Novel TranslationsSansheng, Wangchuan Wu ShangSansheng, Wangchuan Wu Shang Translation - Chapter 6

Sansheng, Wangchuan Wu Shang Translation – Chapter 6 [INDONESIA]

- Advertisement -
author Jiu Lu Fei Xiang - Sansheng, Death Exists Not at the River of Oblivion
Jiu Lu Fei Xiang – author of Sansheng, Death Exists Not at the River of Oblivion

Kehidupan Kedua – Bertemu Meskipun Benci

Bab 6: Yang Mulia Zhong Hua

Sebelumnya aku tak pernah tahu ada 50 tahun yang begitu berat.

Setelah hukumanku akhirnya selesai, aku pamit dengan Yan Wang dan pergi bereinkarnasi.

Kalau aku tidak pergi mencari Moxi di kehidupan ini, bagaimana jadinya nanti kalau dia memberikan aku segel 50 tahun lagi begitu ia kembali ke Alam Arwah? Karena alasan inilah, aku laksanakan sesuai keinginannya. Aku baru pergi menggodanya setelah dia sudah jompo. Kabarnya laki-laki pada usia ini lebih mudah dibuat tergelincir (TN: untuk berbuat aib). Karir sudah diraih, keluarga sudah dimiliki, semua kenikmatan yang bisa dinikmati juga sudah dinikmati, tapi hidup mereka saat ini kurang gairah.

Kalau misalnya aku bisa berikan dia sedikit rayuan lembut, perihal goda menggoda tidak akan menjadi masalah lagi.
Semua terasa begitu sederhana di dalam benakku, tetapi hidup selalu penuh kejutan.

Total waktu yang aku habiskan untuk menunggu di Alam Arwah adalah sekitar 100 tahun. Hawa kegelapan yang menempel di tubuhku tidak lantas berubah menjadi lebih pudar dibandingkan saat aku pertama kali datang ke Alam Fana. Aku pun juga baru saja berangkat dari Alam Arwah, artinya aroma buluk kegelapan masih anyar melekat. Tidak lama kemudian, persis seperti seonggok daging busuk yang menarik perhatian lalat, aku dikepung sekelompok pendeta Tao kecil.

Manusia di masa ini merasa sedikit terlalu antusias dalam memburu siluman dan ilmu sihir telah berkembang pesat. Sekelompok pendeta kecil ini pun masih lebih muda dariku jika semua umur mereka digabungkan kemudian dikali sepuluh. Meskipun begitu, mereka terlihat begitu tenang dan nampak sudah menguasai ilmu gaib yang mendalam…

Aku tidak lihai dalam menghadapi anak-anak yang serius, maka aku meniru nada bicara Yan Wang untuk menakut-nakuti mereka: “Anak-anak berandalan, minggat, atau ku rebus dan kumakan kalian!”

“Siluman bernyali besar, berani ngoceh tak keruan!” Ketua dari kelompok anak-anak ini mengangkat pedangnya kepadaku. “Akan ku basmi kau hari ini!” serunya.

Aku angkat alisku sembari mengamati anak ini, masih kecil sudah beringas. Jelas terlihat dari perilakunya, dia tidak dididik dengan baik. Aku gelengkan kepalaku sembari menyalahkan gurunya. Selagi aku mencari akal untuk bisa melarikan diri, pekikan seorang wanita tiba-tiba terdengar dari kejauhan: “Chang Wu, cepat menjauh.” Dia berpakaian serba putih, tali pitanya berkibar sembari ia terbang menuju kami seperti seorang dewi turun dari langit.

Aku melihat dengan penuh kagum. Aku tidak menyangka di dunia ini bisa ada seseorang yang begitu indah penampilannya. Belum selesai aku mengaguminya ketika mendadak sehelai pita putih melesat dari tangannya dan mengikatku dengan erat.

Setelah aku bergelut untuk bisa melepaskan diri, aku menyadari pita tersebut terbuat dari bahan yang tidak biasa.
Semua anak-anak berlutut di hadapannya dan memanggil dia ‘Mahaguru’.

Mahaguru…

Dia mengangguk lembut, meminta mereka berdiri, lalu melangkah ke depan untuk mengamatiku beberapa saat. “Ternyata seorang siluman yang cantik.”

Aku tergelak. “Kau juga seorang pendeta yang cantik.”

