu karena aku. Hanya saja….”

“Hanya saja apa?”

“Para tentara tadi menyebut kamu siluman. Mereka akan memanggil Pendeta Kerajaan kesini besok untuk ‘membunuh siluman’.

“Pendeta Kerajaan?” Aku kembali teringat bayangan wajah galak di lorong sebelah kedai minum hari itu.

Moxi mengangguk dengan dahi berkerut. “Sansheng, apakah kamu ingin bersembunyi dulu?”

“Bersembunyi?” Aku bertanya keheranan. “Kenapa aku harus bersembunyi? Aku bukan siluman.” Tetapi melihat wajah cemas Moxi, aku segera mengerti. “Moxi, apakah selama ini kamu selalu mengira aku adalah siluman? Apakah kamu ingin memintaku bersembuyi karena kamu takut Pendeta Kerajaan akan menguak identitas ku sebagai ‘siluman’?”

Moxi mengerutkan dahinya.

Aku mengangguk dan bergumam sendiri: “Aku rasa dugaanmu masuk akal. Aku hidup bersamamu telah sekian lama, tetapi penampilanku tidak menua. Kalau aku ingin ada api, aku bisa menciptakan api; kalau aku ingin ada angin, aku bisa membuat angin. Masuk akal jika kamu mengira aku adalah siluman. Sekarang, kamu pasti takut kepadaku?”

Setelah mendengar kata-kataku, muka Moxi langsung berubah marah: sangat langka. “Kenapa aku harus takut kepadamu?! Memang kenapa kalau kamu adalah siluman? Sansheng tidak pernah mencelakaiku. Aku bukan seseorang yang tidak punya perasaan. Aku mengerti bagaimana perlakuanmu terhadapku! Apalagi kamu bukan lah siluman, sekalipun kamu adalah siluman, aku selalu mencintaimu dan akan selalu mencintaimu seumur hidup!”

Kata ‘cinta’ membuat hatiku gembira. Bibirku tidak tahan untuk tersenyum.

Selama ini, perangai Moxi selalu halus. Jelas sikapnya terhadapku juga teramat lembut. Jarang aku melihat wajahnya penuh emosi seperti saat ini, aku jadi merasa aneh sendiri. “Jadi apa yang kamu takutkan?”

Mukanya tampak tegang. Dia agak merasa malu aku bisa membuatnya terdiam. Dia berpikir sejenak lalu menghela napas. “Sansheng, aku takut kamu diganggu.”

Aku merasa lucu mendengarnya. “Kamu ingat halaman rumah si gendut Wang?”

Dia melirikku: “Sebilah rumputpun tak tersisa.”

Aku mengangguk puas. “Tidak apa mereka menggangguku selama aku bisa membalas mengganggu mereka. Istrimu bisa menerima perlakuan apapun kecuali perlakuan kejam semena mena orang lain. Kamu tidak perlu khawatir.”

Terhibur akan jawabanku, Moxi tidak lanjut berbicara.

Di malam hari ketika kami berbasuh, aku melihat lubang kecil di lengan bajunya. Aku terkejut dan bertanya, “Kenapa ini?”
Moxi menarik dan menyembunyikan lengan bajunya. “Bukan apa-apa. Aku hanya bertengkar dengan beberapa tentara hari ini dan lengan bajuku tersangkut baju besi mereka, itu saja.”

Aku ulurkan tanganku: “Berikan bajumu sini, aku bantu jahit lubangnya.”

Dengan bercahayakan sinar lilin, aku jahit lubang di lengan bajunya helai demi helai benang. Moxi duduk di sebelahku, menolehkan wajahnya memperhatikanku membetulkan bajunya. Senyuman terus tersematkan di bibirnya seperti ia telah menemukan kebahagiaan hidup dalam hal kecil seperti ini.

“Selesai.” Aku kembalikan bajunya. Melihat mukanya terlihat sangat puas, aku mendadak bertanya padanya, “Apakah kaisar yang sekarang seorang yang bijak?”

Moxi mengambil kembali bajunya dan menjawab, “Beliau adalah seorang raja yang arif bijaksana.”

Aku mengangguk. “Lalu jenderal yang mengkontrol semua kekuatan militer – apakah dia juga seorang jenderal yang baik?”

Moxi mengerutkan dahinya. “Kalau kita bicara tentang kemampuannya memimpin pasukan dalam pertempuran, dia jelas berbakat. Tetapi, negara tidak membutuhkan seseorang yang kejam sepertinya untuk menjaga kedamaian negara.”

Aku mengangguk lagi. “Kalau dia disingkirkan, apakah kesejahteraan rakyat akan meningkat?”

“Tanpa dibatasi oleh kendali jenderal, Paduka Kaisar akan lebih mudah untuk melakukan reformasi, dan kesejahteraan rakyat tentu akan mengalami peningkatan.” Moxi memandangku heran. “Sansheng, apakah kamu mulai tertarik akan masalah ini?”

