Novel TranslationsSansheng, Wangchuan Wu ShangSansheng, Wangchuan Wu Shang Translation - Chapter 5

Sansheng, Wangchuan Wu Shang Translation – Chapter 5 [INDONESIA]

- Advertisement -
author Jiu Lu Fei Xiang - Sansheng, Death Exists Not at the River of Oblivion
Jiu Lu Fei Xiang – author of Sansheng, Death Exists Not at the River of Oblivion

Kehidupan Pertama – Berpisah Meskipun Cinta

Bab 5: Dia Sedang Melindungimu Lho

Tengkukku terasa sedikit panas begitu aku memasuki Alam Arwah. Dari tiga segel yang telah diberikan Yan Wang, satu telang menghilang. Berarti satu dari tiga masa kehidupan yang Moxi janjikan kepadaku, telah berakhir.

Setelah kembali ke Alam Arwah, aku tidak lagi gemar berjalan keliling sendirian sepanjang sungai Wangchuan. Kupikir, apalah gunanya, toh aku juga berjalan sendirian? Tiap hari, aku bersandar di batu menunggu Moxi datang kembali untuk bereinkarnasi, sehingga aku bisa pergi bersamanya ke Alam Fana.

Waktu berjalan amat cepat di Alam Arwah. Aku baru tersadar empat dekade telah berlalu sewaktu aku melihat kembali sosok yang sepertinya kukenal.

Aku menyengir kepadanya. Diapun mengenaliku kemudian tertegun sejenak. Cukup lama sampai akhirnya dia baru tersadar kembali. “Kamu?”

“Pendeta, lama tak berjumpa. Penampilanmu tidak berubah.”

Dia tidak memperdulikan candaanku dan mengeryitkan dahinya. “Kenapa kau belum bereinkarnasi?”

“Aku sedang menunggu seseorang.”

Perkataan ini kuucapkan dengan apa adanya, tapi ternyata membuat ia tertegun. Dia menghela napas dan terdiam untuk beberapa saat: “Aku lah yang menyebabkan kalian berdua terpisah selama-lamanya…”

Aku lambaikan tanganku dan ingin mengatakan kalau ini semua adalah takdir, tetapi dia melanjutkan: “Kau telah menghabiskan sepanjang hidupmu untuk menunggunya di Alam Arwah, sementara ia menghabiskan seluruh hidupnya berduka untukmu di Alam Fana. Aku bersalah telah membuat terputusnya jodoh di antara kalian.”Dia terdiam, seperti sedang mempertimbangkan sesuatu, lalu dia lanjutkan dengan tegas:”Manusia menuai apa yang ditabur. Aku berhutang kepadamu dalam kehidupan ini, aku pasti akan membayarnya di kehidupan berikutnya.”

“Tidak perlu seperti itu, sungguh,” dengan cepat kukatakan padanya. “Hal ini adalah antara Moxi dan aku, dan kami tidak ingin orang luar terseret ke dalam masalah ini.”

Dia tepis lengan bajunya, menggeleng kepala dan melangkah pergi.

Aku rasa, bagi seseorang yang telah hidup terlalu lama untuk selalu menebak dan menilai hati orang lain dari sudut pandang diri sendiri, merupakan penyakit yang tidak bisa dihindari.

Di kehidupan ini dia telah berprestasi sebagai seorang Pendeta Kerajaan, tetapi begitu meneguk semangkuk ramuan Mengpo, melangkah ke jembatan Naihe, dan melompat masuk sumur reinkarnasi, semua kehidupannya di masa ini akan habis terlupakan.

Kehidupan selanjutnya tidak akan bisa digunakan untuk menebus kesalahan di kehidupan ini.

Setelah Pendeta Kerajaan bereinkarnasi, aku berpikir apakah Moxi juga akan segera datang ke Alam Arwah. Setiap hari, aku bercermin di sungai Wangchuan dan bersolek merapihkan diriku sendiri hingga begitu bersih sampai-sampai aku hampir kelihatan tidak cocok berada di Alam Arwah yang suram ini. Di waktu senggangku, aku duduk di samping batu untuk belajar perihal tata cara manusia. Aku memungut ranting dan menggambar lingkaran di tanah sembari bergumam: “Moxi, cepatlah datang, cepatlah datang.”