Dia tersenyum judes. “Walaupun aku tak bisa melihat wujud aslimu, begitu kau terjerat pita sutraku, kau tak akan mampu melepaskan diri, meskipun kau berilmu tinggi.”

Diam-diam aku berkutat dengan pita sutra aneh ini dan mulai merasa bahwa ternyata aku tidak terampil sama sekali. Benda ini memang efektif untuk mengikat orang. Tetapi jika aku mau terus coba-coba dengan nekat, benda ini tetap tidak cukup untuk membelengguku. Yang dikatakan wanita ini adalah ucapan yang terlalu gegabah.

“Bawa dia ke Gunung Liubo, Yang Mulia akan menanganinya.” Lalu dia berujar kepada anak-anak. “Walaupun aku sudah mengikat siluman ini, aku tidak bisa mengukur kekuatan sihirnya. Kalian harus tetap waspada. Jangan biarkan dia menemukan peluang untuk melepaskan diri. Aku masih ada urusan mendesak yang harus ditangani dan tidak bisa kembali bersama kalian.”

Dengan serempak anak-anak menyanggupi pesannya.

Aku baru saja tiba ke dunia ini. Meskipun aku ingin mencari Moxi, aku tidak memiliki petunjuk apapun. Karena itu kupikir lebih baik jika aku ikut pergi dengan mereka. Bukan hanya karena aku bisa menghindar dari gangguan pendeta Tao lainnya, tetapi akupun bisa menggunakan kesempatan ini untuk cari-cari tahu kabar tentang Moxi.

Aku tidak merugi.

Anak-anak tua yang serius ‘mengawal’ku pergi. Mengamati mereka membuatku amat rindu akan Moxi yang dahulu. Dari semua anak-anak ini, hanya ada satu yang masih menyerupai manusia biasa. Nama Tao nya adalah Chang’an, seorang anak yang pendiam, pemalu dan tidak banyak bicara.

Penampilannya menyerupai Moxi kecil di masa kehidupan sebelumnya.

Aku senang mengamatinya, tetapi setiap kali aku menatapnya, dia langsung pucat ketakutan. Entah apa sebabnya, setelah aku bertanya-tanya kepada yang lain, ternyata anak ini takut suatu hari aku akan menyambarnya dan merampas yang nya demi menyuburkan yin ku (10).

10. Hawa kegelapan yang sering disebut-sebut oleh Sansheng adalah hawa yin ini, dimana yin adalah energi kegelapan dan yang adalah sumber cahaya. Tapi yin-yang juga bisa digunakan sebagai referensi hubungan pria dan wanita, dan meskipun dalam konteks ini memang yang dimaksudkan adalah hubungan seksual, namun pembahasan mereka adalah dalam konteks keyakinan Tao dimana dipercayai hubungan seksual bisa menyeimbangkan energi yin-yang seseorang dan merupakan gaya hidup yang sehat, bukan sekedar sebagai istilah yang digunakan untuk memperlembut maksud sebenarnya.

Tiba-tiba aku merasa malu bukan kepalang. Bukan hanya karena aku adalah seorang makhluk spiritual yang tidak perlu melakukan hal memalukan seperti itu, tapi yang seperti apa yang bisa ku rampas dari anak semuda ini? Kalaupun aku mesti merampas yang seseorang….aku harus merampas punya Moxi dahulu.

Sejak saat itu, aku harus terus menahan diri untuk tidak menggunakan tatapan menggelora untuk melihatnya.

Di tengah perjalanan, aku dengar dari pembicaraan pendeta-pendeta Tao kecil ini bahwa kaisar yang saat ini sedang berkuasa gemar mendiskusikan dharma dengan pendeta Tao. Bahkan kepercayaan Taoisme di kalangan rakyat berkembang pesat, banyak pejabat yang bersedia untuk mengirim anak-anak mereka untuk belajar ke biara. Gunung Liubo yang sedang mereka tuju merupakan biara yang cukup berkualitas dibandingkan sekedar biara biasa.

Yang mereka kejar adalah tingkat kedewaan.

Sewaktu anak-anak mengatakan hal ini, muka-muka mereka penuh rasa bangga, seolah-olah menjadi murid Liubo merupakan berkah yang harus dikumpulkan dulu selama ratusan tahun. Sementara itu, aku dengan tenang berpikir meskipun ada beberapa orang manusia fana yang bisa naik ke langit menjadi dewa, yang berhasil hanya hitungan satu atau dua orang dalam waktu beberapa ribu tahun. Tingkat keberhasilan nya sangat rendah.

