Novel TranslationsSansheng, Wangchuan Wu ShangSansheng, Wangchuan Wu Shang Translation - Chapter 12

Sansheng, Wangchuan Wu Shang Translation – Chapter 12 [INDONESIA]

- Advertisement -
author Jiu Lu Fei Xiang - Sansheng, Death Exists Not at the River of Oblivion
Jiu Lu Fei Xiang – author of Sansheng, Death Exists Not at the River of Oblivion

Kehidupan Ketiga – Mencari Yang Tidak Bisa Dimiliki

Bab: 12 Salahkan Nasib!

Hari kedua, ternyata dia masih ada.

Tetapi, aku tidak bisa membuang dia ke jalanan seperti yang telah kupikirkan semalam. Karena….

Moxi menarik-narik lengan baju pria berpakaian hitam yang sedang tidak sadarkan diri itu, wajahnya menatapku tak berdaya, dan dengan resah memintaku untuk menolongnya.

Aku menghela napas, dalam hati aku berpikir, seandainya aku usir pria ini sekarang, apakah akan membuatku terlihat terlalu kejam? Ditambah lagi, aku paling tidak tahan kalau Moxi menggunakan tatapan mata seperti ini untuk melihatku. Maka, aku segera menganggukan kepala, dan menyeret pria tersebut masuk ke dalam rumah. Ku tanggalkan pakaiannya untuk membersihkan luka di pinggangnya, kemudian ku balurkan obat dan membalut lukanya kembali.

Setelah melihat pria tersebut mulai bisa bernapas lebih tenang, wajah Moxi yang ketakutan hingga pucat pasi, perlahan menjadi cerah kembali. Aku pikir, seandainya saat ini Moxi sedang dalam wujud Dewa Perang, luka seperti ini bahkan tidak akan diliriknya. Tetapi Moxi yang baru berumur tujuh tahun ini sungguh lemah lembut.

Aku cuci tanganku sembari menatap Moxi dan berkata kepadanya dengan serius: “Menolong orang ini kemungkinan akan menimbulkan masalah besar, tetapi kaulah yang memintaku untuk menolongnya. Jadi nanti jangan mengeluh kepadaku bahwa kau menyesal.”

Moxi mengangguk, tanpa memahami sepenuhnya maksud perkataanku.

Aku tatap mata bulatnya yang basah, yang terus melihat kepadaku tanpa berkedip, perasaan panik di wajahnya masih belum surut sepenuhnya, membuat hatiku terasa melunak. Hatiku tak tahan, maka ku kecup dia di pipi putihnya yang lembut.

Matanya melebar lebih bulat lagi.

“Enak?” aku bertanya kepadanya sembari memegang dagunya dan bergaya bak preman.

Moxi menyentuh pipinya dan memikirkan pertanyaan ini sejenak, kemudian ia anggukkan kepalanya dengan teguh.

Aku tersenyum pongah: “Meskipun rasanya enak, tetapi hal ini hanya bisa dilakukan dengan orang yang paling penting dalam hidupmu. Tidak boleh dilakukan ke sembarangan orang.”

Moxi mengelus wajahnya dua kali, kemudian tangan kecilnya menyentuh wajahku, bola matanya yang jernih memantulkan dengan jelas paras ku. Kemudian ia berjinjit, dan meniru perbuatan ku barusan dengan memberi ku kecupan di pipi.

Lalu ia sentuh tempat yang baru saja ia kecup, sembari terus menatapku, sepertinya sedang mengutarakan “Aku hanya akan berbuat ini kepada Sansheng.”

Aku kembali tak bisa menahan diri dan memberikan kecupan ke seluruh mukanya, memenuhi wajahnya dengan air liur ku. Dia pun tak berdaya untuk mendorongku, dan hanya bisa tersenyum tanpa mengeluarkan suara.

“Moxiii, Moxi, bagaimana Sansheng tidak akan suka kepadamu!” Aku usap rambut lembut di dahinya, sembari berharap seandainya aku bisa menyimpan dia di dalam kantong agar bisa terus melindunginya.

Hari-hari berikutnya kami lalui seperti biasa. Hanya saja kini di dalam rumah kami, juga ada seorang pria yang masih tak sadarkan diri. Seluruh ibu kota juga kini dipenuhi oleh para tentara yang berpatroli. Kedai minum pun telah digeledah beberapa kali, untungnya mereka belum datang menggeledah rumahku.

