Novel TranslationsSansheng, Wangchuan Wu ShangSansheng, Wangchuan Wu Shang Translation - Chapter 7

Sansheng, Wangchuan Wu Shang Translation – Chapter 7 [INDONESIA]

author Jiu Lu Fei Xiang - Sansheng, Death Exists Not at the River of Oblivion
Jiu Lu Fei Xiang – author of Sansheng, Death Exists Not at the River of Oblivion

Kehidupan Kedua — Bertemu Meskipun Benci

Bab: 7 Pagoda Seribu Kunci Telah Hancur

Dalam reinkarnasi kali ini, Pendeta Kerajaan adalah seorang siluman serigala bernama Hu’yi.

Aku melompat-lompat untuk merobek semua kertas jimat yang menempel di badannya sementara dia melihatku dengan tatapan yang semakin lama semakin penuh kekaguman, sampai akhirnya juga muncul sedikit rasa takut.

“Manusia macam apa kau sebenarnya?” dia bertanya.

Aku sibakkan rambutku, ku lambaikan tangan untuk memecahkan rantai-rantai besi tebal, kemudian dengan sedikit kepiluan aku menjawab: “Sejujurnya aku bukanlah seorang manusia.”

Rantai-rantai besi pecah berkeping-keping dan jatuh ke dasar Pagoda Seribu Kunci. Hu’yi melayang di udara, rambut putihnya berkibar dan mata hijaunya yang suram menyinarkan secercah cahaya dingin. Aku tidak tertarik dengan betapa bersuka citanya perasaan dia saat ini, maka aku jentikkan jemariku dan berkata: “Lakukan ini untukku dan kamu akan benar-benar bebas. Ayo pergi!”

Tapi Hu’yi terdiam beberapa saat. “Orang hanya bisa masuk ke dalam Pagoda Seribu Kunci, tapi tidak bisa keluar.”

“Tidak bisa keluar?” Aku melihatnya dengan tatapan tak percaya. “Waktu yang aku habiskan di Alam Fana memang belum terlalu lama, tetapi setidaknya aku tahu bahwa seseorang tidak bisa dipaksa menjual atau membeli. Hanya bisa masuk tapi tidak bisa keluar, sama saja seperti seseorang membeli suatu barang yang bermasalah namun tidak bisa dikembalikan. Para pendeta Liubo sungguh keterlaluan.”

“Lalu kenapa kalau mereka keterlaluan? Di dunia ini, siapa yang kuat, dia lah yang membuat peraturan.”

“Kalimat ini sejalan dengan pemikiranku.” Aku tertawa,

Kalau begitu, mari kita hancurkan pagoda ini sekarang.

Dia melihatku sembari terkejut.

Aku tersenyum lebar: “Yang kuat yang membuat peraturan bukan?”

Lama di kemudian hari, Yan Wang sembari mengeluh menceritakan kembali kepadaku akan kejadian hari ini, “Benar-benar temperamen sebuah batu. Kau bilang akan menghancurkan danau Linghu dan Pagoda Seribu Kunci, ternyata benar-benar kamu menghancurkan semuanya, sampai-sampai hawa kegelapan danau itu bisa sama kuatnya dengan sungai Wangchuan. Tahukah kamu berapa banyak hukuman yang harus diam-diam diderita Tuan Moxi untuk kamu? Dan karena hal inilah Ujian Kehidupan yang harus dihadapinya di kehidupan berikutnya menjadi begitu sulit.

Tapi pada saat ini, aku tidak tahu sama sekali konsekuensi akibat dari perbuatanku. Karena emosi, aku lambaikan tangan dan mengakibatkan kekacauan di sepenjuru danau.
Seluruh Liubo berguncang malam itu sehingga membuat murid-murid Liubo terbangun dari tidur mereka, kemudian…anak-anak gunung Liubo dipukuli sampai menangis semalaman.

Suara menangis terdengar satu per satu.