“Jika ada cara untuk bisa menyingkirkan jenderal demi kesejahteraan rakyat, apakah akan membuatmu senang?”

Mata Moxi berbinar, tapi segera ia turunkan pandangannya untuk menyembunyikan kerlip di matanya. “Tentu saja akan membuatku senang.”

Aku mengangguk kembali. ‘Hari sudah malam. Banyak yang harus kamu kerjakan besok, tidurlah sana.”

Setelah lilin di kamar Moxi padam, aku masih duduk di tempat tidur, mataku memandang cahaya bulan di luar jendela.

Mengapa Moxi bertengkar dengan orang lain tanpa sebab? Aku uraikan satu per satu peristiwa yang terjadi hari ini, dan akhirnya aku mengerti. Dia pasti mendengar orang lain menjulukiku siluman, dan sewaktu ia mendengar besok Pendeta Kerajaan akan dibawa kesini untuk ‘membunuh siluman’, dia tidak mampu menahan amarahnya dan terlibat perkelahian dengan mereka.

Moxi adalah seseorang yang penuh toleran, apalagi belum lama dia menjadi pejabat pemerintah. Meskipun dia mendapat dukungan kaisar, namun dia tidak diberikan tempat tinggal seperti pejabat lain. Tampaknya Moxi berada di posisi yang sulit di Mahkamah Kerajaan.

Kejadian aku berselisih dengan orang-orang dari pihak jenderal hari ini, tanpa sengaja telah mendorong Moxi ke dalam pusat prahara.

Memang betul, aku tidak seperti manusia biasa. Besok sewaktu Pendeta Kerajaan datang, kalau dia mulai berceloteh ‘hawa kegelapan bersarang di dalam mu’ atau ‘kau bukan makhluk dunia ini’, Moxi tak perlu ikut terbawa-bawa masalah lagi…

Keputusan apapun yang aku ambil, jangan sampai membuat dia terlibat.

Aku terbayang kembali kerlip di mata Moxi saat ia menceritakan cita-citanya. Aku gunakan mantra agar tubuhku tak kasat mata dan masuk ke kamar Moxi. “Kamulah yang memberikanku tiga kehidupan,” kataku sembari memperhatikannya tidur, “jadi bukan masalah jika aku ingin menggunakan hidupku demi membantumu lulus dari Ujian Kehidupanmu. Apalagi dalam masa kehidupan ini aku adalah istrimu, sudah menjadi tugasku untuk mendukung penuh suamiku dalam mencapai apapun keinginannya.”

Aku duduk di pinggir tempat tidurnya, kemudian aku dekati wajahnya, dan memberikan kecupan di bibirnya.

Moxi, semoga hidupmu penuh dengan kedamaian.

Pagi hari esoknya, utusan turun untuk memanggil Moxi segera pergi ke istana. Berkali-kali ia mengingatkanku sebelum dia berangkat, jikalau Pendeta Kerajaan datang, aku harus mengulur waktu sampai dia pulang. Aku langsung mengiyakannya.

Tak lama setelah dia pergi, seorang pendeta yang diliputi aura agung datang ke rumah. Pendeta Kerajaan ini terlihat masih sangat muda.

“Berani sekali kau datang kembali ke ibu kota setelah membunuh maha biksu Kong Chen.”

Inilah hal pertama yang diucapkan Pendeta Kerajaan kepadaku. Aku tertegun cukup lama sebelum teringat siapa maha biksu Kong Chen yang dia maksudkan, ternyata adalah biksu yang memburuku selama sembilan tahun silam. “Itu tak benar. Dia meninggal karena usia tuanya; tidak ada hubungannya denganku. Aku bukan siluman dan aku tidak bisa membunuh manusia.”

Pendeta Kerajaan mencibir. “Hawa kegelapan bersarang dalam tubuhmu. Kalau kamu bukan siluman, lalu makhluk apa kau?”

Jika aku memberitahunya bahwa aku adalah arwah batu dari tepi sungai Wangchuan, aku yakin dia pasti tetap bersikeras memanggil ku siluman. Aku berpikir sejenak lalu bertanya, “Apa yang membuatmu sangat yakin aku adalah siluman?”

“Akan terbukti kamu benar siluman atau bukan setelah aku gunakan Api Suci Samadhi.”

Aku pikirkan sejenak ucapannya lalu mengangguk. “Baiklah, tapi harus kau lakukan pembuktian ini di depan banyak orang, bakar aku di atas panggung. Biarkan orang-orang menyaksikan. Kalau aku terus terbakar sampai hangus, dan terbukti aku bukan siluman, maka dengan kehormatanmu sebagai Pendeta Kerajaan, kamu harus mengumumkan ke seluruh dunia bahwa kamu telah salah bunuh orang.”

