Novel TranslationsSansheng, Wangchuan Wu ShangSansheng, Wangchuan Wu Shang Translation - Chapter 11

Sansheng, Wangchuan Wu Shang Translation – Chapter 11 [INDONESIA]

author Jiu Lu Fei Xiang - Sansheng, Death Exists Not at the River of Oblivion
Jiu Lu Fei Xiang – author of Sansheng, Death Exists Not at the River of Oblivion

Kehidupan Ketiga – Mencari Yang Tidak Bisa Dimiliki

Bab 11 Sansheng, Memalukan Bertingkah Imut Begitu

Setelah aku dikawal kembali ke Alam Arwah oleh Heibai Wuchang (TN: Penjaga Ketidakkekalan: dewa berpakaian hitam dan putih yang mengawal roh manusia untuk bereinkarnasi), timbul lagi sensasi terbakar di tengkukku. Seketika aku menyadari bahwa setelah ini hanya tersisa satu masa kehidupan lagi antara aku dan Moxi.

Kali ini aku tidak berniat untuk menunggu Moxi di Alam Arwah agar bisa bereinkarnasi bersama-sama. Aku tidak mau dia menyegelku selama ratusan bahkan ribuan tahun. Meskipun begitu, aku tidak bisa bereinkarnasi terlalu cepat. Sebab saat ini Moxi kemungkinan baru saja selesai mengubur jasadku. Kalau aku langsung pergi bereinkarnasi dan muncul kembali di hadapannya, para penghuni Liubo pasti lari kocar kacir karena ketakutan begitu melihatku.

Oleh karena itu, aku memutuskan untuk pergi ke istana Yan Wang, aku ingin menanyakan kapan Moxi akan datang kembali ke Alam Arwah, sehingga aku bisa memperkirakan waktu yang tepat untuk pergi bereinkarnasi.

Tetapi ketika aku menghadap Yan Wang, belum sempat aku berbicara, dia malah langsung mengitari ku dua kali sembari berdecak: “Ck ck ck, sungguh luar biasa Sansheng kami.” Karena tubuhnya terlalu pendek, dia hanya bisa menepuk-nepuk pahaku dengan senang. “Dua kali kau telah membantu Tuan Moxi melewati Ujian Kehidupannya, dan setiap kalinya, kamu telah berhasil menggoda beliau. Hari-hari berjaya bagi kami, para kaum Alam Arwah, sudah di depan mata! Ahahahahhaahaha!”

Aku menepak tangannya yang secara perlahan mulai menjalar untuk menyentuh bokongku sembari bertanya: “Kapan Moxi akan kembali datang? Aku tidak bisa berpapasan dengannya lagi kali ini.”

Yan Wang melompat naik ke atas mejanya, dan membolak-balikkan tumpukan buku yang berantakan di atasnya: “Nah, ini dia, yang ini.” Yan Wang memincingkan matanya kemudian berkata, “Di dalam Buku Nasib dewa Si Ming dituliskan, yah, setelah Hu’yi memporak porandakan Liubo, kekuatan Liubo jauh melemah. Tidak sampai 2 tahun waktu berlalu setelah kejadian itu, Zhonghua akan mati dibunuh di dalam ruang tidurnya.”

Aku terkejut: “Siapa yang akan membunuhnya?”

“Juniornya yang bernama Qingling.”

“Pendeta wanita itu?” aku meraba daguku, “Padahal di dalam sepasang matanya yang memikat sangat jelas terlihat perasaannya yang pilu terhadap Moxi: ‘aku selama ini diam-diam telah mencintaimu’. Mana mungkin dia mampu membunuh Moxi?”

“Mungkin karena dari perasaan cinta itu sendiri tumbuh perasaan benci. Cintanya tak terbalas, maka ia berbalik ingin membunuh nya. Kamu lihat, di sini tertulis—sejak roh gurunya dibebaskan oleh Hu’yi, Zhonghua menghabiskan hari-harinya dengan bermabuk-mabukan, untuk menghindar dari kenyataan. Kemudian Qingling menyatakan cinta kepadanya, namun malah ditolak. Tumbuh lah perasaan benci, lalu dia bunuh Zhonghua dan kemudian dia bunuh diri.”

Aku renungkan sejenak lalu aku berkata dengan penuh keseriusan: “Yan Wang, jangan-jangan melodrama ini anda yang mengaturnya ya?”

Yan Wang pun dengan serius menjawab: “Semua nasib Dewa Moxi ditulis pribadi oleh Dewa Si Ming loh.”