Para pendeta Tao terlihat mungil mirip pangsit, tapi jalan mereka sangat cepat. Kami tiba di gunung Liubo hanya dalam beberapa hari.

Aku tidak mendengar kabar tentang Moxi sepanjang perjalanan dan aku merasa kecewa. Sewaktu aku berusaha mencari jalan untuk merobek pita sutra sebelum mereka memasuki pegunungan, aku melihat segel emas di pergelangan tanganku kembali bereaksi.

Sensasi terbakar membuatku mengerang kesakitan, namun belum rampung aku mengerang, seketika aku merasakan hembusan energi kuat melesat di atas kepalaku, mengacak-acak rambutku hingga berantakan.

Setelah ku sibak kan rambut yang menutupi mukaku, aku melihat para pendeta Tao kecil di sekeliling berlutut menghadap satu arah dan dengan serempak menyapa: “Yang Mulia!”

Oo, orang inilah sebenarnya bos Liubo.

Aku amati lebih dekat dan seketika aku melonjak girang. Inilah yang disebut dengan ‘memakai sepatumu sampai usang’ titik titik tapi ‘bisa didapatkan dengan mudah’ titik titik (11).

Bukankah itu adalah Moxi?!

11. Maksud Sansheng adalah untuk mengucapkan pribahasa 踏破铁鞋无觅处,得来全不费功夫 Tàpò tiě xié wú mì chù, dé lái quán bù fèi gōngfū. Yang artinya adalah sudah memakai sepatu besi sampai usang, hal yang dicari belum bisa ditemukan. Tetapi waktu sedang tidak dicari, justru ketemu sendiri.

Tetapi saat ini dia terlihat berumur paling tidak sekitar 20an atau 30an tahun. Dia sama sekali tidak jompo maupun uzur, bahkan tidak terlihat seperti seseorang yang telah hidup di Alam Fana selama 50 tahun. Namun kemudian terpikirkan olehku di hidup ini dia ingin mencapai keabadian tingkat dewa, dan karena itu ia berlatih ilmu sihir kaum dewa. Meskipun saat ini dia belum menjadi dewa, namun penampilan mudanya bisa dengan mudah dia pertahankan.

Hampir mati aku menahan tawa dalam hati. Moxiii…Moxi, kamu bersiasat untuk bisa bersembunyi dariku tetapi kamu tak mengira bahwa langit lebih cerdik dari kamu. Mari kita lihat bagaimana kamu bisa bersembunyi dariku kali ini.

Sewaktu aku sedang sibuk tersenyum lebar, tiga bilah pedang melayang ke arahku dengan suara mendesing, aura membunuhnya yang ganas membuat bulu kudukku berdiri. Aku berhenti tersenyum dan melihat ke arah Moxi dengan heran.

Tiga bilah pedang tersebut bukan miliknya, melainkan dilemparkan oleh tiga orang pendeta ber alis putih dan berjenggot panjang di belakang Moxi. Mereka mengernyitkan kening dan menatapku dengan sangat serius.

Moxi dengan dingin berkata: “Makhluk apa ini, berbau hawa kegelapan yang tajam?”

Aku hanya bisa memandang wajahnya dengan bodoh. Tatapan di matanya…tatapan di matanya…ini adalah tatapan yang sama yang sebelumnya ia gunakan untuk melihat Shi Qian Qian di masa kehidupan sebelumnya.

Entah kenapa, tiba-tiba aku merasa takut. Aku tidak pernah menyukai untuk menjelaskan (TN: membela) diri ku sendiri, tapi saat ini aku justru menjelaskan diri ku sendiri: “Meskipun hawa kegelapan di dalamku tajam, tapi aku benar-benar bukan siluman. Aku adalah roh sebuah batu, namaku Sansheng.”

Tiga orang pendeta berjanggut putih saling memandang, jelas mereka tidak mengerti apa yang ku katakan, lalu semua melihat ke arah Moxi.

Dengan tatapan dingin Moxi berkata: “Kalau kau bukan bangsa kami, maka kau berbeda. Kau harus dimusnahkan.”

Kata-katanya begitu tegas tanpa ragu hingga membuatku marah sekaligus sedih. Aku tidak mengerti mengapa kali ini Moxi bereinkarnasi menjadi seseorang yang bloon. Sebelum aku sempat berkata-kata, sejumlah bilah pedang melesat, pita putih yang mengikatku juga semakin ketat membelenggu.