Tiga hari kemudian, saat Moxi pergi bersekolah, aku tidak memiliki kesibukan apa-apa maka aku membaca buku sembari duduk di kursi goyang di halaman. Sembari aku berayun di kursi goyang, mataku melihat ke arah langit, lalu ku tatap buku ku, aku menghitung hari dan menantikan saat bunga plum di halaman akan bermekaran. Mendadak dari dalam rumah sayup-sayup terdengar suara langkah kaki.

Aku menutup mata dan mencermati suara langkahnya yang dengan perlahan keluar dari kamar di belakang, lalu berputar mengelilingi ruang tamu, kemudian mengitari gudang kayu bakar, dan akhirnya sampai di halaman, di sana langkah kakinya berhenti.

“Nona siapa?” Dia bertanya, suaranya dingin, “Mengapa kau menolongku?”

“Salahkan nasib!” aku tak tahan untuk berkeluh kesah, “Hatiku paling lemah menahan bujukan untuk menolongmu, aku merasa tak berdaya.”

Pria yang sedang berdiri di belakangku tersebut kemudian terdiam beberapa saat, lalu dia berkata dengan sedikit tersipu: “Saya tak mampu menerima perasaan nona. Saat ini saya sama sekali tidak ada minat untuk menjalin asmara.”

Dalam hati aku ingin tertawa terbahak-bahak. Waktu aku mengatakan hatiku paling lemah menahan bujukan, maksudku adalah bujukannya Moxi, tetapi pria ini yang menganggap dirinya sendiri pintar dan banyak yang naksir, telah benar-benar salah paham dengan maksudku. Namun, pada dasarnya aku adalah seseorang yang tidak suka jika harus memperjelas diri sendiri, lagipula ini bukanlah suatu masalah yang besar, oleh karena itu aku biarkan saja dia terlarut dalam khayalannya.

Melihatku terdiam, dia melanjutkan: “Beberapa hari ini, apakah nona yang membantuku…mmm, memberikan obat dan membalut luka ku?”

“Mmn.” Jawabku dengan tidak terlalu ambil peduli, “Buang hajat besar, hajat kecil, termasuk kentut, mencuci rambut, menyeka badan, mengelap pantat, semuanya aku yang membantumu.” Sebenarnya setelah Moxi tertidur, aku menggunakan sihir untuk mengerjakan semuanya. Aku pertimbangkan sejenak kemudian ku tambahkan: “Ini adalah demi kebaikanmu sendiri, maka perlu aku katakan. Kotoranmu benar-benar bau, sepertinya kamu ada sakit, mesti pergi berobat.”

Tidak terdengar suara dari posisinya di belakang.

Keheningan seperti ini terus berlanjut sampai malam.

Begitu Moxi kembali pulang, ia membuka pintu dan tercengang. Dia berlari ke arahku, dan menarik-narik tanganku. Wajahnya tersenyum senang sembari menunjuk ke arah pria itu. Saat ini, aku sedang membawa sepiring sayur tumis. Aku mengangguk seraya masuk ke dalam rumah: “Ya, ya. Aku tahu, aku tahu.”

Pria tersebut melihat ke arah Moxi dan wajahnya berubah sedikit heran untuk sesaat: “Ini adalah….”

Aku pincingkan mataku kepadanya: “Ini adalah adikku.”

Moxi tersenyum kepadanya, kemudian ia sepertinya terpikirkan akan sesuatu, lalu ia berisyarat kepadanya, dia tampak seperti seorang anak dewasa yang masih kecil. Pria tersebut terlihat seperti mulai tertarik dengan Moxi, maka ia mendekat dan mengitari Moxi beberapa kali sembari berkata: “Fisiknya sangat bagus dan memiliki potensi besar, berbakat untuk berlatih bela diri. Hanya saja, dia tidak bisa bicara?”

“Mmn, sudah begitu sejak lahir.” Dia menanyakan hal ini dengan sungkan dan berhati-hati, namun aku menjawabnya dengan terus terang dan apa adanya. Moxi pun tersenyum tanpa ambil peduli. Hal ini membuatnya memandang kami dengan aneh.

“Nona pikirannya terbuka.”

Saat kami makan bersama, aku mengambilkan makanan untuk Moxi, dan seperti biasa dia  mengisyaratkan kepadaku hal-hal menarik di sekolah. Pria tersebut tidak tahan untuk bertanya, “Sampai sekarang pun dia tidak bisa menulis?”

Senyum di wajah Moxi menghilang dan dia menunduk untuk melanjutkan makannya. Aku letakkan sumpitku: “Ada komentar yang ingin kau sampaikan?”

“Saya…”

“Sekalipun kau berkomentar, aku tidak peduli.”