Karena itulah, sejak saat itu aku semakin penasaran seberapa mengerikannya pemikiran si Dewa Si Ming tersebut.

Aku pulang ke tepi sungai Wangchuan, dan menjelma kembali sebagai batu. Tak terasa, dua tahun berlalu begitu cepat. Aku meminta bantuan dedemit kecil Jia dan Yi untuk mencari tahu kabar Moxi sewaktu mereka pergi ke Alam Fana untuk menjemput arwah. Mereka mengabarkanku bahwa memang betul kekuatan Liubo telah jauh berkurang, dan memang betul Moxi setiap harinya bermabuk-mabukan, demikian juga dengan pendeta wanita bernama Qingling telah ditolak cintanya dan kini memendam kebencian. Tetapi, di dalam Buku Nasib tidak dituliskan secara terperinci; bahwa Zhonghua setiap harinya mabuk di dalam hutan pohon plum yang penuh dengan salju berkilau, juga tidak dituliskan bahwa Zhonghua telah menghujamkan bilah pedang miliknya, yang telah diwariskan turun temurun dari generasi ke generasi Liubo, ke sebuah kuburan tanpa nama, ibarat seonggok besi rongsokan.

Dia kini tak lagi menggunakan pedang, dan pergi mengangsingkan diri.

Setelah selesai mendengarkan laporan dari mereka, aku menatap ke arah langit dan kemudian tertawa sembari ditatap oleh pandangan ngeri Jia dan Yi.

Jia berkata: “Sansheng, kali ini kamu harus berhasil, sungguh melelahkan kamu terus menderita di Alam Fana, hatiku terasa sakit dan sedih melihatnya.”

Ku tepuk-tepuk pundak Jia: “Dia mau bereinkarnasi menjadi apapun, mau menghadapi Ujian Kehidupan seperti apapun, Moxi masih bisa tergerak hatinya oleh godaanku. Aku merasa sangat bangga. Cukup Moxi sendiri lah yang bersedih, sementara aku hanya perlu tersenyum dan menunggu kehidupan selanjutnya untuk pergi menggodanya.”

Yi kemudian berbalik badan dan menyatukan telapak tangannya untuk berdoa: “Amitabha, Tuan Moxi harap berjaga diri.”

Dengan riang gembira, aku kembali ke dalam batu dan duduk-duduk selama beberapa hari. Begitu aku memperkirakan hari-hari yang dinanti semakin dekat, maka aku bangkit dan menepuk-nepuk bokongku kemudian aku pergi menuju Alam Fana dengan penuh gaya.

Setibanya aku di Alam Fana, ada beberapa kali aku merasa hampir tak tahan ingin pergi ke Liubo untuk melihatnya, tetapi aku memaksa diri untuk bersabar. Hingga sampailah pada hari itu, ketika aku sedang bersandar di lantai dua sebuah kedai teh sembari membaca buku cerita. Aku sedang membaca cerita di bagian ketika seorang pemuda memasukkan tangannya ke dalam pakaian seorang wanita muda, kemudian wanita itu berteriak: “Jangan” lalu kemudian dia justru menanggalkan pakaiannya sendiri dan berkata: “Mari kita lakukan ini secara perlahan.” Hal ini membuatku mengangkat kedua alis dan berpikir wanita ini benar-benar garang. Tiba-tiba terdengar suara seseorang berseru dari lantai bawah: “Mana mungkin!”

Aku menoleh ke bawah dan melihat seorang pendeta tua yang sedang menggenggam selembar surat dengan tangan gemetaran seperti menderita epilepsi.

Kemudian dia menutup wajahnya dan meratap dalam tangisan yang panjang: “Yang Mulia sudah tiada! Liubo sudah habis! Generasi Tao ku sudah berakhir!” Raungannya yang memilukan membuat orang merinding. Kalau bukan karena aku mengenal Zhonghua, aku akan menyangka mereka berdua memiliki jalinan asmara terlarang yang tak terlupakan di masa lalu.

Zhonghua akhirnya telah pergi. Sudah aku perhitungkan, di kehidupan kali ini aku harus mengawasi dia tumbuh dewasa dengan mata kepalaku sendiri. Tidak akan ku biarkan dia memiliki masa kecil yang tidak bahagia, tidak juga akan ku biarkan dia memiliki kesempatan untuk jatuh cinta kepada wanita lain. Aku langsung tersenyum bejat. Aku harus bisa menjeratnya agar tak bisa lepas dari dalam kepalan tanganku!