Kemurkaanku meluap. Lebih dari seribu tahun aku bernyawa, kecuali beberapa kali itu aku pernah menyiksa diri sendiri demi melampiaskan kemarahan, tidak pernah ada yang berani berbuat seperti ini kepadaku. Segera aku alihkan kekuatan spiritualku untuk beradu dengannya.

Kalau saat ini dia adalah Moxi sang Dewa Perang, maka pilihanku satu-satunya adalah dengan patuh menunggu mati. Tapi saat ini ia hanyalah seorang manusia fana yang sedang mengejar keabadian. Sihir dalam tubuhnya tidak lebih dari 40 tahun. Meskipun ia berlatih lebih keras lagi, dia tidak akan bisa menang bertarung langsung denganku, bagaimanapun berbakatnya dia.

Belum setengah jam kami beradu, muka Moxi mulai memucat. Sempat terpikir apakah baiknya aku memanfaatkan umurku yang sudah seribu tahun untuk mencurangi seorang dewa yang sedang menjalani Ujian Kehidupannya.

Baru saja aku akan berhenti bertarung, ketika tiba-tiba Moxi memuntahkan semulut penuh darah hitam.

Aku terperanjat dan segera memadamkan kekuatan spritualku.

Apakah kekuatanku kini begitu besar sehingga aku tidak bisa lagi mengkontrolnya?

Aku tercengang.

Ketiga pendeta berjanggut putih berseru: “Yang Mulia Zhong Hua!” dan segera bergegas memapah Moxi dan memeriksa denyut nadinya. Murid-murid Liubo berkerumun mengelilinginya.

Aku tidak khawatir dia akan mati (meskipun dia mati, aku juga tidak akan sekhawatir itu). Saat ini, ujian kehidupan nya ‘Bertemu Meskipun Benci’ belum usai. Kalau dia belum melewati Ujian Kehidupan ini, dia tidak akan bisa bereinkarnasi.

Anak-anak mengkhawatirkannya untuk sesaat ketika mendadak salah seorang berdiri. Aku mengenalinya sebagai salah satu anak yang garang bernama Chang Wu. Benar saja, dia cabut pedang dari sarungnya dan mengarahkan ujungnya kepadaku, sembari berkata penuh kebencian: “Siluman, kamu bahkan masih menyerang Yang Mulia dengan keji saat beliau terluka parah!Kamu pantas mati!”

Begitu ia berkoar, amarah para massa lantas meledak. Para pendeta kecil mencabut pedang mereka dan dengan gusar mengarahkan ujungnya padaku. Bahkan yang paling penakut di antara mereka, Chang’an, wajahnya memerah karena geram. Secara bersamaan mereka berteriak untuk menebasku demi memberantas iblis dan membela kebenaran.

Hal yang paling membuat aku tidak tahan adalah mendengar anak-anak ribut merengek minta permen, dan meskipun situasi ini jauh lebih buruk daripada sekedar meminta permen, pada dasarnya bagiku sama saja.

Aku segera menyerah : “Baiklah, baiklah! Terserah kalian, terserah kalian!”

Begitu kata-kataku terucap, sekelompok anak-anak itu saling melihat ke kanan dan ke kiri, tidak ada yang berani mengambil keputusan. Sampai akhirnya, seorang pendeta tua menggunakan kesempatan ini untuk berseru: “Kurung dia di Pagoda Seribu Kunci di danau Linghu!”

Gunung Liubo memiliki sebuah danau yang tidak terlalu besar, namun teramat dalam. Danau tersebut diliputi oleh kekuatan gaib, dan para murid Liubo menyebutnya Danau Linghu (TN: 灵湖 Líng hú. Ling: arwah, hu: danau). Para pendeta di sini telah menghabiskan waktu ratusan tahun untuk membangun Pagoda Seribu Kunci di dasar danau tersebut, khusus digunakan untuk mengurung iblis berbahaya.

Aku berdiri di tepi danau dan melihat ke arah pagoda yang menjulang di bawah riak air. Aku berpikir sembari mengusap daguku. Benda ini memang tempat yang bagus untuk mengurung siluman. Pertama, karena tempat ini penuh dengan kekuatan gaib yang meluap-luap, tepat untuk menekan dan memurnikan vitalitas siluman. Kedua, tempatnya di bawah air! Siluman tidak akan bisa bernapas, dan kalaupun siluman tersebut ahli dalam menahan napas, setelah dikurung selama 1-2 abad, ia hanya akan berakhir mengambang ke permukaan air sebagai mayat.