Dia terperangah mendengar kata-kataku. Akhirnya dia berkata, “Awas kalau kau sampai menggunakan tipuan!”

“Hey, kamu manusia beragama bukan, kenapa pikiranmu begitu picik? Baiklah, baiklah, aku sedang terburu-buru. Cepat seret aku untuk dibakar.”

Aku berjalan keluar penuh semangat, sementara dia tetap tertegun di dalam rumah. Aku kembali masuk rumah dengan kening berkerut, aku tarik lengannya: “Kenapa kau banci betul? Tempo hari sewaktu kau membantu biksu tua itu untuk membunuhku, tidak terlihat ragu-ragu seperti ini.”

Setelah kami sampai di depan pasar, para tentara telah siap siaga di sana dan mempersiapkan panggung. Beberapa dari tentara tersebut seperti terlihat familiar; aku menebak mereka pasti orang-orang dari pihak jenderal. Mereka sedikit merasa heran melihatku datang tanpa mengalami cedera sedikitpun, bahkan aku yang menyeret Pendeta Kerajaan datang kesana. Aku berbalik badan dan melompat ke atas panggung dengan anggun dan menawan. Tentu saja, sembari membuat kagum mereka yang menyaksikan aksiku.

Aku ikat diriku sendiri secara asal-asalan, dan melambai ke arah sang pendeta sembari berujar, “Hey, sudah nih!”

Pendeta Kerajaan hanya melihatku dengan muka suram tetapi dia tidak bergerak. Akupun hanya menatap dia kembali.

Tiba-tiba, seorang wanita muncul dari samping. Dia adalah wanita yang sama yang menemani Shi Qian Qian datang ke rumah tempo hari untuk memulai keributan.

Dia berteriak begitu melihatku: “Itu dia orangnya! Siluman! Dia telah menyihir menteri muda dan mencelakai nona kami. Sungguh menyedihkan nona sampai sekarangpun belum siuman. Pendeta Maha Agung, anda harus membantu kami melenyapkan monster ini. Kita harus basmi benih kejahatan!” Dia menarik lengan baju Pendeta Kerajaan sembari menangis, air mata bercucuran deras sehingga membuat para penonton juga ikutan menangis. Seandainya yang dia tuduh dan caci maki bukanlah aku, sepertinya akupun juga akan ikut merasakan kebencian yang sama.

Mata Pendeta Kerajaan berubah dingin sembari menepis cengkaraman wanita tadi, lalu dengan galak berkata kepadaku, “Ada yang ingin kau ucapkan untuk membela dirimu?”

“Aku benar-benar bukan siluman,” kataku sembari menghela napas.

Sebutir telur dilempar ke bajuku. Seorang anak kecil mengenakan pakaian yang terlihat mahal muncul dari kerumunan sembari melemparkan sebutir telur lagi ke arahku. “Kau ganggu kakakku! Jahat! Kau bahkan mencuri cinta kakakku darinya! Jelas-jelas abang Moxi menyukai kakakku. Semua ini gara-gara kamu.”

Tanpa kusadari dahiku berkerut sembari melihat pakaianku berlumuran dua butir telur. Tapi yang lebih memancing amarahku adalah perkataan anak itu. Aku mencibir dan menggoyangkan jariku, melayangkan bocah itu ke udara. “Dek, kakakmu memang menyukai dia, tapi yang dia sukai adalah aku.”

Bocah tengik itu memberontak di udara. Wanita paruh baya yang sedang menangis tadi, kini menjerit sembari berseru: “Siluman betina, jangan berani-beraninya kau celakai tuan muda kami!” Kerumunan orang-orang di sekeliling juga mulai ribut.

“Jangan sakiti orang lain!” Pendeta Kerajaan berseru tajam. Tali yang mengikatku menegang erat, jariku menjadi tidak bertenaga, bocah tengik itu jatuh ke bawah dan ditangkap wanita tadi.

Seketika, sensasi panas mulai merambat di tubuhku, api mulai membakar dari telapak kaki.

Api Suci Samadhi.

Manusia fana ini sudah berlatih ilmu Api Suci Samadhi. Ilmu yang sulit dikuasai.

Sejujurnya aku takut akan api. Hanya sedikit makhluk spiritual di Alam Arwah yang tidak takut dengan api. Tapi untuk membedakan siluman dari makhluk spiritual, menggunakan api memang merupakan metode yang baik. Siluman akan berubah menjadi bola sinar setelah dibakar, sementara makhluk spiritual dan manusia tidak akan berubah wujud.

Aku tidak takut mati, karena kalau dipikir dari sudut pandang manapun, sejatinya aku tidak pernah hidup. Aku berasal dari Sungai Melupakan di Alam Arwah. Aku terlahir dari tempat kematian itu sendiri.