Kembali aku terpikirkan, Ujian Kehidupannya kali ini adalah “Mencari Yang Tidak Bisa Dimiliki.”

Mencari Yang Tidak Bisa Dimiliki?

Dia memiliki aku, benda apa yang Moxi inginkan namun tidak bisa dimiliki?

Ketika malam tiba, duo kenalan ku datang menemuiku. Penjaga Hitam Ketidakkekalan (TN: Hei Wuchang) (14) bergidik ketika ia melihatku: “Sansheng, berikutnya kamu pulang kembali ke Alam Arwah, sebaiknya kamu berhati-hati.”

14. Untuk mempersingkat, Penjaga Hitam Ketidakkekalan cukup disebut sebagai Hei Wuchang untuk ke depannya. Begitu pula Penjaga Putih Ketidakkekalan akan disebut sebagai Bai Wuchang.

“Memang kenapa?”

Hei Wuchang kembali bergidik: “Kamu tidak lihat bagaimana rupa Dewa Perang saat dia murka. Setelah beliau mengetahui kamu sudah pergi duluan, wajahnya begitu suram seakan-akan Yan Wang sudah merebut wanita miliknya. Yan Wang sangat ketakutan, sampai-sampai dia terkencing di celana.”

“Dia benar-benar marah?”

Hei Wuchang tidak berhenti gemetaran, aku alihkan pandanganku kepada Bai Wuchang, dia melanjutkan: “Masih ingat lantai granit hitam dari Fengzhen di Istana Yan Wang? Lantai granit itu kini sudah hancur menjadi bubuk setelah diterjangnya tiga kali.”

Sekujur tubuhku kaku, tampaknya aku telah lupa, kala dia sedang menjalani Ujian Kehidupan nya di dunia ini, aku memang lebih kuat darinya berkali-kali lipat. Namun, pada akhirnya aku harus pulang kembali ke Alam Arwah, dan dia pun akan menuntaskan Ujian Kehidupannya, dan akan kembali ke wujud aslinya sebagai Dewa Perang, sementara aku hanyalah sekutil makhluk spiritual tak berdaya dari batu Sansheng…

Manalagi batu granit Fengzhen lebih keras dari ku beratus-ratus kali…..

Aku segera meraih lengan Bai Wuchang dan memohon dengan air mata berlinang: “Abang Bai, nanti begitu aku kembali, kau harus menolongku!”

Bai Wuchang kemudian hanya menatapku sesaat, dan berkata dengan wajah tanpa ekspresi:

Sansheng, memalukan bertingkah imut begitu.

Dengan santai aku hapus air mataku: “Taktik ini berhasil pada Moxi.”

Hei Wuchang lantas menarik Bai Wuchang kemudian berpamit: “Begitu saja yang ingin kami sampaikan, abang akan pergi dulu. Perbanyaklah berdoa untuk memohon berkah. Oh ya, kali ini dia akan bereinkarnasi menjadi seorang anak petani di kaki gunung Yangshan. Kalau kau ingin menggodanya, segera lah berangkat.”

Tentu saja sebenarnya aku tidak perlu diingatkan. Aku segera bergegas menuju kaki gunung Yangshan, dan menajamkan telinga, mencari-cari tahu di seluruh desa tersebut, dari rumah yang mana yang akan terdengar suara tangisan bayi yang baru lahir.

Namun, selain dari beberapa rumah yang tetap membiarkan lampu nya menyala sepanjang malam, aku tidak mendengar suara apapun lagi yang menandakan ada seorang bayi lahir dari rumah-rumah itu, meskipun aku telah menunggu semalaman hingga cahaya bintang-bintang mulai menghilang dari cakrawala.

Aku berdiri di atap rumah seorang petani dengan perasaan muram, Heibai Wuchang pasti telah mengantar Moxi untuk berinkarnasi, informasi yang mereka sampaikan kepadaku tidak mungkin salah. Tetapi, Moxi bereinkarnasi kemana?

Saat aku sedang memikirkan hal ini, tiba-tiba aku melihat sekilas seorang pria menyelinap keluar dari sebuah gubuk jerami. Dia tampak seperti sedang memeluk sesuatu.

Segel di pergelangan tanganku berubah panas, hatiku mulai merasa curiga, maka aku segera ikuti pria itu.

Pria tersebut berjalan menuju sungai di daerah luar desa kemudian berhenti, dia melihat sekelilingnya sejenak, lalu sekonyong-konyong melempar benda di dalam pelukannya ke dalam sungai. Helaian kain bedong itu terurai, dan aku melihat raut wajah seorang bayi.