Namun, berbeda halnya dengan aku dan makhluk spiritual lainnya. Aura murni dari langit dan bumi justru kondusif untuk kebugaran tubuh dan pikiranku; tempat ini pas untuk mendukung prosesku berkultivasi (TN: melatih ilmu). Aku tidak repot-repot berkutat untuk melawan dan pasrah membiarkan anak-anak menempatkan gelang-gelang berat terbuat dari batu dan mengirimku ke dasar danau dengan menggunakan sihir penahan air.

Pemandangan dalam danau cukup bagus, pikirku sembari merasa sejuk.

Setelah mengurungku di dalam Pagoda Seribu Kunci, anak-anak tadi mulai meneriakiku dari balik gerbang besi tentang jimat entah apa di dalam pagoda. Jika aku keluar secara paksa maka aku akan mati mengenaskan dan sebagainya, aku tidak begitu ambil peduli dan aku robek selembar kertas jimat yang berada di sebuah pilar dan kujadikan mainan.

Ini adalah penjara untuk siluman; semua hal terkait struktur bangunan dimaksudkan untuk melawan siluman. Sudah ribuan kali aku katakan aku bukan siluman. Dasar manusia bodoh selalu buruk sangka!

Bahkan Moxi pun sama…

Saat aku terpikirkan ini, aku merasa sudah teraniaya dan hidungku mulai terasa perih tapi aku masih bisa menahan diri.

Dengan santai aku berjalan mengitari bagian bawah pagoda dan menemukan pintu masuk ke arah anak tangga. Di dalam, binar dari butir-butir permata malam menerangi sepanjang jalan menuju ke atas. Sepertinya ada sesuatu di atas sana—jaraknya terlalu jauh, dan cahaya penerang terlalu remang sehingga aku tidak bisa lihat dengan jelas. Aku menjadi penasaran. Kupikir, lagipula aku tidak ada kerjaan lain, maka perlahan aku naik ke atas.

Begitu aku bisa melihat jelas benda yang berada di atas pagoda…hah, harus kuakui saat aku melihat siapa yang terkurung di dalam benda itu, tahu-tahu aku ingin tertawa. Si Ming Tianjun (TN: Dewa Takdir) rupanya seorang dewa yang teramat gemar dengan melodrama.

Bukankah orang ini adalah Pendeta Kerajaan dari masa kehidupan sebelumnya?!

Meskipun sekarang mata dia hijau – cahaya dingin di dalamnya telah meredup, meskipun sekarang rambutnya putih – penampilannya aneh menakutkan, meskipun sekarang penampilan dia seperti ini, dari sisi manapun dia masih terlihat seperti monster yang berbahaya. Tangan dan kakinya terbelenggu rantai besi, tubuhnya ditarik membentang dan digantungkan di udara, di dalam sebuah sangkar besi yang tertutup oleh kertas-kertas jimat. Sungguh pengamanan yang sangat ketat.

Sewaktu ditangkap dahulu, pasti dia sangat menyeramkan.
Di kehidupan sebelumnya dia adalah pemburu siluman, namun sekarang menjadi siluman. Inilah yang kusebut sebagai hukum karma.

“Yo! Sudah lama tak berjumpa!” aku melambai sembari menyapanya.

“Siapa kau?”suaranya serak, pengucapannya kaku, sepertinya sudah lama ia dikurung di sini.

Aku tersenyum. “Aku Sansheng.”

Dia mengernyitkan keningnya. “Apakah kita saling kenal?”

Aku usap dahiku sembari berpikir. “Tak bisa dibilang kenal sih.”

Kemudian tidak ada lagi kata-kata yang bisa diucapkan. Bosan dalam keheningan, aku melihat ke arah bagian atas Pagoda Seribu Kunci dan bagian atas terlihat lebih terang, karena ada lubang di langit-langit pagoda.

Aku merasakan ada yang ganjil dengan ini, sebab dia dikurung begitu ketat, tetapi lubang ini dibuka tepat di atasnya, apakah mereka tidak takut dia bisa mencari kesempatan untuk kabur? Ataukah para pendeta Liubo begitu yakin akan keampuhan Pagoda Seribu Kunci untuk mengurung semua iblis, sehingga mereka memberikan dia sebuah jendela, agar dia iri dengan dunia luar, dan hari demi hari terus merasa depresi sampai mati.