Ketulusanku mungkin akhirnya telah membuat langit tersentuh. Hari itu, setelah aku selesai berpakaian kemudian pasang gaya di samping batu, aku melihat Moxi berjalan ke arahku sembari menginjak-injak bunga amarilis di sepanjang Alam Arwah, dengan wajah terlihat murka.

Betul sekali, dia terlihat sangat murka.

Aku masih tengah kebingungan ketika sebuah bola api panas melesat ke arah kakiku. Tersentak, aku lekas melompat untuk menghindarinya.

Semua dedemit dan arwah-arwah halus di sekitar yang ikut menonton segera mengambil langkah seribu begitu melihat ada api.

Tanpa memahami sebab kemarahannya, aku melihat ke arah Moxi. Penampilannya sama seperti kala pertama aku melihatnya – kehadirannya penuh aura sugawi.

Tetapi makhluk Alam Dewa ini sewot tanpa sebab, membuatku keheranan.

Hatiku merasa pedih. Sudah lama aku menunggu dia datang. Kami baru saja bertemu dan belum sempat berkata sepatah katapun dan dia sudah menyerangku. Benar-benar membuatku sedih!

Dia mendekat dan ingin meraih pergelangan tanganku. Ku lindungi titik vitalku dan merunduk ke samping, nyaris menghindari cengkeramannya.

Dia mendengus: “Oh jadi sekarang kamu sudah belajar caranya menghindar dan sudah belajar untuk tahu rasa takut. Kenapa kamu tidak membiarkanku menangkapmu, tidak membiarkanku membakarmu? Apakar kamu akhirnya menyadari hidupmu tidak mudah untuk didapatkan dan sekarang kamu tidak rela kehilangannya?”

Aku renungkan makna di balik kata-katanya. “Moxi, kamu sedang marah padaku?”

“Marah?” Dia kembali mendengus. “Kenapa harus marah? Kamu telah menjagaku, mengorbankan hidupmu demi melindungiku, dan menghadang Ujian Kehidupanku. Tidak cukup rasa terima kasih ini, manalah aku berani untuk marah kepadamu?”

Aku membuka mulut untuk mengatakan aku tidak tahu kenapa dia menjadi begitu marah, sekalian ingin mengungkit bahwa kata-kata dan perbuatannya tidak sesuai. Tetapi melihat amarah yang masih membara di kerutan keningnya, aku diam dan menelan kata-kataku. Kesedihan di hati semakin mendalam.

Melihat wajahku yang sedih dan air mataku yang mulai berkumpul di pelupuk, mukanya menegang sembari dengan kaku ia berkata, “Jangan menangis.”

Aku terus menatapnya dengan mata basah.

Pembuluh darah di dahinya berkedut. Akhirnya, dia menghela napas panjang. “Ya sudahlah.” Matanya berubah lembut, lalu ia menepuk kepalaku dan senyum tak berdaya. “Aku lah sebenarnya yang salah.” Kemudian wajahnya seketika berubah suram kembali. “Mengapa hawa kegelapan di badanmu menjadi begitu pekat?”

Aku sembuyikan wajahku dengan malu-malu. “Karena kupikir kamu akan datang sebentar lagi, maka aku berbasuh dengan menggunakan air sungai setiap hari. Kamu menyukai penampilanku?”

Moxi terdiam cukup lama.

“Aku menjaga agar semuanya tetap bersih setiap hari,” kataku, “sembari menunggu kamu datang. Moxi, kapan kamu akan pergi bereinkarnasi jadi aku bisa ikut pergi denganmu?”

Dia kerutkan dahinya. “Ikut pergi denganku?”

“Tentu saja.”