Hatiku mendidih, maka aku segera pergi ke hadapan pria itu dan ku ayunkan tanganku untuk menamparnya hingga pingsan. Kemudian aku telusuri permukaan air dan aku pungut Moxi dari sungai.

Setelah itu aku berdiri dan ku tatap wajah kecil bayi tersebut yang membiru. Mulutnya membuka dan menutup, tetapi tidak ada suara yang terdengar.

Aku termangu.

Moxi…dalam kehidupan ini dia terlahir bisu!

Seseorang yang bisu dianggap membawa pertanda buruk.

Oleh karena itu, ketika melihat dia lahir namun tidak bisa mengeluarkan suara, ayahnya kemudian membuangnya …..Dan karena itulah, meskipun ada Sansheng, di kehidupan ini Moxi pun memiliki hal yang dicari namun tidak bisa dimiliki.

Setelah ku pikir masak-masak, Moxi kali ini memiliki kekurangan pada tubuhnya, maka baiknya dia hidup jauh dari keramaian, agar terhindar dari gunjingan tak mengenakkan dari orang lain. Tapi kemudian setelah kupikir lagi, dialah yang harus memutuskan sendiri ingin menjalani kehidupan yang seperti apa. Lagipula, dia masih harus melewati Ujian Kehidupannya, kalau aku terus-terusan melindunginya secara membabi buta, yang pada akhirnya justru menyebabkan dia tidak bisa melewati Ujian Kehidupan tersebut……maka langit tidak akan mengampuniku.

Oleh karena itu, aku goyang-goyangkan kepalan tinju kecil nya Moxi, dan ku letakkan sebuah koin di dalam telapak tangannya yang belum sepenuh nya terbuka sembari berkata: “Moxi, kalau sisi kepala, kita hidup sederhana di perkotaan, kalau sisi ekor, kita hidup sederhana di pedesaan, coba kamu lempar.”

Dia memutar tangannya dan menimpuk kan koin itu ke wajahku, kemudian mengerutkan keningnya seolah-olah ingin menangis.

Dalam hati aku berpikir, bisa jadi Ramuan Melupakan Mengpo yang diminum Moxi belum bereaksi, kalau tidak, mana mungkin dia bisa tega menyakiti Sansheng yang berparas cantik seindah bunga.

Aku melongok ke arah koin yang jatuh ke tanah: “Sesuai keinginanmu, kita hidup sederhana di perkotaan.” Moxi memasukkan kepalan tangannya ke dalam mulut, kemudian menjilat-jilatinya dengan nikmat, hingga air liurnya menetes ke seluruh dagunya; dia terlalu sibuk untuk memperdulikan ku.

Dewa Perang yang Maha Agung di Sembilan Surga, kini telah bereinkarnasi menjadi sosok yang begitu jelek….

Aku penasaran, seandainya kalau bentuk dia yang sekarang ku gambar dan kemudian hari aku tunjukkan kepadanya, aku yakin pasti saat itu ekspresi wajahnya sungguh luar biasa.

Menurut Moxi, ia ingin hidup sederhana di perkotaan, maka aku sengaja memilih sebuah kota yang besar agar sesuai dengan keinginannya. Setelah banyak pertimbangan, aku merasa ibu kota adalah tempat yang paling sesuai. Maka malam itu kami melaju dalam kabut di atas awan terbang, dan tiba di ibukota keesokan harinya.

Menurutku, kali ini aku akan membesarkan Moxi sampai dewasa, maka aku tidak bisa membiarkan dia memiliki masa kecil dimana dia harus terus berpindah tempat, tanpa tempat tinggal yang permanen, karena aku. Karena itulah aku memutuskan untuk menekan energi kegelapan di dalam tubuhku, dan tidak lagi menggunakan sihir kecuali dalam keadaan terdesak.

Aku menyewa sebuah rumah kecil dan mulai membenahinya sehingga layak untuk dihuni. Kemudian aku menatap ke arah Moxi dan merenungkan kehidupan kami ke depan yang tanpa ilmu sihir, tentang bagaimana nanti kami bisa memiliki mata pencaharian.

Aku sentuh hidungnya: “Kamu bisa apa, coba, untuk menghasilkan uang?”

Mungkin dia merasa nada bicaraku kepadanya terlalu merendahkan, karena kemudian ia menunjukkan rasa ketidakpuasannya kepadaku dengan membasahi seluruh tanganku dengan air liurnya. Dengan tenang aku balikkan tanganku dan kuseka ke atas rambutnya.