Aku tercengang, pendeta-pendeta ini sungguh keji.

Belum selesai aku berkhayal, pelan-pelan dia berkata: “Minggir.”

Saat ini aku tidak tahu apa maksudnya, tapi aku menuruti perkataannya dan mundur ke tempat yang lebih gelap.

Tak lama kemudian, aku melihat danau berkilau indah. Sinar matahari masuk melalui lubang di puncak Pagoda dan tepat mengenai mukanya. Cahaya matahari begitu kuat membuat mukanya terlihat pucat, begitu mengerikan.

Perlahan rasa sakit mulai timbul di sepasang mata hijaunya yang suram.

Aku menyaksikan dengan ngeri saat kulitnya perlahan membengkak. Sementara sinar matahari semakin lama semakin kuat, kulitnya yang membengkak mulai melepuh, bahkan ada bagian yang pecah dan mengeluarkan nanah.

Rasa sakit hanya terlihat di mukanya sesaat di awal, setelahnya dia terlihat lebih tenang.

Sudah banyak jenis hukuman yang telah kusaksikan di Alam Arwah, tetapi baru kali ini perutku dibuat mual. Aku tak tahan untuk melihat lebih lanjut, maka aku lepaskan jubahku dan kulemparkan ke arah lubang di langit-langit. Tertutup oleh jubah, cahaya matahari kini menjadi lemah.

Setengah jam kemudian barulah matahari bergerak perlahan dari puncak pagoda.

Barulah kusadari barusan tadi adalah tepat tengah hari. Artinya pria ini dibakar tiap hari di bawah matahari?

“Jangan ikut campur.” Begitulah komentarnya akan tindakanku tadi.

Dengan murah hati, aku tidak memperdulikannya: “Sudah berapa lama kau dikurung disini?”

Dia terdiam beberapa saat, lalu mencibir. “Mungkin sepuluh tahun, mungkin dua puluh. Siapa yang tahu?”

Aku menghela napas, merasa kasihan padanya. Tetapi aku tetap penasaran dengan nasibnya dalam masa kehidupan ini: “Mengapa kamu dikurung? Siapa yang mengurungmu?”

Dia diam dan mengabaikanku. Kupikir, setiap makhluk hidup pasti memiliki kekecewaan di hati yang tidak ingin diceritakan ke orang lain. Maka, aku berhenti bertanya dan mengubah topik pembicaraan: “Apakah kamu ingin keluar?”

“Kalau aku bilang mau, lalu bagaimana? Hanya bisa berkhayal.”

Aku tersenyum bangga.

Bagaimana kalau aku ada cara untuk bisa menolongmu keluar dari sini?

Dia mengangkat kepalanya dan menatapku, sepasang mata hijaunya berbinar cerah.

“Ku lihat kau tidak tampak seperti orang jahat. Lagipula, saat tadi cahaya matahari masuk ke dalam, kau masih berbaik hati memintaku menghindar. Meskipun aku tidak tahu sebabnya mengapa kau dikurung disini, tapi kau sudah dikurung begitu lama, rasanya sudah cukup menjalani apapun hukumanmu. Kau dan aku bisa dibilang kenalan jauh, aku akan berbaik hati untuk menyelamatkanmu, tetapi aku tidak membantumu dengan cuma-cuma. Hari ini kau menerima pertolonganku, maka di kemudian hari kau harus membayarnya.”

“Apa yang kau inginkan sebagai balasannya?”

“Baru-baru ini, ada beberapa bocah tengik yang membuatku sebal, namun apa daya aku adalah seorang gadis yang baik hati, tidak bisa membalas mereka, setelah kau keluar nanti, bantu aku untuk menepak bokong mereka, tidak usah terlalu parah, hanya sampai mereka tidak bisa bangun dari tempat tidur selama sebulan sudah cukup. “ Aku renungkan sejenak, “Oh ya, ada satu yang butuh perlakuan istimewa, khusus untuk dia, buat sampai tidak bisa bangun dari tempat tidur selama tiga bulan. Mari aku jelaskan secara rinci…”

The Dewi
The Dewi
"I am so clever that sometimes I don't understand a single word I'm saying"

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

error: Content is protected !!