Hu’yi turun tangan (TN: untuk menepak bokong anak-anak) di depan, sementara aku di belakangnya diam-diam tertawa sembari menutupi mulutku. Sewaktu kami menemukan Changwu, aku tepuk-tepuk pundak Hu’yi: “Tiga bulan! Tiga bulan!”

Hu’yi paham maksudku, lalu dia melesat ke arah Changwu, menarik celananya ke bawah di depan semua orang, “Plak plok” dua buah tepakan mendarat, bokong Changwu seketika membengkak parah. Biasanya anak ini sangat garang, tapi saat ini dia dibuat sangat ketakutan. Ketika rasa sakit mulai terasa, air mata mulai mengalir dengan deras, dan dia menangis kencang.

Aku tidak merasa terlalu senang melihat ini, dan dalam hati mulai merasa tak tega, maka kutendang bokongnya yang membengkak merah dua kali dan kulambaikan tangan ke arah Hu’yi, memintanya untuk berhenti.

Hu’yi mengernyitkan dahinya.

Aku bertanya, “Apa?”

“Dengan begini dia justru tidak akan bisa bangun dari tempat tidur selama setengah tahun.”

“Aiya!” Aku terkejut dan menutup mulut, “Tendanganku terlalu kuat ya?”

Dia berbalik melihat ke arahku. “Menurutmu bagaimana?”

Ku sentuh kepalaku, sembari tertawa konyol tanpa berkata-kata.

Ketika Hu’yi melihat seorang anak terakhir yang belum dipukuli sedang bersembunyi di sudut halaman, dia berbalik untuk menangkap anak itu. Cepat-cepat aku tarik Hu’yi: “Anak ini…”tidak usah dipukul.

Belum selesai ku ucapkan kalimat ini ketika guntur tiba-tiba bergemuruh di langit. Aku dan Hu’yi lompat menjauh, dan sama-sama melihat ke arah langit.

Waktu segel di pergelangan tanganku mulai memanas, aku langsung bisa tahu siapa yang datang.

Moxi, yaitu Yang Mulia Zhonghua di masa kehidupan ini.

Dia mengernyitkan keningnya ketika melihat anak-anak tergeletak di halaman sedang menangis sembari memegang bokong mereka. Matanya melihat ke arahku lalu akhirnya ke Hu’yi. Dua orang saling bertatapan, membuatku bergidik.

Belasan sosok bayangan melintas di belakang Moxi, mereka adalah para tetua dan guru Liubo yang bergegas datang.

Para tetua sangat kasihan kepada yang muda. Mendengar suara tangisan anak-anak, raut muka mereka menghitam, murka. Lalu mereka melihat ke arahku dan Hu’yi, kemudian wajah mereka berubah menjadi semakin buruk lagi.

Suasana menjadi gaduh dan bising, aku korek-korek telingaku merasa terganggu dan berkata kepada Hu’yi: “Aku tepati janjiku, kau telah membantuku melampiaskan kekesalan, dan aku sudah membantu membebaskanmu. Dari air mukamu, aku bisa lihat kamu tidak suka berada di sini, pergilah kemana yang kau suka.”

Hu’yi belum sempat menjawabku, ketika seorang laki-laki tua berjenggot panjang tiba-tiba melangkah maju, menunjuk ke arah kami sembari memaki-maki: “Memangnya Liubo adalah tempat yang kalian bisa keluar masuk seenaknya?! Siluman Hu’yi! Yang Mulia membiarkanmu hidup demi menghargai hubungan kekerabatan di masa lalu, namun sekarang kau melakukan penghinaan ini terhadap Liubo, apa maksudnya?”

Aku teliti baik-baik perkataannya, dan bisa memahami satu dua hal. Pertama, Hu’yi dan Moxi di kehidupan ini pernah kenal sebelumnya. Kedua, kemungkinan Hu’yi dikurung oleh Moxi di dalam Pagoda Seribu Kunci. Ketiga…dengan melihat sikap Moxi sekarang yang begitu benci dengan siluman, tapi dia malah tidak membunuh Hu’yi. Pasti ada kisah di balik ini!