Dia membuka mulutnya tanpa bersuara, dua kepalan tinju mungilnya lalu mendorongku dengan kuat.

“Hanya sekarang lah aku bisa usil kepadamu, ketika nanti kamu kembali menjadi Dewa Perang, entah apa yang akan kau lakukan untuk membalasku. Aku tak mau rugi.”

Dengan demikian, semakin kuat aku menyeka air liur di tanganku ke rambutnya.

Hari kedua, aku masih saja memikirkan masalah mata pencaharian.

Memunculkan uang dengan menggunakan sihir bukanlah suatu hal yang sulit, yang sulit adalah bagaimana cara membuat para tetangga tidak curiga; seharian hanya duduk-duduk di rumah tetapi bisa menghasilkan uang.

Ketika aku sedang menggendong Moxi dan duduk di depan pintu, sembari mengerutkan keningku, tiba-tiba ada seorang pria mabuk yang terhuyung-huyung melewati pintu rumah kami. Aku tatap punggung pria tadi, lalu aku menoleh ke arah Moxi dan bertanya kepadanya: “Bagaimana dengan minuman keras?”

Dia sedang menghisap jarinya, tertidur lelap.

Tujuh tahun kemudian, terdapat sebuah kedai minum di kawasan sebelah timur di ibu kota.

Aku ketuk-ketuk meja kasir. Seorang penjaga kedai yang sedang menghitung bon, mengangkat kepalanya dan melihat ke arahku. Ia tersenyum sembari berkata: “Nona Sansheng, tumben hari ini ada waktu untuk datang ke sini?”

“Aku sedang mencari Moxi. Dia tidak ada di rumah, siapa tahu dia datang kesini.” Aku melihat-lihat sekeliling, tetapi tetap tidak menemukan sosok Moxi, lalu sekalian aku bertanya: “Bagaimana bisnis akhir-akhir ini?”

“Akhir-akhir ini bisnis cukup bagus, nona ingin melihat buku akun nya?”

Penjaga kedai tua yang bernama Liu ini adalah seseorang yang baik hati dan jujur, aku selalu percaya padanya. Lagipula, membuka kedai minum hanyalah sebuah kedok. Ketika aku membutuhkan uang, aku hanya cukup membalikkan tangan, maka uang pun akan muncul.

Aku lambaikan tangan dan berkata kalau aku tidak perlu melihat buku akun. Aku sedang melirik ke lantai dua ketika aku melihat sekilas bayangan seorang anak kecil, aku menoleh ke atas dan ternyata benar itu adalah Moxi. Aku tersenyum dan memanggilnya turun: “Moxi! Mari pulang, sudah waktunya makan.”

Moxi melihat yang memanggilnya adalah aku, lalu ia tertawa dan bergegas lari ke bawah.

Beberapa pelanggan yang datang untuk minum tak mampu menahan untuk membuat suara berdecak. Penjaga Liu yang mendengarnya kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya: “Nona masih muda, tetapi kemana-mana selalu bersama dengan tuan muda, sehingga membuat orang lain salah paham. Kalau terus dibiarkan, saya khawatir bisa menghambat kehidupan anda!”

Aku memberitahukan kepada orang-orang bahwa Moxi adalah anak yang aku asuh dan kubesarkan ibarat adik laki-lakiku sendiri. Bagi mereka yang mengenalku dengan akrab, begitu mendengar akan ‘amal baik’ ku ini, mereka selalu membalasnya dengan menghela napas penuh keprihatinan.

Moxi berlari ke arah ku, tetapi begitu ia mendengar perkataan ini, dia lalu melihat ke arah Penjaga Liu dengan tatapan bingung, kemudian dia berbalik melihat ke arahku. Aku berlutut dan membantu Moxi menyeka noda debu yang menempel di wajahnya, lalu menjawab dengan acuh tak acuh: “Biarkanlah orang lain salah paham, aku tidak ambil pusing dengan pemikiran mereka. Seumur hidupku, sudah cukup dengan ada nya Moxi.”

Ibarat orang dewasa, Moxi tersenyum sembari merapihkan rambut di keningku.

Penjaga Liu kembali menghela napas: “Nona Sansheng, umur anda memang masih terlalu muda (TN: sehingga tak paham maksud perkataanku).”

Aku gandeng tangan Moxi dan berkata dengan serius kepada Penjaga Liu: “Usia ku tidak muda. Hanya saja, aku tidak tumbuh kerut dan rambut putih.” Karena bagi sebuah batu, menumbuhkan rambut saja sudah sulit, apalagi kalau harus membuat corak kerut-kerut….