Ia balikkan pergelangan tangannya dan sebuah segel emas melekat padaku.”Kamu tidak boleh meninggalkan Alam Arwah selama 50 tahun.”

Aku kecewa dan bertanya, “Kenapa?!Bukankah kamu telah menjanjikan tiga masa kehidupan di Alam Fana untukku?”

“Betul. Yang aku minta adalah agar kamu datang setelah 50 tahun.”

“Tapi kamu telah berjanji aku boleh menggodamu.”

“Kamu bisa menggodaku setelah 50 tahun.”

“Tapi kamu nanti sudah jadi kakek-kakek bau tanah. Begitu aku menemukanmu, kita tidak akan memiliki banyak waktu untuk bersama-sama!”

“Tidak usah mencariku kalau begitu.”

Setelah dia selesai mengucapkan kata-katanya, dia berjalan menuju jembatan Naihe. Aku begitu marah padanya, aku pungut segenggam lumpur dan ku lemparkan tepat ke belakang kepalanya.

Dia berdiri memunggungiku, entah seperti apa raut mukanya sekarang. Aku hanya melihat Mengpo yang tahu-tahu berlutut dan melakukan kowtow sedalam-dalamnya: “Beri ampunan Tuan.”

Barulah aku teringat lumpur di Alam Arwah sudah banyak dipijak-pijak oleh arwah dan hantu yang tak terbilang jumlahnya dan merupakan benda terkotor di seluruh tiga Alam. Dengan aku lemparkan lumpur ini ke kepalanya, bagi seorang Dewa dari langit, ini merupakan sebuah penghinaan yang berat.

Dia menoleh ke samping, dan berkata dengan suara sedikit galak: “Aku tidak mau kamu menjadi Ujian Kehidupanku lagi.”

Sungguh aneh perkataannya. Untuk sesaat, aku tidak memahaminya. Aku hanya melihatnya meneguk ramuan Mengpo tanpa sekalipun menoleh ke arahku. Lalu dia masuk untuk bereinkarnasi dan menghilang.

Dia mungkin berpikir aku terlalu banyak ikut campur dan tidak ingin aku ikut dengannya. Memikirkan hal ini, aku merasa begitu sedih hingga aku berlari menubruk batu, menangis tersedu-sedu.

Seandainya orang lain yang menggangguku, akan aku balas mereka sepuluh kali lipat. Tapi yang menggangguku adalah Moxi…Moxi menggangguku, maka aku hanya bisa membiarkannya menggangguku. Aku tidak bisa menang darinya, dan aku juga tidak bisa merelakan (TN: melupakan) dia.

Aku tak tahu sudah berapa lama aku menangis ketika seseorang memanggilku dari luar batu: “Nona Sansheng. Aiya, nona Sansheng ku sayang, jangan menangis, jangan menangis lagi.”

Aku sembulkan kepalaku keluar dari batu dan menatap tamuku dengan mata yang sembap. “Jia, ada apa?”

Jia mengelus keningnya, lalu menggelengkan kepala sembari berkata, “Beberapa hari ini, air mata yang mengalir dari batumu telah membuat air sungai Wangchuan meluap beberapa meter. Sungguh mengagetkan sebuah batu bisa menangis sebanyak ini. Arwah-arwah yang sedang menyebrangi jembatan Naihe begitu ketakutan sampai hampir mati sekali lagi. Yan Wang mengirimku kesini khusus untuk membantu mu agar bisa menjernihkan pikiran.”

Aku mengangguk, lalu mengikuti Jia pergi ke istana Yan Wang dengan murung.

Meskipun terlihat langsing, Yan Wang sebenarnya cukup rakus. Waktu aku menghadapnya, Yan Wang sedang makan daging, dengan riangnya dia menggerogoti kaki babi.

Aku mengangguk untuk menyapanya: “Yan Wang.”

“Oh, Sansheng sudah datang.” Dia lambaikan tangannya. Seketika, dedemit di sampingnya mendekat untuk menyajikan seonggok kaki babi untukku. Tampilannya begitu berminyak membuatku mual. Aku lambaikan tanganku agar dedemit tadi kembali ke tempatnya.