Aku melipat kedua belah tanganku, dan mulai menonton pertunjukan dengan santai dari samping, sayangnya tidak ada tempat untuk duduk, dan juga tidak ada camilan untuk dimakan, mengurangi kenikmatan ku sedikit.

Hu’yi tersenyum sinis dan berkata: “Aku tidak pernah memohon kepada Yang Mulia mu untuk tidak membunuhku, lagipula aku justru dipenjara seumur hidup. Lebih baik aku mati dan bereinkarnasi, daripada tetap hidup dan menderita selamanya.”

Aku angguk kan kepalaku tanda setuju.

“Siluman tidak tahu rasa terimakasih!” setelah berseru, dia cabut pedangnya, bergerak mendekat secepat kilat dan beraksi seperti akan membunuh Hu’yi.

Pikirku, Hu’yi adalah orang yang ingin aku bebaskan, namun sekarang dia belum bisa bebas, ibarat ingin menjual barang yang ada di tangan, tetapi barang tersebut malah rusak dan hilang, ini adalah transaksi yang merugikan orang lain. Aku adalah seseorang yang memiliki integritas, tentu saja aku tidak bisa membiarkan hal ini terjadi.

Aku tarik dia ke belakang ku, dan aku bersiap menerima serangan si lelaki tua itu. Tiba-tiba aku terpikirkan kalau Hu’yi tetap berada di sini, dia justru akan menghambatku. Seharusnya aku membuat dia pergi secepatnya. Aku raih kerah Hu’yi dan aku lemparkan dia ke udara sembari berkata padanya: “Cepat pergi!”

Kekuatan kegelapan menghantam punggungnya dan dalam sekejap menghempaskannya ke suatu tempat yang entah berada dimana…

Ada beberapa orang yang kelihatannya kuat yang segera berbalik badan ingin mengejarnya. Maka aku kumpulkan seluruh tenaga ku dan menjerit. Gelombang kegelapan yang ganas menyerang, memaksa mereka untuk mendekap kepala mereka, menahan sakit. “Kalau kalian ingin menangkapnya, pilihlah hari yang lain, karena hari ini aku telah sepakat untuk menjamin keselamatannya.”

“Siluman betina, hentikan bualan lancangmu!”

Aku tatap lelaki tua yang bawel itu sembari tersenyum cerah: “Bualan atau bukan, kau cobalah buktikan sendiri.”

Eskpresi wajahku membuat si lelaki tua bangka yang kaku ini begitu marah sampai mengeluarkan asap dari kepalanya, dia genggam pedangnya dan menyerang ke arahku. Tiba-tiba, dari kejauhan terdengar suara panik memanggil-manggil: “Guru!Guru!” Seorang murid Liubo tergesa-gesa terbang mendekat.

Murid tersebut segera mendarat, kedua belah kakinya pun belum mantap berdiri, sehingga ia terguling beberapa kali sampai akhirnya dia tiba di depan lelaki tua tadi.

Yang Mulia! Guru! Pagoda Seribu Kunci…Pagoda Seribu Kunci telah hancur!

Dengan tenang aku mengangkat alis dan melihat wajah orang-orang di sekeliling seperti berubah aneh, sampai akhirnya perlahan-lahan sorotan mata mereka yang penuh kengerian berputar arah kepadaku.

Aku kedip-kedipkan mata, mengangkat bahu dan berkata: “Hmmm, aku tak mengira Pagoda apa itu namanya ternyata sangat kotor berantakan, dikebut-kebut sedikit tahunya…” Tatapan mata mereka membuatku merasa panik, akhirnya aku hanya bisa menyentuh kepala sembari tertawa bodoh, “Ha Ha dia malah berubah menjadi bola bubuk, mengapung-apung buyar di danau, ahaha…”

The Dewi
The Dewi
"I am so clever that sometimes I don't understand a single word I'm saying"

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

error: Content is protected !!