Dia terdiam dan kemudian pelan-pelan menghela napas: “Nona, anda telah salah paham. Maksud saya adalah kemungkinan guru-guru di sekolah melihat kondisi anak ini seperti ini, maka mereka mendiskriminasikan dia dan tidak mengajarinya dengan sungguh-sungguh. Saat ini saya berhutang budi kepada nona dan saya tidak memiliki apa-apa untuk membalasnya. Namun saya bisa mengajarkannya beberapa hal yang bisa berguna, yang bisa membantunya hidup nyaman di masa depan.”

“Hal ini baiknya kau tanyakan langsung kepada Moxi. Buat apa kau melihat kepadaku?” Menurutku, Moxi setara denganku. Dialah yang harus menentukan sendiri hal-hal dalam kehidupannya, bagaimana mungkin aku yang mengambil keputusan untuk dia?

Pria itu kembali menghela napasnya, sepertinya merasa kalau berkomunikasi denganku tidak terlalu sulit. Ketika dia hendak berbicara lagi, tiba-tiba Moxi meraih tangannya, menatapnya dengan serius, kemudian mengangguk dengan sungguh-sungguh.

Pria itupun tercenung, lalu tersenyum dan berkata: “Kalau begitu, sekarang aku telah menjadi gurumu. Besok kau tak usah pergi ke sekolah lagi. Kau akan mengalami banyak kesulitan belajar denganku, karena itu kau harus mempersiapkan diri baik-baik.”

Moxi kembali mengangguk penuh semangat. Aku kemudian bertanya padanya: “Siapa namamu? Aku toh tidak bisa terus-terusan memanggilmu dengan ‘hei hei’.”

Dia kemudian berpikir sejenak: “Panggil saya Bai Jiu (15).”

15. 白九 Bái jiǔ Artinya arak putih. Minuman beralkohol yang umum di Cina.

Aku mencibir, ini benar-benar nama palsu yang tidak kreatif: “Baiklah, kalau begitu namaku adalah Huang Jiu. Dan anak ini namanya adalah Xiong Huang Jiu (16).”

16. 黄酒 Huángjiǔ dan 雄黄酒 Xiónghuángjiǔ Artinya adalah arak kuning dan arak realgar yang biasa diminum saat festival perahu naga.

Wajah Bai Jiu berkedut: “Nona pintar melucu…”

Aku menjawab dengan ringan: “Tidak juga….”

Maka sejak saat itu, Moxi memulai masa pembelajarannya.

Sang guru ini, jangankan bagi Moxi, bagi ku pun beliau adalah merupakan seseorang yang asing. Guru Bai Jiu mengajarkan Moxi menulis, membaca, melukis, ilmu bela diri, dan terkadang juga mengajarkannya untuk bisa memainkan dua buah lagu dengan alat musik sitar.

Banyak hal yang ia ajarkan, dan Moxi pun mampu menangkap ilmunya dengan cepat. Sepertinya dengan Tuhan tidak memberikan kepadanya kemampuan untuk berbicara, dia kemudian dilimpahkan anugerah untuk memiliki banyak bakat.

Terutama dalam hal memainkan sitar, dia sangat berbakat. Belum lama dia belajar, namun dia sudah mulai bisa memainkan seluruh bagian dari lagu tersebut. Aku paling suka berbaring di samping dudukan sitarnya, dan menyangga kepalaku untuk menatap sosoknya yang seperti orang dewasa kecil. Ujung jarinya yang mungil dan lembut meluncur dan berputar di atas senar sitar. Ada beberapa nada yang belum ia kuasai sepenuhnya, tetapi penampilannya yang percaya diri begitu manis membuat orang sungguh jatuh hati.

Saat Bai Jiu sedang tidak ada, berkali-kali aku mengambil kesempatan untuk ‘memanfaatkan’ Moxi secara diam-diam.

Satu kali, aku pernah memeluk Moxi, aku berkata padanya ini adalah untuk menunjukkan ‘perhatian’.

Wajahnya tersipu setelah ku kecup, dan secara kebetulan ketahuan oleh gurunya. Semenjak hari itu, gurunya selalu melindungi dia dariku, ibarat aku adalah sesosok siluman pemakan anak-anak dari Gunung Hitam. Sehingga aku sulit untuk bisa ‘memanfaatkan’ Moxi. Darah kebencianku terhadap Bai Jiu pun mengalir deras, mampu menenggelamkan beberapa buah pantai. Begitu aku mulai merenungkan kapan aku bisa menghabisi makhluk merepotkan ini, dia malah mendadak sering sibuk, tidak ada di rumah.