Kobaran api dengan pedih menghanguskan seluruh tubuhku. Ketika aku hilang kesadaran, aku melihat duo kenalanku. Mereka melayang di udara sembari menyaksikan aku dilalap api. Aku ingin menyapa mereka, tetapi rasa sakit yang aku alami sungguh luar biasa, aku tak berdaya.

Entah berapa lama waktu berlalu. Setelah sensasi panas di tubuhku mulai berkurang, Penjaga Hitam dan Putih Ketidakkekalan melambaikan tangan mereka padaku agar aku mendekat. Sudah lama sekali aku tidak merasa ringan dan enteng seperti ini.

“Hahahahaha!” Penjaga Hitam Ketidakkekalan terpingkal-pingkal sembari menepuk pundakku. “Begitu banyak cara mati yang telah ku saksikan, tapi melihat tampangmu dibakar kobaran api membuat kami berdua terperanjat berkali-kali.”

Mukanya begitu girang membuatku tak tahu mesti berkata apa. Aku satukan kedua telapak tanganku untuk menyambut mereka dan mengucapkan beberapa kalimat santun sesuai tata krama. Lalu aku berbalik badan dan menatap ke bawah. Kerumunan penonton dan wanita paruh baya tadi bersorak sorai mengelu-elukan nama Pendeta Kerajaan. Sementara itu, sang Pendeta kini naik ke atas panggung seorang diri, matanya terus mencari di antara timbunan abu, lalu mukanya pucat pasi.

“Mari pergi, cerita ke abang bagaimana hidupmu selama ini.”

“Sebentar, tunggu aku disini. Aku…aku ada sesuatu yang harus diselesaikan dulu.”

Mereka saling bertatapan. Penjaga Putih Ketidakkekalan bertanya, “Dewa Perang?”

Aku mengangguk.

“Jangan lama-lama.”

Aura naga keluarga kerajaan masih menakjubkan seperti biasa. Untungnya, sekarang aku sudah menjadi makhluk spiritual kembali, sehingga menjadi mudah untukku buat bisa masuk ke istana.

Sewaktu aku melihat Moxi, dia sedang berdiri di hadapan meja Paduka Kaisar.

“Hamba berharap Paduka bisa melindungi istri hamba agar tetap aman.” Ucapnya sembari membungkuk hormat.

Paduka Kaisar meneguk tehnya sebelum beliau menjawab: “Bagaimanapun juga, wanita hanyalah seorang wanita.”

“Yang Mulia Paduka, Sansheng adalah nyawa dan jiwa hamba, seluruh hidup hamba.”

Hatiku terasa hangat. Aku menghampirinya dan memeluknya dari belakang. “Moxi, aku sangat beruntung telah berjumpa denganmu.”

Tubuh Moxi menegang. Dia langsung menoleh ke belakang, tatapannya menembus diriku dan melihat jauh di belakangku entah kemana.

Dia seperti merasakan sesuatu, lalu Moxi mendadak lari keluar.

“Kurang ajar!” teriak seorang kasim yang berdiri di samping kaisar. Kaisar mengangkat sebelah tangannya untuk menahan kasim sementara Moxi berlari keluar aula menuju jalan meninggalkan istana.

Aku mengikutinya sepanjang jalan.

Pertama dia kembali ke rumah. Setelah dia lihat rumah kosong tanpa seorangpun, muka nya berubah pucat. Lalu dia berdiri terpaku sebentar, sebelum akhirnya lari keluar. Setelah bertanya-tanya kepada orang-orang di jalan, akhirnya dia tergopoh-gopoh berjalan menuju pasar.

Saat ini, Pendeta Kerajaan sedang berdiri di atas panggung, sembari menggenggam sejumput abu, “Demi kehormatan saya sebagai Pendeta Kerajaan, saya bersaksi, wanita yang bernama Sansheng, sesungguhnya, bukanlah siluman.”

Hiruk pikuk yang bergema di telingaku terasa jauh. Yang terlihat hanyalah tatapan kosong mata Moxi sembari ia terhuyung dua langkah ke belakang.

Aku melesat ke depan untuk menangkapnya, tetapi kedua tanganku menembus tubuhnya.

Aku menghela napas.

“Sansheng…” dia bisikkan namaku penuh kepedihan yang tidak bisa diungkapkan kata-kata.

“Ya.”, jawabku, tapi aku tiba-tiba teringat dia sekarang tidak bisa lagi mendengar ataupun melihatku.

“Sansheng.”

“Aku disini.”

Tetapi di matanya, aku sudah tidak ada lagi.

Dalam kehidupan Moxi, tidak ada lagi Sansheng.

The Dewi
The Dewi
"I am so clever that sometimes I don't understand a single word I'm saying"

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

error: Content is protected !!