Penjaga Liu menganggap aku sedang bercanda, dan aku pun tidak ingin menjelaskan apa-apa, maka kugandeng Moxi dan kami berdua pulang ke rumah bersama-sama.

Di tengah waktu makan, tiba-tiba Moxi dengan gelisah memberikan isyarat kepadaku untuk mengatakan sesuatu. Aku perhatikan cukup lama sampai akhirnya aku paham maksud pertanyaannya: apakah suatu hari aku akan pergi bersama orang lain.

Dengan tenang aku letakkan sepotong paha ayam di mangkuknya: “Apakah kamu ingin aku pergi bersama orang lain?”

Dia peluk mangkuknya sembari menggeleng-gelengkan kepala, raut wajahnya terlihat sedikit sendu. Kemudian dia menghabiskan waktu hampir semalaman untuk berisyarat lagi, yang intinya adalah: kakaknya Xiao Ding, tetangga sebelah, telah pergi bersama orang lain, dan nantinya tidak akan kembali lagi untuk mengunjungi Xiao Ding. Dia khawatir nantinya aku akan sama seperti kakaknya Xiao Ding.

Aku tidak pernah menyembunyikan asal usulnya darinya, dan sebelumnya pun dia tidak pernah merasa ada yang janggal. Tetapi semenjak setahun yang lalu, setelah dia mulai bersekolah, dia merasakan dirinya berbeda dengan orang lain. Atau mungkin ada seseorang yang mengatakan sesuatu kepadanya, atau mungkin juga dia khawatir bahwa akupun tidak menginginkannya lagi. Maka ia kini berubah menjadi lebih penurut, semua hal dia kerjakan sendiri dengan telaten. Perangainya begitu baik sehingga dia sama sekali tidak menyusahkan seperti anak-anak lain.

Sikapnya yang sangat tahu diri, membuat hatiku trenyuh.

Kalau aku tahu akan menjadi begini, saat itu seharusnya aku bawa saja dia untuk tinggal menyepi di pegunungan,sehingga dia bisa bersikap lebih nakal sedikit, lebih semau-maunya sedikit, sehingga aku bisa merasa lebih lega untuk merawatnya.

Aku usap-usap kepalanya dan berkata kepadanya dengan lembut: “Sansheng tidak akan pergi kemana-mana, dimana ada Moxi, disitulah ada Sansheng. “ Aku toh datang kesini untuk menggodamu, bagaimana mungkin aku bisa tega pergi meninggalkanmu.

Setelah mendengar kata-kataku, matanya berbinar, kemudian dia membiarkan ku mengacak-acak rambutnya yang lembut, sementara dia menghabiskan makanannya sampai bersih.

Pada malam hari, setelah aku baru saja menemani Moxi tidur, tiba-tiba aku mendengar suara kecil seperti ada sesuatu yang terjatuh di halaman.

Aku mengangkat kedua alisku, dan dalam hati berpikir, maling bodoh mana yang memilih untuk mencuri di rumahku. Sewaktu aku membuka pintu, hatiku justru terkejut. Ternyata bukan seorang pencuri, melainkan seorang pria tinggi besar yang berpakaian khusus untuk mengendap-ngendap pada malam hari. Saat ini dia sedang menutupi luka di pinggangnya dan bersandar pada dinding, menyembunyikan sosoknya di dalam gelap bayang-bayang malam.

Dia tentunya tak tahu bahwa mataku masih mampu melihat dengan jelas meskipun misalnya mataku tertutup kain.

Aku mengerucutkan bibirku dan berpura-pura tidak melihatnya, lalu aku berjalan menuju sudut halaman dan mengangkat sebuah ember berisi air kemudian membawanya masuk ke dalam rumah.

Malam itu, seluruh ibu kota diberlakukan darurat militer sepanjang malam. Cahaya terang obor di luar membuat langit seluruh kota seperti menyala.

Sementara aku tertidur lelap sembari memeluk Moxi. Hanya saja aku berpikir diam-diam sebelum tertidur tadi, apakah Ujian Kehidupan Moxi kini akan dimulai? Ataukah ini hanya suatu kebetulan kecil? Apapun itu, ini bisa menjadi masalah. Kalau besok orang itu masih ada di sini….

Akan aku hajar dia dan ku buang ke jalan.

The Dewi
The Dewi
"I am so clever that sometimes I don't understand a single word I'm saying"

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

error: Content is protected !!