Kini aku bisa santai dan tenang, tiap saat menempel pada Moxi. Tetapi, aku tidak tahu apa yang Bai Jiu katakan padanya, karena sekarang Moxi terlihat malu dan tak lagi mau dekat denganku.

Aku tidak ingin memaksa Moxi, tetapi dalam hati aku semakin membenci Bai Jiu.

Moxi belajar dengan sangat serius, meskipun tanpa ada pengawasan dari Bai Jiu. Setiap hari dia selalu menyelesaikan tugas yang diberikan Bai Jiu dengan sempurna. Tetapi bagaimanapun, dia masih muda, seiring dengan berjalannya waktu, dia tak bisa mempertahankan ritme yang sama.

Di hari pertama salju turun pada tahun ini, aku jahitkan Moxi sebuah mantel baru. Dia amati mantel itu dengan cermat, sepertinya tak tega untuk dia kenakan dan juga tak tega untuk dia simpan. Wajahnya yang memerah membuat hatiku ‘gatal’ sulit untuk dibendung. Namun kemudian aku teringat dia sering merasa malu akhir-akhir ini, sehingga aku tahan keinginanku untuk memeluknya dan berkata: “Kamu berberes lah sendiri, aku akan memasak.”

Tetapi saat aku kembali dengan membawa makanan, aku lihat Moxi tertidur di meja sembari mendekap mantel itu.

Aku membawanya ke kamar dan memberinya selimut, kemudian ku tatap wajahnya yang kini jauh lebih kurus dengan perasaan iba.

Kupikir, dengan mengandalkan kekuatanku, bukan sesuatu yang mustahil untuk terus melindunginya seumur hidup, lalu membantunya melewati Ujian Kehidupannya ‘Mencari Yang Tidak Bisa Dimiliki’ dengan mulus. Tetapi ini adalah kehidupannya, tergantung dirinya sendirilah bagaimana dia ingin menjalaninya.

Aku elus-elus wajahnya sembari berkata dalam hati:

Setelah kau melewati kehidupan ini, apakah jalan kehidupan kita akan berpapasan kembali di kemudian hari? Heibai Wuchang memberitahukan ku bahwa kau marah besar di Alam Arwah….benar-benar seorang dewa yang mengherankan. Aku membantumu melewati Ujian Kehidupan, bukan nya berterimakasih, tapi malah selalu bersikap galak dan jahat kepadaku. Ini namanya membalas kebaikan dengan kejahatan! Air susu dibalas dengan air tuba!

Tetapi, sebagaimanapun buruknya perlakuan Moxi terhadapku, aku tetap tidak bisa memperlukan dia dengan buruk.

Siapa suruh dia menjadi Ujian Asmara nya Sansheng!

Aku menghela napas dengan perlahan, dan melihat dia tertidur pulas, akupun tak tahan menahan rasa kantuk. Tanpa memperdulikan makanan di meja yang mulai dingin, aku bersandar di samping tempat tidur dan mulai terlelap sembari menjaganya tidur.

Aku terbangun oleh rasa gatal di wajahku.

Saat aku membuka mata, aku melihat Moxi sedang menatapku sembari tersenyum. Tangannya masih menggenggam rambutku, dan ujung-ujung rambut menyapu pipiku, membuatku merasa geli.

Sebenarnya aku tidak suka jika ada orang yang menyentuh rambutku, tetapi aku tidak keberatan kalau itu Moxi. Meskipun misalnya aku keberatan, melihat wajahnya yang berseri-seri, amarahku pun langsung menghilang. Aku mengedip-ngedipkan mataku dan bertanya kepadanya: “Moxi, apakah kamu sedang melecehkan Sansheng?”

Dia kemudian mengamati wajahku sembari mengedip-ngedipkan matanya, lalu menatapku dengan curiga, dia tidak mengerti benda apa yang dimaksud dengan ‘melecehkan’. Aku tersenyum jahil padanya, kemudian dengan main-main kugigit telinga nya: “Seperti ini yang dinamakan melecehkan.”

Dia tertegun, lalu dia dekap telinganya, wajah mungilnya memerah.

Sewaktu aku menghela napas sembari merasa heran kenapa anak ini begitu gampangnya merasa malu, mendadak dia muncungkan bibirnya, dan mengecup wajahku tanpa malu-malu.

Kali ini, giliranku yang tercengang.

Lalu dia genggam tanganku, dan dia gunakan jarinya untuk menuliskan di telapak tanganku: “Aku paling suka Sansheng.”

Aku merasakan seketika hatiku meleleh, mengalir dengan air yang hangat, beriak dan bergelombang, menghangatkan seluruh tubuhku.