Yan Wang menatapku lalu berkata, “Aku dengar beberapa hari ini kau sedang patah hati karena Tuan Moxi.”

Begitu mendengar nama Moxi, hidungku terasa perih dan mataku mulai berlinang lagi.

“Jangan, jangan, jangan!” Dengan tergagap dia berusaha menghentikanku. “Hari ini aku memanggilmu agar kita bisa memecahkan permasalahan ini. Kalau kamu terus menangis, aku takut sungai Wangchuan akan banjir.”

“Sansheng,” panggilnya sembari menyeka mulut, “apakah kamu tahu tiga Ujian Kehidupan yang mana yang harus dihadapi Tuan Moxi di Alam Fana?”

Aku menggelengkan kepala.

“Berpisah meskipun cinta, bertemu meskipun benci, mencari yang tidak bisa dimiliki. Ini adalah tiga dari delapan Ujian Kehidupan dalam Buddha. Dalam kehidupannya yang terakhir, dia harus berpisah dari yang dicintainya. Di dalam Buku Takdir Si Ming (9), telah dituliskan bahwa Tuan Moxi dan putri dari seorang jenderal, Shi Qian Qian, akan saling jatuh hati tetapi harus terpisah seumur hidup karena mereka berada di posisi yang saling bermusuhan. Begitulah kepedihan terpisah dari seseorang yang dicintai. Tapi, nasibnya menjadi kacau karena kemunculanmu. Mestinya, dia menjalani hidup dalam kesepian, tetapi karena dia bertemu dengan mu, akhirnya mulai tumbuh perasaannya kepadamu setelah bertahun-tahun hidup bersama. Kau ingin membantunya menghindari takdir, sehingga mengorbankan nyawa agar jalan hidupnya menjadi mulus. Dengan dia menghabiskan seumur hidupnya terpisah dengan mu juga bisa dibilang sebagai ujian ‘berpisah meskipun cinta’. Tanpa sengaja kau telah memenuhi tujuan Ujian nya.”

9. Si Ming adalah salah satu Dewa dari Alam Dewa yang bertugas menuliskan nasib hidup semua makhluk dia semua alam.

Yan Wang diam sejenak lalu menghela napas. “Kau tidak pernah melihat bagaimana rupa Tuan Moxi di Alam Fana. Ck ck, beliau aslinya adalah seseorang yang cuek dan santai, tapi demi kamu, dengan kejam dia memaksa kaisar untuk menghukum seluruh klan si jenderal. Dia pasti amat mencintaimu dengan begitu mendalam, karena seumur hidupnya dia tidak pernah menikah. Lalu setelah dia kembali ke Alam Arwah, dia mulai teringat kembali hal-hal di masa lalu. Logikanya, dia adalah Dewa dari langit, berhati murni dan hampir tidak memiliki hasrat, tidak terikat dengan masa lalu. Namun, dia justru masih bersikap seperti itu di hadapanmu, eh….sangat jelas dia masih memiliki perasaan terhadapmu. Beliau mengurungmu di Alam Arwah selama 50 tahun adalah untuk mengacaukan waktu mu dan dia di Alam Fana. Dia tidak ingin kau menjadi Ujian Kehidupannya lagi.”

“Dia sedang melindungimu lho,” kata Yan Wang.

Aku terkejut dengan kata-katanya.

“Semua yang berada di Alam Dewa memandang rendah kita yang berada di Alam Arwah. Sansheng, kamu mesti kerja keras untuk menggoda Tuan Moxi. Hanya dengan begitu maka Alam Arwah kita…Ahahahaha, kamu paham kan maksudnya?”

Tawa histeris Yan Wang terdengar jauh di telingaku. Hanya satu kalimat yang melayang bulak balik di kepalaku.

Dia sedang melindungimu lho.

The Dewi
The Dewi
"I am so clever that sometimes I don't understand a single word I'm saying"

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

error: Content is protected !!