Ketika aku sadar kembali, tanpa sungkan-sungkan aku kecup kembali wajahnya. Lalu aku segera melepas sepatuku, menarik selimut dan naik ke atas tempat tidur. Aku peluk dia erat-erat: “Hari ini kita tidak usah mengerjakan apa-apa, istirahat yang puas.”

Tetapi, mana ada hal terjadi sebaik ini? Belum lama kami berbaring, tiba-tiba ada yang menarik selimut.

Pembuluh darah di dahi Bai Jiu berkedut hebat, dia melihat ke arah Moxi lalu menatapku tajam. Pada akhirnya dia memejamkan kedua matanya lalu berkata dengan suara yang seperti sedang menahan amarah: “Kenapa kau tidak mengerjakan pekerjaan rumah mu hari ini?”

Moxi melompat dari pelukanku, lalu ia bangun dari tempat tidur dan mengenakan sepatunya dengan tergesa-gesa.

Merasa momen manisku telah diganggu, api amarah dalam hatiku berkobar, tanganku menahan Moxi sembari mataku menatap Bai Jiu: “Kenapa kau harus lari? Kita toh bukan pezina yang sedang tertangkap basah.”

Moxi jelas tidak tahu apa arti dari kata itu, tetapi melihat wajah Bai Jiu yang membiru karena marah, dan menunjuk-nunjuk ke arahku sembari bekata: “Kau, kau, kau….” Moxi hanya tercengang tanpa mampu berkata apa-apa. Bai Jiu julurkan tangannya untuk meraih Moxi, tetapi dengan tenang aku menahan Moxi dan tanganku yang lain menghalangi Bai Jiu untuk menarik Moxi.

Karena tidak berhasil mendapatkan Moxi, wajahnya berubah menjadi lebih tak sedap dipandang lagi.

Aku tersenyum penuh kemenangan, dan berkata dengan angkuh: “Huh! Moxi adalah milikku!”

“Bagaimana kau bisa berbuat bejat kepada seorang anak kecil?”

Aku tak lagi memperdulikan dia, lalu aku usap-usap kepala Moxi dan bertanya: “Kamu masih mau belajar dengan tua bangka yang bobrok ini?” Sebenarnya Bai Jiu terlihat seperti baru berumur sekitar 20 atau 30an tahun, sama sekali tidak cocok disebut sebagai ‘tua bangka yang bobrok’. Tetapi menurutku, pemikirannya yang kolot tidak ada bedanya dengan para tua bangka bobrok yang mengajar di sekolah-sekolah.

Mendengar perkataanku, wajah Bai Jiu berubah warna, mirip warna hati babi. Dia terlihat seperti ingin menyemburkan darah anjing ke wajahku dan menghajarku habis-habisan.

Moxi buru-buru menutup mulutku, jelas dia tidak sependapat dengan perkataanku.

Aku tarik tangannya dan kembali bertanya: “Kamu masih ingin belajar dengannya?”

Moxi menatap ke arah Bai Jiu lalu mengangguk. Dari sudut mataku, aku melirik ke Bai Jiu yang sedang tersenyum licik, wajahnya tampak seperti telah berhasil memperdayai seorang anak kecil; orang picik ini merasa senang.

Untuk sesaat, aku tak mampu mengungkapkan apa yang kurasakan dalam hati. Lalu dengan acuh tak acuh aku berkata: “Baiklah, kalau begitu kamu lanjutkan terus belajar dengannya.” Kemudian aku langsung melangkah keluar kamar, bahkan tanpa sempat mengenakan sepatuku. Aku berlari menuju kedai minum dan tidur di sana semalaman.

Ini adalah pertama kalinya aku tidak pulang ke rumah, dan juga pertama kalinya aku merasa marah dengan Moxi, atau dengan kata lain, perasaan ini sebenarnya lebih seperti cemburu.

Jelas-jelas dia hanyalah seseorang yang aku tolong, yang tak jelas asal usulnya, dan kau hanya bersama-sama dengan orang itu cuma beberapa hari saja! Tapi ternyata si anak bengal itu justru lebih memilih orang luar! Benar-benar…..

Sialan!

Ketika aku menginap di kedai minum malam itu, aku meminta Penjaga Liu dan semua pekerja untuk pulang, lalu semua arak putih (TN: arak putih = bai jiu) yang ada di kedai, aku tuang ke dalam jamban.

The Dewi
The Dewi
"I am so clever that sometimes I don't understand a single word I'm saying"

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

error: Content is protected !!